Buat yang kucinta, terima kasih telah mengubahku. Aku tahu bagaimana cara untuk mengatur diriku dan membuat diriku menjadi lebih baik lagi. Ya Tuhan, terima kasih telah membantuku mendapatkan sebuah cinta. Kini ia kupegang erat dan berjanji bahagia untuk selama-lamanya. Tidak lupa juga kami harus semakin dewasa agar hubungan kami tetap terjaga hingga maut menjemput kami.

Dahulu, aku tidak tahu itu cinta. Aku yang tahu cinta itu hanyalah rekaan drama remaja yang membuat penonton menjadi terbawa perasaan akibat drama tersebut. Semakin dewasa, orang tuaku heran melihatku. Selama hidupku, aku belum pernah mengenal cinta. Ayah, ibu, jangan begitu padaku. Aku ini manusia normal. Aku juga ingin merasa cinta terlebih lagi cinta kalian yang telah membuatku lahir di dunia. Tetapi aku belum bisa tepat memilih siapa yang pantas kucintai. Memang banyak manusia yang bertebaran di bumi ini. Tetapi entah kenapa, belum ada yang membuatku tertarik. Mereka bagiku hanyalah teman-teman pada umumnya.

Advertisement

Sekarang, aku telah menemukan cintaku. Ia adalah orang yang membuatku nyaman dan dekat denganku. Darinya aku merasakan sebuah kedamaian dan ketenangan. Sebelum mengenalnya, aku adalah manusia tanpa pengharapan dan cita-cita. Penampilanku sangat gombal dan keseharian sangat hancur. Aku seperti ombak saja yang mengikuti derasan laut yang tidak arah arahanya kemana. Karena itu, aku menjadi bahan olokan temanku. Aku digunjing sana-sini hingga telingaku memanas. Ingin menghajar mereka bahkan membunuh. Tetapi aku pikir, jika melakukan itu, aku akan semakin hancur. Aku nanti menjadi pesakitan di hotel prodeo. Dan kemungkinan mendapat cintanya tidak ada lagi karena aku telah membuat suatu kesalahan yang luar biasa yakni melukai orang lain.

Dari hancurnya diriku, ia datang bagaikan malaikat kedamaian. Ia mengarahkanku menjadi lebih baik. Dibimbingnya aku sesuai kemampuan yang kumiliki dan pastinya aku terima segala apa yang dinasehatinya padaku. Awalnya aku menganggap ia hanya teman biasa. Lama-kelamaan, aku merasa berbeda jika bersama dengannya. Aku merasa kehilangan jika tidak ada disampingnya. Apa maksudnya ini? Apakah ini cinta? Aku tidak tahu itu.

Kepada Tuhan aku mengatakan diriku yang tidak bisa kehilangannya. Aku berdoa sampai air mataku menetes agar selalu bersamaku. Doaku itupun didengar oleh kedua orang tuaku. Mereka mengatakan aku sedang jatuh cinta. Apa? Kok bisa aku jatuh cinta? Aku tidak mau ini! Dia itu hanya temanku, tidak ada hubungan yang lain.

Advertisement

Orang tuaku tersenyum melihat diriku yang ternyata telah mengenal cinta. Mereka pun justru mengarahkanku. Supaya aku semakin mengenal apa itu cinta, orang tuaku menceritakan bagaimana mereka saling mencintai hingga mereka tersadar anak mereka patut dinasehati tentang cinta. Karena mereka, perlahan-lahan aku menerima cinta itu. Aku pun mengeksplor diriku agar temanku ini tahu aku mencintainya. Arahan darinya aku patuhi. Semuanya, bahkan kata-kata dan perbuatannya pun kuanggap melebih kata motivator yang wara-wiri di layar kaca ataupun seminar membangun diri.

Orang yang kucintai itupun lain melihatku. Ia merasa aku menganggapnya bukan seperti teman namun cinta. Karena itu, ia pun menggunakan taktik agar aku tidak terlalu dalam mencintainya. Ia mulai menjauhiku. Kenapa begitu? Apa salahku? Karena sifatnya itu, aku pun mulai bercermin. Ternyata kusadari, aku belum mengenal siapa diriku dan karena itu ia menjauhiku.

Aku pun pergi dan merenung diri agar bisa mengenal siapa diriku. Cara terampuh mengenal siapa diriku adalah berdoa kepada Tuhan. Aku pun kembali melakukan itu. Setiap hari melakukan itu dan mendapatkan arti mengubah diri sendiri. Maksud dari kucintai ini adalah menghargai dan mensyukuri diriku. Aku pun berubah 180 derajat. Perlahan-lahan akupun mengasah apa yang kubisa dan menghilangkan apa yang membuat orang menjadikanku bahan olokan.

Dengan sekuat tenaga aku lakukan itu demi bisa mendapatkan cintanya. Tidak lupa aku juga mendekatkan diriku kepada orang tuaku. Masalah berubah karena cinta kuceritakan kepada mereka dan mereka pun memberi cara agar aku bisa berubah. Karena kemauanku besar untuk berubah, aku telah berubah. Keinginan untuk memilikinya sudah mulai kulupakan.

Namun jika ia menerima cintaku, aku terima itu. Biar bagaimanapun, hubungan dasar pernikahan untuk jangka waktu lama adalah pertemanan. Aku amini perkataanku ini dan mudah-mudahan aku mendapatkan jodoh sesuai dengan kuingini yang bertanggung jawab kepada dirinya, aku, dan anak kami di kemudian hari.

Beberapa waktu yang akan datang, aku terkejut. Orang yang kucintai akhirnya mencintaiku juga. Ia sangat bersyukur telah mengubahku dari kegelapan menuju terang. Ia melihatku seperti pelita yang menerangi kegelapan. Saat aku berubah, ia mencoba berpikir untuk memilikiku. Ia merasa aku yang pantas menemani hidupnya untuk selama-lamanya.

Demi perjuangannya mencintaiku, aku pun menerimanya. Tidak kuingat lagi ia menolak cintaku dulu. Untuk memantapkan cinta kami, kami pun berdoa kepada Tuhan. Tuhan, biarlah hubungan kami tetap terjalin sampai maut memisahkan kami. Satukanlah cinta kami melalui ikatan pernikahan. Dan dari pernikahan kami ini tetaplah rasa cinta kami untuk menjadi manusia yang lebih dewasa lagi. Dan untuk orang tuaku, terima kasih telah membuatku berubah dan sebagai hadiahnya aku dan menantu kalian ini akan menjadi manusia yang benar-benar mengenal dirinya untuk menuju pernikahan yang bahagia.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya