#PuisiHipwee – Selalu Ada yang Seperti Kita?

Mengapa jauh dalam segaris? Mengapa dekat dalam pelafalan tangis?

Selalu Ada yang Seperti Kita

Advertisement

Tangan yang kebas dan aku yang merasa bebas

Tubuh penuh libas dan kau yang merasa puas

Selalu ada yang seperti kita

Yang menangis dipukul angin

Yang buta dengan peta dingin

Yang hancur serupa bunga rumput di musim hujan

Yang menyahuti Tuhan hanya saat ingin

_ _ _

Selalu ada yang seperti kita

Yang seolah pakar meraba surga

Mengecup kening malaikat yang menolak memetik harpa

Menggugat takdir yang dipilin oleh semesta tak bernama

_ _ _

Hangat menyapu kakiku yang berendam darah

Serupa pelukan seribu nabi yang marah

Masih begini, masih salah langkah

Dan besok aku hanyalah bagian dari humus yang remah

Advertisement

Aksara

Aksara menipu

Dengan maknanya yang lugu

Aksara kurus kering

Dengan sudutnya yang miring

Aksara kemarin

Dengan goresannya yang berdebu

Aksara yang kukenal

Dengan sastranya yang bisu

Advertisement

- – -

Masih rata

Masih sibuk menyurai kata

Masih menolak membentuk frasa

Masih mengguruiku di tempat yang sama

Boleh bertanya?

Mengapa jauh dalam segaris?

Mengapa dekat dalam pelafalan tangis?

- – -

Kita masih belum dewasa

Masih rutin mentolerir dosa

Masih tabu berbicara surga

Tetapi aksara yang kutemui semalam

Sudah mendekapku melalui doa

Aku aman, Katanya

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Perempuan secara fisik tetapi memiliki kepribadian yang kompleks. Hobi membaca dan menulis semenjak sekolah menengah pertama (SMP). Penulis favorit saya adalah Jodi Picoult dan Mira Widjaja

Editor

CLOSE