Kamu Merasa Sulit Mencari Jodoh di Usia 20-an? Tenang, Kamu Nggak Sendirian

kesulitan yang dialami oleh bebrapa orang yang sudah mencapai usia 20 an


Kenapa belum memiliki pasangan? Kapan menikah?


Advertisement

Pertanyan yang sangat simple. Well, Belum waktunya. Itu merupakan jawaban yang sering diutarakan jika ditanya perihal jodoh. Tetapi mau sampai kapan jika begitu begitu saja. Padahal dulu saat remaja yang namanya perihal cinta itu bisa membuat sakit kepala. Yang namanya sakit hati dan putuh udah seperti menu yang selalu dinikmati, yang mana jika putus cinta hari ini, bulan depan sudah memiliki gebatan baru. Ya wajar si dulu mah yang namanya cintah mah definisinya kenalan sekedar menyapa hai, diajak ngobrol nyambung, dan tiba-tiba sebegitu mudah mengutara jadian yuk!

Tetapi memasuki usia 20-an yang namanya mencari jodoh jauh lebih sulit dari pada mencari jarum ditumpukan jerami. Dan tanpa disadari kamu mungkin sudah menjomblo berbulan-bulan bahkan mungkin ada yang sudah bertahun-tahun karena tak kunjung menemukan sosok yang kamu idamkan selama ini. Mungkin sekarang kumpulan logaritma lebih mudah ketimbang persoalan asrama. Sangat Ironis memang, semakin bertambahnya usia kamu lebih nyaman dengan kesendirian. Mungkin di usia 20-an kamu mangerti apa yang kamu inginkan. Persoalan pasangan sudah tidak mau sembarangan lagi yang mana saat remaja atau SMA dimana saat kita bertemu dengan seseorang yang nyambung diajak ngobrol dan bisa diajak jalan dan mungkin yang bisa selalu bisa antar jemput dan setia (bagi cewek) kenapa tidak jadian saja? 

Begitu mudah untuk mengutarakan isi hati. Namun sekarang kamu mungkin sudah mulai memahami dirimu sendiri dan apa yang kamu inginkan. Persoalan asmara bukan hanya soal nyambung diajak ngobrol dan bisa diajak jalan kesana kemari. Tetapi bagaimana cara saling memahami dan menurunkan ego untuk menjalin hubungan ke depannya. Semakin bertambahnya usia, bukannya lingkunganmu seharusnya semakin besar, namun kenyatanya lingkungan semakin menyempit. Dan sulit untuk mengenal orang baru karena yang kamu temui memang itu-itu saja dengan menyabotase diri sendiri.

Advertisement

Menurut pisikologi Melanie Schilling, menyabotase diri sendiri dapat diartikan sebagai menutup peluang untuk bertemu atau interaksi social dengan orang baru. Namun sering kali ketika seseorang secara emosional terluka di masa lalu, wajar untuk melindungi diri. Tetapi ada perbedaan antara sikap skeptis secara sehat dan merusak kebahagian sendiri. Seperti jika kamu bertemu dengan orang baru pasti sering terlintas pikiran nanti diselingkuhin dan lain-lain itu yang membuat kita enggan memikirkan tentang persoalan asmara. Mungkin belum siap mennjalin hubungan jika masih memegang kayakinan ini.

Lalu bagaimana?

Advertisement


Mungkin ini klise, Schilling percaya banyak manfaat untuk belajar mencintai diri sendiri sebelum kamu mencintai orang lain.


Setiap orang mengalami proses pendewasan. Mencari pasangan bukan lagi hal yang hanya butuh waktu PDKT satu atau dua bulan lalu bisa jadian. Nikmati proses pendewasaanmu. Semoga tahun ini bertemu.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE