Suka Baca Buku Nggak Melulu Dijuluki Cupu Kok! Mempertajam Literasi Justru Lebih Baik Loh~

Jangan berhenti dan masih berpikiran ragu kalau membaca itu tidak memberikan manfaat

Kalian pasti familiar dengan adegan sinetron tentang anak sekolahan yang salah satu tokohnya dianggap cupu dengan gaya yang khas, berkacamata, berdandan tidak modis, dan yang terpenting selalu membawa buku kemana-mana kan?

Julukan tersebut rasanya melekat kuat pada ingatan penonton yang kebanyakan juga merupakan usia anak sekolahan. Mereka mengadopsi julukan tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari mereka jika teman sepantaranya sama persis seperti tokoh culun di sinetron. Sehingga seseorang yang gemar membaca kadang diidentikkan dengan julukan si kutu buku dan cupu.

Fenomena dalam sinetron tersebut nyatanya seakan merepresentasikan realita sebenarnya yang terjadi di Indonesia. Jumlah tokoh dalam sinetron yang hobi membaca dapat dihitung dengan jari jika dibanding dengan jumlah tokoh lainnya. Pada tahun 2019 survey yang dilakukan oleh UNESCO menempatkan Indonesia pada posisi 60 dari 61 negara di dunia pada level literasi baca.

Tentu hal ini bukanlah sebuah prestasi yang membanggakan bagi Indonesia yang menduduki peringkat ke-4 dengan jumlah populasi terbanyak di dunia. Jumlah penduduk yang besar tidak menjamin tingkat literasi penduduknya juga tinggi. Padahal tingkat literasi dapat menunjukkan maju atau tidaknya sebuah negara. Karena literasi tidak dapat dipisahkan dari praktek kemajuan pendidikan sebuah negara.

Padahal nyatanya kebiasaan membaca seseorang tidak lantas membuat ia harus dilekatkan dengan julukan ‘cupu’. BJ Habibie dari semasa kecilnya juga gemar membaca, jadi apakah tokoh bangsa tersebut juga mendapatkan julukan ‘cupu’?

Bahkan lewat kegemarannya membaca buku itulah ia menjadi pintar dan menjadi ilmuwan yang menemukan teori “Crack Progression” yang menjadi salah satu sumbangsih besar pada teknologi pesawat terbang dunia.

See? Lewat buku, kamu bisa menemukan informasi yang berdampak positif pada diri sendiri. Dengan membaca, kamu dapat melatih otak untuk mampu berpikir dari berbagai sudut pandang, hal tersebut sangat berguna bagi kamu ketika diharuskan berpikir kritis dan bijak.

Jangan merasa minder jika bacaanmu tidak serumit orang lain yang mendalami seperti misalnya buku-buku sastra yang kalimatnya terkadang sulit untuk dipahami. Kamu berhak membuat dirimu cerdas dengan caramu sendiri. Asal cara tersebut merupakan cara yang benar.

Setidaknya mulailah dengan mempertanyakan diri sendiri jenis buku apa yang diminati. Berjalannya waktu, mulailah mencoba untuk meningkatkan jenis buku bacaanmu ke tahapan yang lebih tinggi.

Jangan takut kepada orang-orang yang menjulukimu gak keren karena bacaanmu yang menurut mereka gak banget! Karena belum tentu kebiasaan membaca mereka merupakan kesadaran pribadi alias hanya ikut-ikut tren saja!

Jika kamu masih berpikir untuk apa budaya literasi itu terkesan sangat penting? Cobalah renungkan beberapa hal berikut.

Mungkin saja ilmu yang kamu dapat hari ini dari membaca buku akan berguna ke depannya dan bisa jadi pengetahuan-pengetahuanmu itu pulalah yang akan menyelamatkan hidupmu kelak.

Seperti misalnya ketika kamu hendak ditipu oleh orang asing, kamu tidak akan dengan mudahnya percaya dengan mereka. Kamu pasti akan lebih dulu melacak kebenarannya. Itu karena di dalam otakmu tersimpan banyak memori dan informasi terutama seputar sindikat kejahatan penipuan. Kamu mungkin telah membaca berbagai artikel dan buku terkait sehingga menjadi paham bagaimana modus sindikat tersebut bekerja.

Selain itu kebiasaanmu membaca juga mampu mempengaruhi bagaimana struktur kalimat ketika kamu berbicara. Kamu akan dengan mudahnya mengungkapkan sesuatu yang ingin jelaskan kepada orang lain melalui kata-kata yang kamu ucapkan. Kosakata yang terekam di dalam otakpun akan sengat beragam, kamu tidak perlu khawatir dan bingung jika harus mencari padanan kata lain jika dibutuhkan. Secara tidak langsung, hal tersebut juga mampu mempengaruhimu untuk semakin percaya diri tampil di depan umum.

Penelitian yang diterbitkan oleh JAMA Psychiatry baru-baru ini bahkan mengatakan bahwa kebiasaan membaca buku setiap hari, dapat mencegah seseorang terkena Alzheimer dan Demensia. Hal tersebut dikarenakan dengan membaca, otak akan terjaga tetap aktif. Kinerja otak sama halnya dengan kinerja otot di dalam tubuh, otak tetap membutuhkan latihan agar tetap sehat dan kuat.

Namun di zaman yang serba canggih dan modern ini, selain meningkatkan kebiasaan membaca, kamu juga harus pandai-pandai memilah informasi dari bacaan yang kamu terima. Apalagi jika informasi tersebut kamu dapat dari platform media online. Waspadai judul-judul pemberitaan yang terkesan mendramatisir atau terkesan ambigu. Jangan langsung mempercayai isi informasi di dalamnya, setidaknya lakukan riset kecil-kecilan dengan membandingkan topik serupa di media lainnya.

Nah kemampuan analisis yang kamu lakukan tadi pun merupakan hasil dari kamu gemar membaca. Saat membaca, otak akan terstimulasi menangkap rangkaian kata dan mencernanya di dalam otak. Selama proses tersebut berlangsung, mungkin saja kemudian terbesit sebuah pertanyaan di dalam pikiran kamu. Pertanyaan-pertanyaan itulah hasil dari proses berpikir yang kamu lakukan.

Kamu pasti akan segera mencari tahu jawaban dari pertanyaan yang terlintas tadi. Untuk menjawabnya, kamu mau tidak mau membaca jenis informasi lainnya yang terkait. Secara tidak langsung, informasi yang kamu dapat tidak hanya berfokus pada jawaban yang kamu cari, melainkan informasi tambahan lainnya.

Bisa dirasakan, bukan? Bahwa informasi-informasi tersebut yang kamu dapatkan dari kebiasaanmu membaca itulah yang sangat berguna nantinya!

So, tunggu apalagi? Jangan berhenti dan masih berpikiran ragu kalau membaca itu tidak memberikan manfaat apa-apa. Mulailah dengan menyadarkan dirimu untuk terus berkembang ke arah yang positif dan menjadi sosok yang bermanfaat entah bagi diri sendiri atau orang lain.

Salam literasi!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Hasna Fadhilah merupakan mahasiswi Ilmu Komunikasi yang mengambil konsentrasi Public Relations, namun juga menggeluti bidang jurnalistik dan senang menulis dan menonton film.