Dear istriku sayang,

Aku tidak tahu di mana dan bagaimana kita akan bertemu nanti. Kuharap secara tidak sengaja dan karena itulah kita akan saling jatuh cinta. Tentu aku akan memperkenalkan diri lebih dulu. Tenang saja, aku tidak akan menanyakan nomor teleponmu saat itu juga. Tapi biarkan aku mengantarmu pulang.

Advertisement

Kira-kira apa panggilan sayang yang tepat untukmu nanti? Baby, Honey, Sayang? Terlepas dari itu, namamu adalah panggilan yang paling tepat di telingaku. Karena itu adalah kamu, bukan orang lain. Hahaha… aku seperti terdengar hanya mencari alasan, kan? Karena sebenarnya aku bukan cowok romantis yang menyematkan panggilan sayang pada pasangannya.

Well, aku tidak bisa memainkan gitar, meskipun kau akan menggoda dan mengatakan bahwa aku akan terlihat keren saat memainkannya. Satu-satunya alat musik yang bisa ku mainkan hanyalah suling di kelas seni saat sekolah menengah pertama. Sampai saat ini aku buta nada. Maaf jika kamu kecewa.

Tapi, aku mahir dalam olahraga, kuharap kamu akan memuji dan mendukungku saat melakukan kegiatan ini. Kamu akan terkejut melihat seberapa bagus tubuhku. Aku sangat senang berenang dan olahraga lain yang berkaitan dengan air. Kamu, tahu, arung jeram adalah kesukaanku.

Advertisement

Dan, kamu tidak gendut! Jadi berhenti menanyakannya karena aku tidak peduli pada hal itu. Kuharap kamu tidak membandingkan tubuhmu dengan milik siapapun. Karena aku akan tetap mencintaimu. Selama kamu memiliki hati yang baik, itu sudah cukup bagiku.

Ketahuilah, aku akan sangat tidak suka saat melihatmu menangis. Terutama jika aku penyebabnya. Karena aku akan lebih sakit saat melihat kekasihku terluka. Jadi, aku akan memberikan pelukan agar tidak melihat air matamu. Sampai kamu selesai. Dan meski kamu membenci pelukanku.

Tolong maafkan aku jika aku lupa hari jadi kita. Bukan karena dirimu tidak penting, tapi aku sangat payah mengingat tanggal. Jadi beritahu aku sehari sebelumnya dan aku akan menyiapkan kado istimewa untukmu. Aku berjanji akan membuatmu tersenyum, karena senyumanmu membuatku bahagia.

Meskipun bila kamu adalah wanita yang mandiri, aku akan suka jika kamu bergantung padaku di saat yang tepat. Aku akan mendengar keluh kesahmu dan berusaha membantu jika memungkinkan. Juga sebaliknya, aku akan terbuka dan jujur tentang hal apapun padamu. Sebenarnya, aku agak melankollis. Tentu kamu boleh tertawa bila melihatku menangis, karena itu akan mengobatiku. Tawa dan senyumanmu.

Aku lebih suka pergi ke festival atau menonton konser daripada ke bioskop dan duduk berjam-jam di restoran. Kuharap kamu punya kaki yang kuat untuk menemaniku berjalan di tengah hutan sampai kita tiba puncak gunung. Bila kita berbeda tentang hal ini, aku takkan mempermasalahkannya. Kita bisa mencari solusi tempat hang-out yang cocok untuk berdua.

Seperti yang kubilang tadi, aku agak melankolis. Namun aku akan berlagak kuat di depanmu dan orang lainnya. Kecuali saat kita hanya berdua. Karena aku ingin bisa kamu andalkan. Bersandarlah padaku. Akan kusiapkan bahu yang kuat dan nyaman untukmu.

Kuharap kita akan segera bertemu di waktu yang tepat. Dan aku akan serius pada hubungan kita. Berjanjilah untuk selalu di sana menungguku. Aku akan segera menemuimu. Aku akan menikahimu.

Milikmu selalu,

Adimas

Catatan penulis:
Surat ini adalah hasil wawancara dengan seorang teman yang sedang menanti pendamping hidup.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya