“Khairunnas anfa’uhum linnas”, kalimat ini tentunya bukan sekadar kalimat bagi seorang pemuda asal Bengkulu ini, Andri Efriadi. Sejak lolos SMA, Andri memang memiliki cita-cita yang sangat sederhana, yaitu menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain.


Menurut Andri, menjadi insan yang bermanfaat bagi orang lain tentunya sederhana dan mudah untuk dilakoni. Baginya, esensi dari beragam profesi yang digeluti adalah agar seseorang dapat menorehkan manfaat bagi orang lain dan lingkungannya. Berangkat dari pola pikir yang demikian, Andri pun bertekad untuk melanjutkan studi Bimbingan Penyuluhan Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Bermodalkan tekad dan semangat yang tiada henti, ia berhasil menamatkan kuliahnya dengan banyak pencapaian. Kegigihannya berbuah manis dan membuktikan bahwa kesuksesan bisa ia dapatkan walau hanya bermodal semangat dan kemauan serta tekad yang kuat.

Namun, pencapaian Andri di dunia akademik tidak membuatnya lupa diri. Ia merasa bahwa dirinya masih banyak ‘kurangnya”. Ia pun senantiasa berusaha berjuang untuk memperbaiki kualitas diri. Andri pun kembali menuntut ilmu di lingkungan non formal. Ia kembali berusaha mengembangkan potensi diri dengan menuntut ilmu di salah satu Pondok Pesantren di Kota Yogyakarta. Ia pun belajar dan terus menimba ilmu di sana hingga akhirnya diberi Allah SWT kesempatan untuk membantu mengurus sebuah Panti Asuhan di Kota nan istimewa tersebut. Perlahan Ia pun mulai tertarik untuk mengurus Panti Asuhan dan Pondok Pesantren.

Nuansa ini menyeretnya pada dunia baru dengan penuh cahaya yang gemilang. Baginya, mendirikan panti asuhan merupakan suatu kesempatan strategis untuk menjadi insan yang berbakti kepada Allah SWT sekaligus bermanfaat bagi sesama.

Advertisement

Ketertarikan Andri di dunia pesantren membuatnya berpikir keras agar segera memiliki pondok pesantren sendiri. Ia pun sangat antusias agar dapat membantu dan menorehkan kontribusi terhadap keberlangsungan pendidikan bangsa ini. Ia bertekad agar bisa menyekolahkan anak negeri yang belum diberi kesempatan untuk lanjut sekolah karena berbagai faktor finansial. Baginya, pendidikan dan agama merupakan tahta terpenting yang harus dimiliki oleh umat. Pendidikan tanpa agama ibarat dunia tanpa cahaya, begitu juga sebaliknya. Kedua aspek tersebut adalah elemen penting yang harus melekat pada setiap insan.

Lebih jauh, bermodalkan keinginan yang sangat tulus dan kuat tersebut. Pada akhirnya Andri pun berhasil mendirikan beberapa Pondok Pesantren dan Panti Asuhan di kota yang terkenal dengan kekhasan budayanya tersebut. Saat ini, ia pun telah memiliki Pondok Pesantren tersendiri yang menaungi enam panti asuhan, yang terdiri atas tiga panti asuhan untuk putra dan sisanya khusus ditempati oleh santri putri. Berkat perjuangan panjang yang ia tempuh, akhirnya saat ini ia pun berhasil menyekolahkan 204 Pelajar di Kota Yogyakarta, mulai dari siswa SD, SMP, SMA/MA, dan bahkan berkat kegigihannya dan bantuan dari para donator ia berhasil menguliahkan beberapa mahasiswa kurang mampu di berbagai kampus ternama seperti Universitas Negeri Yogyakarta, UIN Sunan Kalijaga, dan STMIK El Rahma Yogyakarta.

Di samping itu, Andri juga tidak hanya disibukkan dengan rutinitas di Ponpes yang ia kelola, melainkan juga berperan aktif memberikan sumbangsih untuk kemajuan pendidikan di Negeri ini. Saat ini ia juga tercatat sebagai guru yang aktif dan berprestasi di MAN 4 Bantul. Kebiasaan dan kepiawaiannya dalam mengurusi dan meotivasi anak-anak mengantarkannya menjadi sosok guru inspiratif di MAN 4 Bantul yang kemudian dinominasikan sebagai guru inspiratif tingkat DIY versi Warda Inspiring Teacher 2017.

Semua anak asuh yang tinggal di ponpes yang ia kelola tak lupa senantiasa dibekalinya dengan ilmu duniawi terkait pelajaran sekolah serta ilmu kewirausahaan. Santri yang ia bina mendapat bimbingan secara teoritis dan praktis tentang kewirausahaan. Alhasil, di samping berbagai bantuan dari para donator, saat ini santrinya pun dilatih agar hidup lebih mandiri dengan membiasakannya berwirausaha sebagai bekal untuk menghadapi hari esok. Para santri pun mulai berlaku produktif yakni dengan cara memproduksi makanan ringan seperti donat dan makanan ringan lainnya.

Hasil kreativitas santri pun mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Namun, suatu perjuangan tentunya membutuhkan banyak pengorbanan. Begitu juga halnya dengan apa yang ia rasakan. Untuk mencapai puncak ini, ia pun melewati proses panjang nan melelahkan. Konsistensi dan sikap komitmen untuk menebar kebaikan dan kebermanfaatan tentunya hal penting yang harus dimiliki. Kerap kali ia menemui banyak kegagalan, tantangan, cemoohan, dan sikap meremehkan, namun hal tersebut tidak membuatnya patah semangat untuk menggapai mimpi-mimpi tersebut.