Quarter Life Crisis, Saat Kita Bernostalgia dengan Masa Sekolah dan Mulai Menolak Tua

Sebenarnya suasana hati sedang tak menentu, boro-boro memotivasi orang lain, rasanya diri ini yang perlu dimotivasi. Seperti ada yang mengganjal entah apa itu. Mungkin kalau kata orang-orang quarter life crisis. Saat di mana kita bingung, khawatir, dan gelisah terhadap masa yang akan datang.

Advertisement

Ahhh, tapi itu hanya nama keren saja dari orang-orang yang sedang merasa galau di usia menuju akhir 20an. Orang-orang yang dibilang muda sudah tidak terlalu, tapi dibilang tua hampir-hampirlah. Menjadi tua memang tidak mudah, banyak beban dan ekspektasi yang saling beradu membuat hati dan pikiran menjadi berantakan, lalu lahirlah galau dan sendu, makanya banyak orang menolak tua.

Karir, cinta, keluarga, timbangan, penggaris, penghapus dan masih banyak lagi yang memenuhi isi kepala, membuat kita lebih senang membayangkan masa-masa sekolah di mana rasanya beban belajar lebih ringan dan menyenangkan dibanding mikirin hal-hal di masa depan.

Kita mulai bernostalgia dengan asiknya jam pelajaran kosong, serunya ketika bel jam istirahat berbunyi, dan indahnya pulang cepat karena ada rapat guru. Belum lagi jam olahraga yang sama sekali nggak kerasa, tiba-tiba udah selesai aja. Padahal kalau kita masuk lagi ke zaman itu, pasti masih tetep pusing sama pelajaran matematika yang kalau pas dijelasin gampangnya bukan main tapi pas ujian soalnya seperti dibuat profesor.

Advertisement

Belum lagi guru-guru killer yang dengerin suara langkah kakinya aja udah bikin jantung dag dig dug dan keringat keluar gak karuan, padahal di luar lagi hujan deras dan udaranya dingin banget. Atau berbagai hal unik lainnya di sekolah kita masing-masing. Memang setiap masa punya tantangannya sendiri ya.

Sekarang, kalau ketemu teman-teman yang usianya jauh lebih muda, masih di angka belasan, membuat minder sendiri. Sedangkan kita sudah mau atau bahkan sudah kepala tiga. Pas lagi di tengah obrolan dengan mereka, tiba-tiba di dalam kepala ada yang ngomong “gila nih anak-anak muda bener, keren-keren lagi,” lalu hati melanjutkan “udah mau kepala tiga nih, udah ada pencapaian apa aja? Ada yang bisa dibanggain?” ditutup dengan mata yang kicep-kicep lalu mulut yang menguap untuk lari dari kegelisahan tadi.

Eitsss, tidak berhenti di situ dong. Lalu kalau kita reunian, ketemu teman-teman seangkatan di sekolah dulu. Mulai deh dalam hati membandingkan apa yang dia punya dan apa yang saya punya. Di mulut sih pasti semua saling mengapresiasi dan memuji satu sama lain, tapi kalau di hati? Ada yang minder, ada yang kesal, mungkin iri, atau malah sombong karena lebih dari yang lainnya. Yaaa namanya juga manusia.

Memang kita harus terus berusaha lebih baik lagi setiap harinya, tetapi setiap orang punya lintasan larinya masing-masing. Akan sangat melelahkan kalau kita terus membandingkan diri dengan orang lain. Karena akan selalu ada yang lebih sukses, akan selalu ada yang lebih muda, lebih keren, dan lebih-lebih lainnya dari kita. Sekali lagi, itu semua terjadi karena lintasan larinya masing-masing, zona waktunya masing-masing.

Sesekali kita juga perlu berkata dalam hati, atau mungkin berteriak kepada diri sendiri, “kamu sudah bekerja keras hari ini, nggak perlu dipaksakan kok, yuk kita nikmati dulu saat ini.”

Capek ya? Istirahat dulu nggak apa-apa kok. Hari ini cukup hebat bisa sampai di tahap ini, besok dicoba lagi ya!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penulis yang mengubah rasa menjadi cerita.

CLOSE