Untukmu, seseorang yang pernah datang menawarkan masa depan dan menjadi pusat semestaku.

Malam itu 10 April 2019 tepat 2 bulan sebelum kamu memutuskan untuk berhenti dan memintaku pergi. Aku tidur dalam keadaan kacau, iya mataku bengkak, kepalaku pusing, rambutku berantakan, nafasku sesak, pikiranku sibuk memaki menyalahkan diri sendiri karena tidak mampu membuatmu bertahan dalam hubungan kita. Yap, sekacau itu aku. Masih jelas suara kamu diingatanku saat perdebatan kita kala itu, yakin diseberang sana kamu tau bahwa aku  'sedang tidak baik-baik saja' mengetahui fakta bahwa hubungan kita akan segera selesai. Ya, malam itu aku berharap bahwa semua hanya mimpi buruk yang akan berakhir ketika aku bangun di pagi hari.

Advertisement

Harapanku salah, ternyata ini bukan mimpi. Masih jelas saat jam 00.35 WIB, 2 bulan lalu tanggal 11 April 2019 tepat 2 tahun 7 bulan kita sama-sama dan kamu memilih berhenti. Jam 02.51 WIB, aku terjaga dari tidurku dan membaca pesanmu, setelah itu aku membiarkanmu pergi tanpa sedikit pun melarang. Sebab akan sia-sia jika aku melarangmu. Sebab kamu adalah orang paling keras kepala yang aku kenal.  Semestaku hancur saat itu, karena selama kita bersama aku menempatkanmu sebagai pusatnya. Yap, kamu berhasil menghancurkan semestaku. Memporak-porandakan lebih tepatnya. Aku kembali memaki diri, menyalahkan diriku berulang kali atas kepergianmu, setelah itu yang kulakukan hanya menangis selama berhari-hari. Hari-hariku tidak lagi sama, membicarakanmu dan hubungan kita menjadi sangat sensitif untukku. Kamu berhasil membuatku mati rasa ketika aku sedang mencintaimu dengan segenap-genapnya aku. Ketika aku mati-matian membelamu di hadapan mereka yang meremehkan hubungan kita,


"Dia adalah orang yang tepat, dia selalu mampu membahagiakanku dengan caranya sendiri. Kalian nggak tahu apa-apa, dia nggak akan nyakitin aku," Kataku bangga pada mereka.


Sedangkan kamu malah mati-matian mematikanku. Cinta dengan segenap-genapnya kadang selucu itu. Yap, sekali lagi kamu menang.  Sebab kamu berhasil menghancurkanku setelah meninggikan harapanku. Selamat, kamu menjadi orang paling jahat sekaligus rindu paling candu yang pernah aku kenal. Semoga kamu mampu menemukan bahagiamu di luar sana. Soal hatiku, tenang saja dia mampu menyembuhkan lukanya sendiri.

Advertisement

Dan ya setelah hari itu, selama 2 bulan ini aku harus bekerja keras membangun semestaku lagi yang telah kamu porak-porandakan sesuka hati. Aku tidak lagi menangisimu, meski sesekali masih menatap nanar foto-foto kita berdua dengan kenangan yang seenaknya berputar di ingatanku. Ya, perlahan aku mengikhlaskanmu pergi, meski terkadang aku masih suka memimpikanmu.

Aku mulai berdamai dengan diriku sendiri, dengan kenyataan yang ada bahwa kita tidak lagi beriringan. Aku mulai terbiasa tidak mendengar kabarmu meski sesekali aku masih mencuri-curi untuk menanyakannya lewat orang terdekatmu atau sekadar mengintip media sosialmu, aku senang kamu baik-baik saja. Terimakasih telah menjadi patah hati terhebatku, aku akan mencoba menjadi lebih baik dan menemukan bahagiaku sendiri, jaga dirimu baik-baik.

Dari aku,

Yang pernah mencintaimu dengan sungguh.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya