Ingatkah kau dengan cerita kesukaanku: Inggit dan Soekarno?
Sejujurnya, aku takut kisah ini akan bermuara seperti mereka berdua. Sungguh, aku tak menginginkannya.

Panjang. Telah panjang kisah yang kita lalui bersama. Bermula dari perjuanganmu di tanah rantau ini yang akhirnya membawamu bertemu denganku. Hangat, begitu deskripsimu tentangku. Kau selalu pulang kepadaku saat badai menerjang lautmu. Dan aku, selalu menyediakan selimut dan kopi panas kesukaanmu saat kau pulang dengan luka yang menganga atau saat kepalamu terasa sesak.

Advertisement

Kita bermimpi bersama, tinggi sekali. Mimpi-mimpi yang tak bisa kau bangun bersama gadis seberang lautanmu. Hingga aku akhirnya tersesat. Aku mencintaimu, dan kamu entahlah. Aku tak pernah tahu. Kau hanya tak ingin aku pergi, begitu kan?

Perihal gadis seberang lautanmu.
Kalian tak mampu bertumbuh bersama. Itulah rintangan terberat yang harus kalian lewati di hubungan jarak jauh.
Kau tak bisa berdebat dengan gadismu, seperti debat kita di depan secangkir kopi malam-malam itu. Kita berdebat apapun dan berakhir dengan saling ngambek dan tertawa lagi.

Kau tak bisa membicarakan buku-buku yang baru kau baca pada gadismu. Dia tak menyukai buku katamu. Sedangkan denganku, bahkan aku sangat bahagia menerima buku tentang nenek moyangmu kala itu. Wajarlah, kalian tidak bertumbuh dalam lingkungan yang sama. Dan duniamu sedang terbolak-balik kan?

Advertisement

Kisah kalian telah berakhir.
Seingatku sudah dua kali kau meyakinkanku perihal itu. Iya, aku paham. Sekalipun kau bilang tak mencintainya sedari awal, aku harus meredam perasaanku tiap kali melihatmu terluka mengenang dia.

Bagaimana mungkin kau tak mencintainya jika membuang fotonya di dompet saja kau tak mampu? Ini bukan pertama kalinya aku harus meredam perasaanku kan? Masih kuingat jelas malam itu saat wajah manisnya muncul di panggilan teleponmu.
Pun gadis manis lain yang menawarkan hatinya padamu.

Sudah berapa kali harus kuredam perasaanmu saat melihat kalian bersama. Sekalipun kau meyakinkanku bahwa kalian hanya berteman namun terlalu berlebihan kah jika kuminta kau berhenti memberinya harapan?

Ya, sudah berulang kali hatiku patah.
Namun mendengarmu merapal mantra mimpi, selalu membuatku menganggukan kepala untuk tawaran menemanimu.
Kamu, lelaning jagadku. Begitu sebutan yang diberikan Inggit untuk Soekarno yang memiliki daya juang tinggi.

Kita pernah bermimpi melanjutkan pendidikan ke salah satu negara di benua biru.
Dan kala kuceritakan padamu universitas tujuanku, tak berselang lama, kau tulis di media sosialmu bahwa kau ingin ke sana juga.

Hey, masih tak mau mengakui bahwa kau mengikutiku? Haha aku tertawa dalam hati.
Melihat keinginan kuatmu kesana, aku hanya bisa berlapang dada seandainya tiba-tiba merpatiku terbang.
Aku begitu bahagia melihatmu bermimpi setinggi itu. Iya, akan kutemani.

Aku tak pernah tahu bagaimana perasaanmu sesungguhnya padaku. Yang kutahu, aku mau menemanimu melewati semua ini.
Aku mau menemanimu membangun mimpi-mimpimu karena mimpi kita sejalan. Kan kubangun sekalian mimpiku karena kamu selalu menunjukkan jalan saat semua terasa menyesakkan bagiku.
Maafkan aku yang sering termakan api cemburu, sekalipun kau bukan siapa-siapaku.

Tapi, setiap kali kau yakinkanku bahwa asumsi salah, aku selalu membuka hati lagi.
Seandainya semesta tak mengizinkanku bersamamu di benua biru, kuyakin kau akan mengenangku sebagai 'perjuangan', seperti katamu malam itu.

Jadi, mari kita tapaki jalan ini bersama. Kau hanya harus membesarkan sabarmu tiap kali aku merengek cemburu.
Dan jika aku ingin pergi lagi, bujuk aku seperti biasanya.
Kau tahu akhir kisah Inggit dan Soekarno? Begini kata Inggit:

"Namun, pada suatu saat, setelah aku mengantarkannya sampai di gerbang apa yang jadi cita-citanya, berpisahlah kami, karena aku berpegang pada sesuatu yang berbenturan dengan keinginannya. Ia pun melanjutkan perjuangannya seperti yang tetap aku doakan. Aku tidak pernah berhenti mendoakannya"

Sungguh, sejujurnya aku takut berakhir seperti itu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya