Kamu menceritakan padaku tentang kisah masa lalumu yang kelabu. Saat itu aku hanya ingin membuatmu melupakan kesedihanmu. Kamu terlihat sangat sedih ketika kamu mengingat kenangan masa lalu.

Aku menahan diri untuk tidak cemburu. Aku menikmati setiap ceritamu. Kamu begitu mencintainya, bahkan memaksa dirimu untuk menjadi seseorang yang baik. Menekan egomu setiap bersamanya.

Sejak mengetahui hal itu, aku mencoba memasuki hidupmu. Ingin tahu tentang duniamu. Mencoba mendekatimu secara perlahan. Aku berpikir sendiri, bisakah kehadiranku mengobati lukamu.

Aku tahu dan sangat menyadari bahwa cinta pertamamu akan selamanya tertanam dalam hatimu. Bahwa masa lalumu selalu menghantui meskipun engkau berusaha melupakannya.

Namun saat bersamaku, lukamu belum sembuh. Aku menyadari kamu bukan sosok yang sama ketika bersama pasanganmu dulu. Kamu menjadi dirimu sendiri, tetapi melukaiku secara perlahan. Kamu tidak percaya pada hati.

Kamu hanya menikmati kegilaan seseorang yang mencintaimu. Kegelisahanku selama mencintaimu mendekati ujungnya. Kamu meninggalkanku dengan cerita sedihmu. Kenangan itu sangat melekat di kepalaku sampai kapan pun. Pertanyaan besar muncul di kepalaku,

"Bagaimana kamu mengingatku sebagai masa lalu?"

Bukan pertemuan aku dan kamu yang harus disalahkan, tetapi perasaan yang muncul dalam waktu bersamaan. Perpisahan ini seperti ramalan awal yang sudah kutebak. Kesepian ini adalah perasaan yang terus tertanam hingga memuncak. Meratapi keadaan bukan gayaku, tetapi melihatmu memilih orang lain cukup menikam hatiku.

Hancur lebur perasaan kuciptakan sendiri. Bagaimana kamu tetap bahagia dan aku hanya seorang saja menikmati semuanya. Ini kekalahan paling bodoh dalam hidupku. Keegoisan selalu menuntunku untuk menahanmu berulang kali. Mencoba meskipun ku tahu akan gagal lagi.

Akhir yang cukup manis untukmu, tetapi cukup pahit untukku. Hei, kamu akan baik-baik saja! Kamu akan sama seperti dahulu. Namun, sampai nanti kamu akan mengingat bagaimana perasaanku saat ini. Jangan menyesal, aku tidak akan kembali. Aku tidak akan mengingatmu lagi. Dunia akan sangat adil. Tuhan pun akan menenangkanku dalam dekapan-Nya. Kamu? Selamat menikmati dosa-dosamu saat bersamaku.

Aku akan menjadi lebih baik setiap hari mengobati sendiri perasaan yang kuciptakan saat bersamamu. Aku akan mengingatkan diri sendiri bagaimana perihnya berharap pada manusia. Bagaimana rasanya ditinggalkan saat semua usaha kukerahkan untuk bersama. Perjalanan melelahkan ini harus berhenti sekarang.

Selamat tinggal kisah pahit yang sangat sempurna. Doaku semoga engkau selalu baik-baik saja saat bersamanya. Jadilah bahagia meskipun kutahu bahagia hanya terdapat dalam dongeng tak bernyawa.

(Sebuah kisah yang kutulis berdasarkan cerita Faisal Hafifi)

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya