Tiada perpisahan yang tak menyisakan luka. Begitu pula perpisahan kita. Aku tak menyangkal, hatiku terluka dalam ketika kau dan aku bukan lagi kita.

Hujan turun begitu deras di luar kamarku saat itu, begitu pun di mataku. Awan pekat di hatiku menjelma air mata. Sayangnya kau tak tahu pilu tangisku, karena kita berada di kota yang berbeda.

Advertisement

Aku tak punya pilihan lain selain berpisah darimu ketika hubungan kita berada di titik jenuh. Kejujuranmu melukaiku, ketika kau mengaku bahwa ada perempuan lain yang mulai mengisi harimu. Kau tahu betapa terlukanya seorang perempuan ketika mengetahui dia bukan satu-satunya? Hatiku runtuh menjadi puing-puing, berantakan, berserakan. Puing-puing itu dan menggores dinding rongga dadaku, berdarah namun tak tampak. Dan yang bisa kulakukan saat itu hanya menangis, sambil menghapus foto dan rekaman suaramu dari ponselku, berharap cara itu dapat membantu bayangmu luruh dari kepalaku. Meski kutahu tak mungkin semudah itu.

Aku tak menyalahkanmu atas kejujuranmu, melainkan hatimu yang terbagi begitu mudahnya. Barangkali ada bagian dari diriku pun yang salah. Barangkali aku tak cukup sempurna untuk melengkapimu, hingga kau masih perlu perempuan lain. Barangkali bagimu, rasa sayangku tak cukup besar, dan kau masih merasa kurang. Meski sebenarnya, perasaan yang kuberikan padamu begitu utuh, kau hanya tak menyadarinya, atau aku yang tak becus menunjukkannya. Tapi betapapun kurangnya aku, tak seharusnya kau cari sandaran lain.

Akhirnya, ku ucap kata pisah melalui pesan singkat. Miris memang. Namun aku tak mampu menemuimu saat itu. Aku takkan sanggup datang ke kotamu, melihat wajahmu, dan melambaikan tangan sambil berurai air mata. Aku tahu caraku salah, mengakhiri hubungan kita melalui pesan. Namun harusnya kau juga mengerti, kau telah berbuat kesalahan yang lebih besar.

Advertisement

Ya, awalnya aku dikuasai rasa sakit hati yang dalam. Aku terus menyalahkanmu, terus menanamkan dalam benakku agar membencimu. Terus kutekankan pada hatiku untuk tak bicara lagi denganmu. Kurasa kau pun juga membenciku setelah itu. Kaubilang aku terlalu mudah menyerah. Kaubilang begitu mudah aku meninggalkanmu. Namun kau tak tahu, pergi dari hidupmu adalah salah satu hal tersulit yang kulakukan. Kau tak tahu betapa hancur hari-hariku setelah itu. Namun jika kupikir lagi, jauh lebih sulit mempertahankanmu yang tak setia, jauh lebih sulit mengubahmu dan memperbaiki hubungan kita. Aku, mungkin tak sekuat perempuan lain yang bisa memaafkan pengkhianatan kekasihnya. Aku, mungkin tak sekuat perempuan lain yang bisa memutar balik hubungan, dari renggang menjadi rekat. Apalagi setelah kutahu, dalam renggang cinta kita, kauselipkan cinta yang lain. Harapanku pupus kala itu, dan satu-satunya keputusan dalam benakku, hanya berpisah.

Berminggu-minggu, berbulan-bulan kubasahi luka hatiku dengan air mata. Selama itu juga, aku terus memikirkan bagaimana hidupku setelah kau tak ada.

Aku harus menata semua harapanku yang sirna. Segala angan masa depan yang kurencanakan denganmu harus kusingkirkan. Aku harus menata ulang hidupku. Kau tahu rasanya seperti apa? Seperti di titik nadir, aku memulai semuanya dari awal.

Kuingat-ingat lagi, ketika kau membuatku tertawa, ketika kita menciptakan waktu-waktu tak terlupa. Kuingat-ingat lagi ketika kita berbincang, merancang hari-hari menyenangkan di masa depan. Awalnya, aku merasa sakit. Kenangan indah, dan impian kita yang manis, menjelma duri yang menusuk ruang ingatanku. Namun perlahan, aku sadar, sudah waktunya aku menjadi dewasa. Aku pun belajar untuk tak lagi merasa terluka.


Pelan-pelan aku mulai berhenti menangisimu. Aku mulai berhenti mengingatmu sebagai sosok yang jahat.


Kuingat lagi masa kita yang lalu. Ya, ketika itu kita sama-sama belum dewasa, kau maupun aku. Kau tak tahu cara mempertahankan, dan aku tak tahu cara memperjuangkan. Kita tak tahu cara mencintai dengan benar.

Lalu kusadari, bahwa kau tak layak lagi kubenci. Sesakit apapun hatiku di hari kita berpisah, tak bisa kupungkiri bahwa di hari-hari sebelumnya, kau pernah membuatku merasa sebagai perempuan paling bahagia. Banyak hari kita lalui dengan tawa, berbagi kasih sayang, dan saling menguatkan. Meski akhirnya kita saling menyakiti, saling merapuhkan, tapi kita pernah saling menjaga hati.

Kuharap kau pun sudah berhenti membenciku. Kuharap kaupun tak memungkiri, bahwa kita pernah melalui senja yang indah. Dan jika kita bertemu lagi nanti, kuharap kau menyapaku sebagai seseorang yang pernah ada di masa lalumu, yang pernah mengenalmu begitu jauh, dan masih kau kenal. Bukan sebagai orang asing.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya