Tahun Pandemi Memang Berat, Namun Tuhan Membuat Kita Menjadi Kuat. Selamat Tahun Baru Para Pejuang Hebat.

Buang yang pahit, Ambil yang Manis!

Tahun lalu, ada begitu banyak resolusi yang menjadi rencana. Ada begitu banyak bingkisan doa yang menghiasi pikiran. Begitu banyak halusinasi perubahan yang ingin dilakukan. Namun semua berakhir total semenjak tahun 2020 hanya mampu kita nikmati seolah singkat. Kata orang; Singkat, Padat, dan Tak jelas.

Advertisement

Ada banyak “Ingin” yang tertunda karena pandemi tak mengenal tunda. Ada puluhan “Harapan” yang tertelan karena pandemi tak mengenal tahan. Begitu banyak rencana yang harus “terkikis”, karena pandemi tak memahami apa arti tangis.


Hidup memang tak mungkin selalu indah. Ada banyak masalah yang bikin lelah. Ada banyak cobaan yang bikin patah arang. Mau bagaimana pun caranya hidup, masalah hidup sudah menjelma seperti udara bebas, akan pasti dan selalu ada untuk dihirup. Di mana pun manusia berada, musibah akan selalu tetap menerpa. Tak usah gusar, ini kan dunia. Bukan surga!


Tahun sudah berganti baru. Pola pikir pun harus semakin maju. Sudah saatnya berhenti untuk menjadi hakim bagi kehidupan orang lain. Untuk apa dua buah mata diciptakan Tuhan, jika menilai dan menghakimi orang lain hanya melalui telinga? 

Advertisement

Bisakah kita menjadi manusia biasa saja, tanpa mengambil peran Tuhan dalam menghakimi? Tanpa mengganti peran malaikat dalam mencatat? Jadi manusia itu: sebiasanya, semampunya, sekuatnya. Jangan main paksa-paksa. Nanti gila!


Ketika semua tak berjalan mulus, itu bukan berarti salah mu. Saya yakin bahwa kamu sudah mencoba sebaik dan sebisa mungkin. Tidak ada satu pun yang ingin gagal. Lantas, biarkan kegagalan kemarin hanya sebatas cerita semata. Mari lanjut, karena matahari tetap terbit dan tenggelam tanpa ada jeda. Selagi ada waktu tersisa, ayo kembali coba!


Advertisement

Mulai tahun depan, saatnya mulai menikmati hidup sendiri dengan lebih baik. Enggak usah berusaha membahagiakan orang lain dengan cara menyakiti dan mengorbankan diri sendiri lagi. Baik kepada orang lain itu memang keniscayaan, namun napas dari tubuh diri sendiri jangan sampai lupa dibahagiakan.

Hingga akhirnya mungkin sudah saatnya untuk mulai belajar mandiri. Selalu mengandalkan diri sendiri. Hidup pun juga sudah makin dewasa. Masalah-masalah yang ada enggak usah dipaksa untuk diceritakan. Enggak usah menuntut orang lain untuk mengerti lagi. Hidup mulai kudu mandiri, enggak perlu bawa orang terlalu banyak untuk terlibat dalam kehidupan sendiri.


Besok-besok kudu belajar lebih tenang lagi. Menghadapi sesuatu harus dengan kepala dingin. Karena begitu banyak kehilangan yang terjadi karena ego yang tak bisa ditahan. Untuk yang telah berpisah, tetaplah berdoa. Sejatinya, tidak ada perpisahan bagi dua insan yang saling mendoakan.  


Berjalan tanpa peta memang terkadang menyenangkan. Menjalani hidup tanpa tujuan pun terkadang seru. Namun kini usia sudah bertambah dewasa. Hal-hal seperti itu mungkin sudah mulai dikurangi. Makin ke sini usia makin menipis, sudah enggak ada waktu lagi untuk menjadikan hidup diri sendiri sebagai ajang uji coba percobaan.


Kesalahan terbesar kita sebagai manusia bukanlah karena terlalu besar mencintai. Namun karena kita terlalu berkepala batu untuk tinggal dengan seseorang yang nyata-nyata tak pernah mampu melihat nilai dari cinta yang telah diberi.


Ada yang tak rela dengan berpisah, tak sanggup melepas karena cinta yang sudah telanjur terlalu. Namun raga sendiri tak mampu menyatu dengan keadaan. Bersatu jadi sakit, berpisah jadi jatuh. Sama-sama salah, sama-sama berat.

Hidup ini memang terkadang tak pernah sesuai alur ekspektasi. Pergi dan sepi memang akan selalu menjadi teman yang abadi. Biarkan yang ingin pergi melepaskan diri, mencari jalan sendiri untuk mencari jalan bahagia sendiri. Kita yang pernah terlalu dalam mencintai, tak usah lagi disesali. Semua sudah terjadi.


Rumit, sakit, berbelit-belit dan menjerit. Jangan menangis dan pesimis. Ambil yang manis, buang yang pahit. Tahun baru, sisakan lebih banyak ruang untuk mencintai diri sendiri. Jika orang lain terlalu sering menyakiti, setidaknya diri sendiri tak perlu melukai diri. Tak ada yang sayang, maka sayangi diri sendiri. Tak ada yang peduli, maka peduliah pada diri sendiri. Mandirilah untuk bahagia sendiri.


Di tahun yang baru ini, mungkin saatnya untuk saling berjabat. Tentang benar dan salah, bisakah kita berhenti berdebat? Sebaik apa pun manusia, manusia tidak akan pernah terlihat hebat di mata manusia. Nikmati hidup selagi bisa dinikmati, karena waktu tidak akan berputar ke kiri.


Kini akhirnya kita tersadar. Hidup sederhana itu ternyata tak juga cukup. Tahun baru ini kita enggak boleh hanya sekadar sederhana. Namun kudu lebih hebat, tegar, kuat, dan bermanfaat. Tahun lalu kita sudah banyak babak belur, tahun baru kudu maju tanpa mundur. 


Mulai sekarang, saatnya untuk berhenti menjadi bodoh. Mungkin benar kata orang. Jika kamu tak bisa memiliki apa yang kamu cintai, setidaknya cintai apa yang masih kamu miliki.

Tetap kuat walau semangat sudah tak lekat, tetap utuh walau mungkin hati pun sudah rapuh. Pokoknya, tahun baru harus lebih kuat.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Accountant, Teacher, and Writer of The Trophy of Love; Alcander's Love; and The Hidden Love

CLOSE