Untuk perempuan yang suatu saat nanti menemukan tulisan ini

Advertisement

Surat ini aku tulis diam-diam. Sengaja tak kukirim link postingan ini kepadamu. Juga sengaja aku tak menuliskannya di kertas lalu kuletakkan diam-diam di depan pintu rumah atau tas punggungmu. Kubiarkan kamu membaca pada jauh-jauh hari nanti saat tanpa sengaja kamu menemukan tulisan ini dan ternyata ada foto kita. Semoga kamu nggak tambah sayang sama aku, dan semoga kamu nggak menangis terharu karena tahu aku sudah mati-matian meluangkan waktu untuk menulis ini. Oke fix, yang tadi itu memang lebay.

Aku pernah menyembunyikan cerita kita di blogku, akhirnya kamu tahu dengan sendirinya. Tiga bulan lalu saat senja kita berada di pantai bersama kawan yang lain, tiba-tiba kamu mengagetkanku dengan pertanyaan, “Kamu pernah menulis tentang aku, kan?” sungguh, saat itu aku malu. Tak tahu harus berkata apa, hanya tawa yang menyambut pertanyaanmu. Lalu balik aku bertanya, “Kok tahu?” Dengan nada percaya dirimu seperti biasanya kamu menjawab, “Pas itu aku firasat aja mau baca blogmu yang lewat di beranda facebook. Ternyata ada aku di tulisanmu.” Ekspresi wajahku mendadak berubah menyadari kebodohanku membagikan tautan di sembarang tempat.

Advertisement

Aku tidak terlalu menyesali, karena yang kutulis bukan sebuah aib. Namun sebuah cerita awal bagaimana waktu itu kita bisa semakin dekat dan lekat sampai sekarang. Berawal dari sebuah organisasi, lalu akhirnya kita saling mengisi.

Seminggu yang lalu kamu memintaku untuk menginap di rumahmu dan kamu janjikan suguhan panorama pantai dibalut senja keemasan. Aku menurut. Aku menyukai setiap perjalanan bersamamu. Berkilo-kilo aspal jalanan kita lewati dengan cerita suka dan duka. Mulai dari aspal yang mulus, aspal berlubang, jalanan berlumpur, jalanan berbatu tajam, bahkan jalanan mengerikan di tengah hutan pun sudah pernah kita terjang bersama-sama dengan motor kesayanganmu. Di atas motor itulah kita saling berbagi banyak hal, tentang sulitnya hijrah di masa kini, keluarga, kuliah, dan apa pun itu.

Berulang kali kamu menguatkan dengan potongan-potongan kalimat motivasi yang kamu curi dari postingan ustadz atau teman yang lain. Aku selalu mengangguk mengerti. Tidak ada nada menggurui, karena aku juga tahu berbagi kalimat motivasi juga sebuah trik untuk menyemangati dirimu sendiri. Ibarat siswa yang selalu mengulang pelajaran sekolah dengan menjelaskannya berkali-kali kepada temannya. Begitulah nantinya semangat itu akan terpatri kuat dalam dirimu dan diriku.

Jujur, aku begitu malu denganmu. Roda motormu tetap setia mencumbui jalan-jalan rumahmu menuju kosku, atau kampusmu menuju kosku. Tak peduli siang atau pun malam, setiap ada acara organisasi kamu selalu menawarkan untuk menjemputku. Aku ini memang sahabat yang merepotkan. Tapi tak pernah kujumpai raut sebal pada bingkai wajah ovalmu.

Malam itu, kali pertamanya kita melakukan perjalanan menuju rumahmu. Dingin semakin erat memeluk. Aku baru tahu rumahmu begitu jauh dari pusat kota. Padahal kamu sering pulang-pergi untuk mengikuti kegiatan sosial di tempat tersembunyi di semak-semak hutan, lereng gunung, dan pinggiran pantai. Aku salut dengan semangatmu yang tak pernah surut.

Malam itu, juga kali pertamanya kita menghabisi malam hanya berdua di kamarmu. Dengan malu-malu, kulihat kemerah-merahan mewarnai pipi tirusmu, kamu bercerita tentang sebuah rahasia yang lama tersimpan rapat-rapat dariku. Cerita itu tentang perasaan merah jambu lalu berulang-ulang kamu mengancam agar aku tidak membocorkannya. Aku tidak menawarkan janji, hanya kujawab dengan menertawaimu sepuasnya.

Aksi kegiatan sosial yang terjadwal rapi di organisasi lah yang menyatukan kita sampai sejauh ini. Berbagai tempat kita singgahi, puluhan rumah kita datangi, puluhan wajah kita temui, dan berbagai macam cerita memilukan kita dengar dari mulut-mulut mereka yang tersisihkan.

Kita memang tidak pernah menghabiskan waktu di kafe atau tempat makan mewah seperti persahabatan orang lain yang sering diperlihatkan di media sosial. Tidak ada foto yang kita pamerkan di instagram dengan bumbu caption manis tentang persahabatan. Kita lebih memilih menyimpan foto momen-momen mengesankan hanya di ponsel.


Cukup kita sendiri yang tahu tentang bahagia yang tiada tara perihal persahabatan ini.


Sore itu, aku duduk di belakang kemudi motormu. Roda motor melaju dengan kecepatan tinggi. Kamu menepati janji untuk mengajakku melihat sepotong senja di ujung pantai sana.

Sesampainya di sana, aku melihat kerumunan orang sibuk mengambil foto. Bau amis mengoar mengurapi bulu hidung dan desauan angin menggoyang-goyangkan jilbab panjang yang kita pakai. Perahu nelayan naik-turun terbawa ombak. Kamu memuji berulangkali cuilan surga ini. Kita berjalan mendekati bibir pantai lalu berlari saat ombak bergulung-gulung mengejar. Kita saling terdiam menikmati suasana matahari yang kembali ke peraduannya. Berulang kali kamu katakan kepadaku tanpa bosan bahwa senja itu indah dan menakjubkan. Tuhan begitu hebat melukis alam dengan paduan corak warna yang cocok. Aku bisa melihat sorot matamu berbinar-binar lalu matamu terpejam menikmati angin yang hampir menerbangkan tubuh kurusmu.

Matahari pelan-pelan hampir terbenam di ufuk barat. Kilau keemasan dalam genangan pantai terlihat seperti matahari tenggelam ke permukaan laut. Hari hampir gelap. Kita bergegas untuk segera meninggalkan pantai.

Jalanan berkabut senja mulai dipeluk malam. Setiap sudut perjalanan, terdengar adzan bertalu-talu menyerukan panggilan Tuhan. Kamu meminggirkan motor dan kita singgah di rumahNya di waktu Maghrib ini. Damai sekali rasanya bisa beribadah di sampingmu.

Ketika langit sudah pongah melihatkan gelapnya, kamu dan aku terdiam begitu lama di perjalanan. Sibuk dengan pikiran masing-masing atau sibuk menghangatkan badan yang pelan-pelan dibunuh udara malam yang membekukan.

Lalu tiba-tiba, ada rombongan di tengah perjalanan. Pelan-pelan kamu kurangi kecepatan motor. Tanpa bertanya, kita pun tahu apa yang membuat semua kendaraan patuh tidak melaju kencang. Mungkin saat itu sepasang mata kita tertuju pada titik yang sama, yaitu keranda mayat. Ya, ternyata ada orang yang akan dikuburkan.

“Ada sesuatu yang kamu pikirkan?” tanyaku setelah kita melewati rombongan tadi.

“Tentang kematian?” Kamu balik bertanya. Belum sempat kujawab, kamu sudah mulai berbicara lagi. “Kenapa banyak orang berdoa mengharap usia yang panjang, padahal tidak jaminan usia yang panjang akan masuk surga. Malahan, godaan di dunia semakin berat,” ucapmu kala itu. Aku terdiam, merenungi suaramu yang sengaja kau keraskan agar aku bisa mendengarnya di tengah hiruk-pikuk jalanan.

“Aku pernah baca, orang-orang yang mengaku mencintai Tuhan dia tidak sabar untuk bertemu dengan Tuhannya,” ucapmu lagi.


“Iya memang, dunia ini hanyalah tempat antrian untuk pulang,” kataku. Lalu kita diam menyibukkan diri dengan sekelumit pemikiran masing-masing.


Besok paginya, untuk pertama kalinya kamu mengunggah foto di pantai saat itu tanpa terlihat jelas wajah kita dengan caption termanis yang sengaja kau bubuhkan di media sosialmu. Aku masih ingat jelas caption itu: Pokoknya, nanti ‘di sana’ rumah kita harus tetanggaan.

Aku mengerti arti dari ‘di sana’. Ada senyum yang kulukis tipis lalu kukomentari foto itu dengan kata Amiin. Kucari-cari foto yang sama dengan foto yang kamu unggah lalu kutulis caption: Sahabat sesurga. Dan kutekan unggah layaknya sebuah doa yang berhasil terkirim mengangkasa ke langit. Semoga penduduk langit turut mengaminkan. Salam hangat sehangat senja saat itu, Sahabat yang selalu merepotkanmu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya