Dahulu aku terbiasa mengucapkan kata rindu padahal baru saja bertemu, entah betapa menyenangkannya memiliki rasa yang dapat aku ungkapkan pada orang yang tepat tanpa harus malu bahkan bersembunyi. Sebagian orang mengatakan bahwa rindu itu berat. Ya, memang aku akui itu. Tapi terkadang rindu akan membuat kupu-kupu berterbangan di dalam tubuhku, degup jantung yang rasanya tidak karuan dan terkadang senyum yang tiba-tiba mengembang ketika akan bertemu denganmu.

Entah bagaimana cara mendesripsikan rindu, tapi menurutku rindu adalah perasaan yang hadir ketika seseorang tersebut tidak berada di depan mata, tidak menatap matanya, melihat lengkungan senyumnya atau bahkan harum perfume-nya. Jika ditanya bagaimana rasa rindu itu menyusup dalam pori-pori tubuh, tanyakan pada angin yang kala itu tengah berhembus ketika kamu mengantarkan aku pulang sebelum kamu benar-benar hilang dari pandangan.

Advertisement


Tapi itu dulu, sebelum aku kehilangan penyebab dan tempat aku mengembalikan rindu.


Rasanya kali ini rindu bagai hal yang tabu, untuk mengungkapkannya aku harus menyelipkan setiap hurufnya di dalam setiap tulisan yang ku buat atau aku siratkan dari tatapan mataku di foto yang aku sengaja pajang di sosial media. Rindu yang dulu bagai hal yang aku dambakan kini menjadi hal yang paling aku hindari, terlebih tidak ada tempat lagi untuk mengembalikannya karena tempat yang sebelumnya bukan lagi tempatku untuk mengembalikkan rindu . Rindu itu memang tidak sesering dahulu, tapi muncul tiba-tiba karena melihat beberapa hal tentangmu.

Seperti terhipnotis seketika. Saat melihat namamu, aku jadi mengingat nama-nama jalan yang sering kita lewati bersama yang seakan menjadi saksi bagaimana aku dapat tersenyum dan tertawa sangat lebar bersamamu. Dan ketika melihat fotomu, aku seketika mengingat kata-kata cinta yang sering diucapkan olehmu tepat di hadapanku.

Advertisement

Kini merindukanmu tidak semudah dulu, rindu yang hanya tinggal mengungkapkannya tanpa malu kini menjadi kerancuan untukku. Karena tempat rinduku kembali bukan kamu, walaupun masih saja menjadi penyebab rindu ini hadir. Tapi tidak bisa aku pungkiri bahwa rindu pada saat tidak memiliki tempat kembali begitu menyakitkan, rinduku mencari tempat untuk kembali kepada penyebabnya. Tapi rasanya rinduku ini tahu diri untuk tidak pergi, dan memilih mendekap sendiri.


Sebab apa yang akan kamu pikirkan jika rindu ini sampai padamu yang sudah tidak memiliki perasaan lagi? Bukankah akan lebih menyakitkan jika tidak sesuai dengan yang diharapkan ?


Jadi mungkin aku akan tetap diam-diam menyimpan rindu, yang satu persatunya aku kirimkan lewat doa yang terpanjatkan untukmu. Aku akan mencoba menghilangkan mantra rindu yang melekat pada setiap hal tantangmu sedikit demi sedikit, berharap aku akan biasa saja kelak jika aku dipertemukan kembali denganmu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya