Saat ini perhatian netizen tertuju pada satu peristiwa yang dialami oleh seorang gadis remaja yang mengalami perundungan di kota katulistiwa. Sumpah serapah, caci maki, dan kutukan tidak berhenti dilontarkan untuk para pelaku yang juga sama-sama perempuan. Pergaulan yang salah, kemudahan akses dunia maya, serta kurangnya perhatian orang tua disebut-sebut sebagai pemicu perangai jelek mereka. Benarkah salah bunda mengandung hingga melahirkan perempuan-perempuan bertabiat buruk seperti itu?

Tak bisa dipungkiri, kita hidup di era dimana informasi dapat diperoleh sekejap mata. Kemudahan akses informasi sangat bermanfaat untuk menambah pengetahuan, salah satunya ilmu parenting. Sebagai calon maupun seorang ibu, tips dan ilmu parenting tersebut akan sangat memudahkan mereka dalam mengasuh dan membesarkan anak dengan baik.

Seharusnya anak-anak zaman now yang terdidik dengan baik tidak akan melakukan tindakan perundungan yang bahkan berujung pada tindak kekerasan. Hey, tapi bukankah pelaku berusia di bawah 18 tahun, itu berarti mereka lahir pada tahun 2000-an, di mana sumber ilmu parenting belum banyak ditemui seperti sekarang, jadi jangan salahkan pengasuhan ibu (orang tua) yang mungkin belum terpapar teori-teori parenting.

Lalu, sudah ada kasus seperti ini, siapa lagi yang bisa disalahkan? Pergaulan? Teknologi? Peran orang tua? Semua pasti berperan, sekecil apapun, termasuk keluarga. Kini, para pelaku sedang menghadapi sanksi hukum dan juga sanksi sosial, biarlah mereka belajar dari tindakan tersebut. Pun kita yang tidak terlibat bisa juga mengambil hikmah dari peristiwa tersebut. Jangan abai dengan keluargamu.

Wahai ibu, dengarkan celoteh anakmu, ajari mereka tentang sopan santun, rasa malu, empati, dan rasa hormat. Wahai ayah, bantu istrimu dengan ikut mendidik anak-anak agar mereka menjadi pribadi yang kuat, percaya diri, serta tidak mudah terpengaruh hal-hal negatif.

Itulah pentingnya adab sebelum ilmu. Anak sekarang pandai-pandai, sudah begitu masih pula ikut les sana-sini. Sekolah setengah hari lebih, lanjut les, kursus, nongkrong. Tapi ketika kepintaran mereka tidak diimbangi dengan pendidikan karakter, bubarlah sudah. Baku hantam hanya karena laki-laki. Kasihan para pejuang yang fotonya terpasang di dinding sekolah. Mereka berdarah-darah karena berebut ibu pertiwi dengan penjajah, dan generasi sekarang malah berdarah-darah karena berebut simpati laki-laki.

Mari kita selamatkan masa depan bangsa mulai dari hal yang paling kecil, menjaga keluarga. Jangan lagi salahkan lantai ketika anak jatuh. Tegur dan ingatkan anak ketika berbuat salah, jangan sampai kelak ketika dewasa, dia dihakimi netizen karena kesalahannya diabaikan orang tuanya semasa kecil. Rangkul dan beri pujian ketika anakmu melakukan kebaikan, dengan begitu mereka akan menularkan kebaikan kepada teman-temannya.   

Sulit bukan menjadi orang tua zaman now? Teori parenting mudah diperoleh, tapi tantangan jusru di penerapannya. Ada banyak tips parenting yang bisa diakses saat berselancar, namun ketika halaman web tertutup, dan kondisi di lapangan tidak semudah teori, di situlah kita diuji, apakah akan menjadi orang tua yang selalu mengikuti keinginan anak meskipun berakibat buruk, atau konsisten mengasuh mereka dengan mengedepankan adab.

Paling tidak, saat tidak sengaja membaca tulisan ini, semangat untuk mendidik anak dengan baik akan kembali muncul, karena mengasuh anak tidak hanya memberi mereka makan, minum dan fasilitas, namun juga membentuk karakter mereka.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya