Menjalani roda kehidupan sehari-hari dan rutinitas yang sepertinya tak pernah selesai terkadang membuat saya (dan mungkin setiap orang dari kita) berpikir bahwa kenapa hidup ini begitu sulit dan banyak sekali masalah yang tak kunjung ada habisnya.

Mulai dari pekerjaan dan masalah yang ada di kampus (bila kamu seorang mahasiswa/i), di sekolah, di tempat kerja , bahkan di rumah pun kita semua akan bertemu dengan yang namanya masalah dan pekerjaan.

Advertisement

Mulai dari tukang gali kubur sampe pejabat tinggi negara, mulai dari anak SD sampe para pakar dan ahli, pasti kesehariannya akan bertemu dengan masalah dan pekerjaan yang menuntut kita untuk menyelesaikannya.

Namun yang pasti masalah dan pekerjaan yang datang di hadapan kita akan selalu berada dalam zona batas kemampuan kita, tidaklah mungkin masalah dan pekerjaan tersebut datang dan berada di luar zona batas kemampuan kita.


Tuhan tidak akan memberikan suatu masalah diluar batas kemampuan hambanya, percayalah


Advertisement

Yups, Tuhan tidak akan memberikan masalah yang diluar batas kita sebagai manusia untuk menyelesaikannya. Tuhan yang menciptakan kita pastilah tahu seberapa kuat kita terhadap tekanan masalah. Ibarat kita seorang pembuat ransel atau backpack, kita pasti tahu takaran dan kemampuan si ransel sihingga ransel tersebut tidak robek apalagi jebol.

Nah, kita pegang dulu prinsip "Tuhan tidak akan memberikan masalah diluar batas kemampuan hambanya", namun seringkali kita melihat atau merasakan sendiri bahwa masalah ini begitu berat bahkan sampai ada orang yang saking frustasinya nekat untuk mengakhiri "game" kehidupannya dengan cara-cara tak layak yang biasa kita kenal "bunuh diri".

Terlintas saat melihat kejadian-kejadian orang-orang yang mengakhiri perjalanan hidupmya dengan bunuh diri, apa yang mereka pikirkan sehingga (mereka) berani mengambil jalan pintas tersebut, padahal sudah jelas janji Tuhan bahwa manusia tidak akan diberikan masalah diluar batas kemampuannya.


Kenapa masih ada yang berpikir pendek untuk menyelesaikan masalahnya padahal janji itu sudah jelas ?????


Mengamati dan merenungi hal ini, sampailah kita (saya dan mungkin kita semua) pada suatu benang merah akar permasalahan, dan permasalahan tersebut ada pada cara pandang kita (mindset bahasa kerennya) terhadap suatu masalah.

Bagaimana cara kita memandang masalah yang kita hadapi dan seberapa kuat keyakinan kita bahwa di setiap kesusahan pasti ada kemudahan dan jawaban dari masalah kita itu bisa datang dari pintu yang tak kita duga duga.

That's it, kita (mungkin) terlalu melihat maslah dari sisi kelamnya pada bukankah dalam suatu gua yang gelap gulita pasti terdapat celah cahaya untuk masuk? Mindset dalam penyelesaian masalah ini lah yang harus diukir setiap harinya sehingga kita mampu mengubah suatu masalah menjadi ajang peng-update-an diri menjadi pribadi yang lebih baik.

Seperi perumpaan seorang penjelajah gua yang terjebak dalam gelap dan pengapnya gua, pasti mereka yakin akan menemukan celah untuk keluar.

Begitu pula kita saat menjalani masalah dalam roda kehidupan kita, berusahalah menjadi seperti sang penjelajah gua dimana si penjelajah selalu yakin ada secercah cahaya dari pori-pori yang bisa menjadi pintu keluar dari gelapnya gua.

Saya percaya saat setiap orang mampu mengalihkan sudut pandang nya dari suatu masalah yang awalnya hanya terlihat sisi kelam yang kemudian dialihkan pada sisi terang, maka hal tersebut bisa menekan angka "bunuh diri" akibat tekanan masalah yang tak kunjung reda.


Sebuah kisah tentang seorang anak manusia yang tertimpa masalah terlilit hutang hingga besarnya hutang tersebut mencapai nominal yang hampir mustahil bisa dilunasi dalam kurun waktu yang singkat. Namun dengan keyakinannya bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya dan Tuhan tidak tidur, Tuhan tau apa kesusahan kita, si anak manusia ini tetap optimis bisa melunasi hutang tersebut. Mendekatkan diri untuk semakin dekat kepada sang Maha kaya dan penguasa langit bumi akhirnya membuat sang anak manusia mampu melunasi hutang tersebut dari jalan yang tak terduga.


Proses habituasi dari pola pikir "berbaik sangka" memang tidaklah semudah kita membalikkan tangan demi meminta sumbangan dari pejalan kaki. Proses ini adalah suatu perjalanan panjang tak instan yang harus dijalani dan diikuti.

Semakin sering saya (anda dan kita semua) menemui masalah, yakinklah hal tersebut akan membuat diri (kita) semakin tajam dan kritis menyikapi suatu maslah. Layaknya pisau yang selulu diasah pastinya pisau tersebut semakin tajam dan semakin efektif untuk memotong dan mengiris material-material yang lebih keras.


Berbaik sangkalah akan semua ketentuan yang ada, niscaya solusi itu ada


So, bersiaplah dan ubah pola pikirmu agar masalahmu berbuah hal yang manis dan bukanlah berbuah penyesalan dan kekecewaan. Baik sangkamu akan membuat kamu lega, kamu tidak percaya? Silahkan coba.


Berbaik sangka akan membuat perasaan lega didalam hati. Tak percaya? Silahkan coba !!!


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya