Meski Saat Ini Masih Ada Sisa-Sisa Kekecewaan, tapi Aku Sudah Mulai Mampu Menghapus Segala Kenangan

mulai menghapus rasa sakit hati

Enam bulan telah berlalu sejak aku menghapus kontakmu, memblokir nomormu, menghapus foto-foto bersama kita, dan berusaha menghilangkan semua kenangan tentangmu. Meski saat ini masih ada sisa-sia kekecewaan dan patah hati, tapi aku sudah mulai mampu menghapus perasaanku padamu. Kurasa tiga tahun bukan waktu yang singkat untuk menjelaskan hubungan kita. Namun dirimu yang membuat hubungan kita tak pernah pasti. Tidak yakin dan selalu ragu-ragu.

Advertisement

Sampai akhirnya, di tengah hubungan kita yang mengambang, kamu justru memantapkan hatimu untuk kembali pada perempuan dari masa lalumu. Mencampakkanku tanpa penjelasan, tanpa perpisahan. Seolah kita tak pernah punya cerita. Lalu kau anggap apa kedekatan kita selama tiga tahun belakangan ini?

Aku sendiri pun tidak pernah menyangka akan menambatkan hatiku padamu. Bisa dibilang penampilanmu biasa saja. Tetapi aku suka bagaimana caramu memandangku dalam diam, tidak menyela saat aku bercerita, dan tingkahmu yang tidak neko-neko terhadapku. Meski begitu, sikapmu tidak mampu menyelamatkanku dari luka patah hati. Ingatanku kembali memutar kenangan kita pada awal perkenalan.

Kita dipertemukan dalam sebuah tugas berkelompok yang mengharuskan kita saling berinteraksi. Lalu kita saling bertukar pesan, membahas rancangan tugas hingga berujung saling melempar kode-kode perasaan. Kita jadi semakin dekat. Pernah suatu waktu kau menawariku pulang bersama. Rasanya sudah menjadi rahasia umum jika salah seorang dari dua insan lawan jenis mengajak pulang atau berangkat bersama, menandakan ia ingin menjalin suatu hubungan. Tidak hanya menawarkan boncengan, tapi juga menawarkan sebuah perasaan.

Advertisement

“Kok tumben ngajak aku pulang bareng. Ada apa?” tanyaku di sela perjalanan.

“Rumah kita kan, searah. Sekalian.” Begitu katamu. Aku hanya mengangguk memaklumi alasannya. Setelah beberapa waktu didera keheningan, kau tiba-tiba berceletuk, “Sebenarnya sih, ada alasan lain soal kenapa aku ngajak kamu pulang bareng.” Saat kutanya mengapa, kamu tidak pernah menjawab. 

Advertisement

Hubungan manis yang kita jalani seketika merenggang ketika kudapati kau mengunggah foto bersama dengan seorang perempuan di sosial mediamu. Ya, dialah si gadis masa lalumu. Padahal beberapa hari kemarin kita sempat bertukar pesan romantis. Berikutnya kita tak saling bicara atau mengirim pesan. Berpapasan pun kita melengos. Aku menunggu kau menghampiriku dan menjelaskan semuanya, tapi kau tidak pernah datang. Aku sendiri begitu takut meminta penjelasan darimu. Teringat kedekatan kita yang tak terikat status apa-apa.

Bulan-bulan yang kita lalui semakin dingin. Lalu muncul sebuah pesan darimu. Kau berkata minta maaf, namun kau tidak sungguh-sungguh mengerti untuk apa kau meminta maaf. “Dia cuma masa laluku. Aku sudah tidak punya rasa untuknya, karena kini aku sedang bersamamu.” Sepenggal kalimat dari berderet penjelasanmu. Rasa percayaku pun mulai kembali. Berikutnya hubungan kita kembali dekat dan berjalan manis. Kita melakukan hal-hal yang lumrahnya dilakukan orang lain saat ‘pedekate’. Rasanya menyenangkan.

Semua orang mengira kita telah menjalin hubungan spesial. Setiap ada yang bertanya soal kedekatan kita, aku dan kamu hanya membalas dengan gurauan. Aku mulai bosan menanti. Lalu kita sepakat untuk memberi kesempatan agar saling mengenal lebih dalam lagi. Bukannya makin dekat, malah makin menjauh. Sebelum masa yang kita tentukan berakhir, aku menemuimu, hendak memberi kepastian.

“Aku mau menjawab soal tawaranmu waktu itu.” Kataku hati-hati. Berusaha menenangkan degup jantungku yang sudah tidak karuan. Aku gugup. Kau salah tingkah sambil tersenyum malu-malu. Sayang sekali jawabanku bertolak belakang dengan apa yang kau pikirkan. Aku menjawab 'tidak'. Masih kuingat jelas senyumanmu yang langsung hilang, terganti dengan sorot kecewa. Hening. Tidak ada kau yang bertanya 'mengapa'. Tidak ada aku yang menjawab 'karena'.

Aku tahu aku egois. Aku ingin kepastian darimu, tapi ketika kau menawariku suatu hubungan, aku menolak. Aku hanya terlalu takut terikat dengan orang lain. Ah, sudahlah bagaimanapun sepertinya alasanku tidak dapat diterima. Bulan-bulan telah berlalu. Dan kita kembali dekat, lagi. Semua orang mengira kita sudah menjalin hubungan, lagi.

Ya, kuakui aku memang masih menyimpan rasa padamu. Perlakuanmu yang semakin manis membuatku kembali terlena. Puncaknya saat kau berulang tahun. Aku memberimu secarik kertas sebagai hadiah. Kartu permohonan. Kau boleh meminta apapun dan aku akan mengabulkannya. Astaga, yang benar saja! Mau-maunya diperbudak perasaan. Kini aku menyadari kalau tingkahku sangat konyol.

Kupikir dengan aku memberi kartu tersebut hal baik akan menyambut hubungan kita. Tapi aku keliru. Tak berselang lama, kau keluar dengan gadis masa lalumu. Hanya berdua. Dan tampaknya begitu romantis. Kejadian yang dulu pernah terjadi, kau ulangi kembali. Seperti waktu dulu juga, kau tidak menjelaskan apa-apa padaku. Saling mendiamkan. Melengos jika berpapasan. Bahkan dengan asyiknya kau bercerita pada teman-temanmu mengenai momen indah bersama gadis itu.

Apa kau pikir aku tidak punya perasaan? Jelas kau tahu kalau aku menaruh hati padamu. Tapi kau seolah mempermainkanku. Ah, bukankah aku juga pernah mempermainkanmu. Baiklah kita saling mempermainkan perasaan satu sama lain.

Namun, aku masih tidak terima atas perlakuanmu. Aku pun sangat muak melihat teman-teman yang sudah mengetahui hubungan kalian, namun masih tetap menggodaku. Menyinggung hubungan kita. Seolah-olah di posisi ini, aku terlihat begitu mengharapkanmu. Aku jadi tampak menyedihkan.

Aku benar-benar sakit hati dan tidak terima. Baiklah kalau itu maumu, aku akan lepas. Toh, kau tidak keberatan dengan kepergianku. Sudah cukup aku dibodohi dua kali. Memang pada awalnya tidak mudah untuk merelakanmu. Tapi aku yakin suatu saat aku akan mendapat pengganti dirimu yang lebih baik.

Kalau kebetulan kau membaca tulisanku, kuucapkan selamat atas hubungan kalian. Bersenang-senanglah dengannya. Kalau perlu tunjukkan pula tulisanku padanya, haha. Aku tidak masalah. Lagipula rasaku sudah kadaluwarsa. Aku menulis kisah kita dan tidak ada lagi perasaan susah, apalah itu. Kini aku bebas :)

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

une femme libre

CLOSE