Hai, kalian yang pernah menjadi orang terdekatku! Masih ingatkah denganku yang sedang perlahan mundur meninggalkan kalian? Aku harap tak usah. Aku juga berharap tak perlu. Karena, aku yakin tak ada berharap. Hai, kalian yang selalu kuanggap saudaraku! Masih ingatkah dengan cacianku? Masihkah menginginkan menyeduh kopi dan mengelilingi malam bersamaku? Atau menginap dan bercerita sampah hingga pagi menjelang? Kurasa tidak.

Hai, kalian yang sedang berjuang untuk diri kalian! Masihkah mengharapkanku kembali? Aku merasa bodoh larut dalam kelalaian dan akhirnya meninggalkan kalian. Kalian yang selalu mengingatkanku. Kalian yang terkadang berganti peran dengan ibuku menasihatiku. Kalian yang terkadang bergandengan dengan ayahku memberikan pelukan hangat saat jatuh. Tapi, saat itu aku bodoh. Aku tak menganggap kalian ada. Hingga akhirnya aku masuk dalam kesendirian. Menanti datangnya fajar, bermain bersama awan, menangis dalam kesendirian, mengumpat dan mendendam. Aku butuh kalian tapi masih saja aku bertopeng aku tak ingat siapa kamu.

Advertisement

Sahabat, ahh kelu lidahku mengucap kata sahabat. Aku tak pantas dicintai layaknya sahabat. Aku juga tak layak disandingkan dengan sahabat kalian semua. Dengan cacianku, aku selalu mencoba menyembunyikan rinduku. Dengan cacianku, ku coba sembunyikan perhatianku. Aku merindukan kalian. Andai kalian baca dan lihat ini.


Anggaplah aku si bodoh yang malang sedang merindukan durian runtuh jatuh pada saat ku meminta. Tetaplah jadi perempuan hebat saudaraku, sahabatku!


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya