Impian Ashley saat ini adalah bisa menikah di usia muda, memiliki dua anak, dan menjadi penulis profesional. Butuh beberapa tahun lagi untuk mewujudkan itu semua. Saat ini, menyelesaikan kuliah adalah satu-satunya tujuan yang harus di kejar.

Ashley masih menyusun buku-buku ke atas rak. Beberapa kardus masih berserakan di lantai apartemen barunya. Apartemen ini sudah terdapat beberapa perabot rumah seperti tempat tidur, lemari, kamar mandi, dapur kecil, dan sofa di sudut ruang tamu. Tidak terlalu besar, namun nyaman ditempati. Hari sabtu ini ia gunakan untuk membenahi tempat yang akan ia tinggali selama kurang lebih 3 tahun ke depan.

Advertisement

Ponselnya yang ada di dalam tas berdering, lalu ia cepat-cepat merogoh tasnya kemudian mengambilnya. Suara paruh baya menyapanya dari ujung telepon.

“Halo sayang, bagaimana tempatnya? Nyamankah?” suara Ibunya sedikit khawatir.

“Iya bu, bagus, bersih, terasa sangat nyaman.”

Advertisement

“Selalu kabari Ibu ya nak.”

“Ibu tenang saja, aku akan sering-sering mengabari ke rumah.”

“Yasudah, lanjutkan berbenahnya, jangan lupa makan setelah selesai ya nak.”

Ashley menutup telepon, kemudian tak lama seseorang mengetuk dari balik pintu. Ia membukanya, lalu melihat seorang perempuan bermata sipit berdiri membawa keranjang kecil. Ashley tersenyum, kemudian perempuan berambut panjang dan bermata sipit itu menyodorkan keranjang berisi makanan kepadanya.

“Hai, selamat sore, kau baru pindah ke sini kan?” sapa perempuan di hadapannya dengan ramah. “Ini ada beberapa kue untukmu.”

“Ah, terima kasih. Bagaimana kau bisa tahu?”

“Tentu saja aku tahu, aku pemilik kamar sebelah. Perkenalkan aku Andara Lyn, panggil saja Lyn.” Perempuan bermata sipit itu menyodorkan tangannya, yang langsung disambut hangat oleh Ashley.

“Aku Ashley Hamida Darwis, panggil saja Ashley.”

***

Ashley duduk di dalam kelas. Ini hari pertama ia masuk kuliah. Tak ada yang ia kenal. Namun, tiba-tiba saja, ia melihat Lyn memasuki kelas. Lyn sedang mencari kursi kosong.

“Lyn!” panggil Ashley. Lyn menoleh, lalu melambaikan tangan.

“Ternyata kita satu jurusan?” Lyn duduk di sebelah Ashley.

“Iya, aku juga tidak menyangka.” Jawab Ashley tersenyum.

“Wah, aku senang sekali.” Kata Lyn sumringah.

***

Ashley melangkah perlahan. Ia masih menikmati suasana di sekitar apartemennya yang begitu sejuk. Ditengah kesibukkan di kampus barunya, terkadang, ia merasa rindu dengan kedua orang tuanya yang berada di London. Karena Ashley diterima di salah satu universitas di Durham, akhirnya ia memutuskan untuk pindah karena jarak dari rumahnya yang cukup jauh.

Ashley merupakan anak tunggal dari pasangan suami istri berkebangsaan inggris-indonesia. Ayahnya Muhammad Darwis adalah seorang muslim keturunan inggris yang tinggal lama di Indonesia, dan menikah dengan Risma Hamida, keturunan sunda asli dari bandung. Ashley sudah menetap di London sejak ia lahir. Ashley sangat beruntung karena tumbuh dari keluarga yang berkecukupan dan harmonis.

Sesekali ia mengunjungi berbagai tempat di Durham. Sedikit demi sedikit ia sudah mulai hafal dengan beberapa jalan yang pernah ia lalui. Sore itu, Ashley mengunjungi toko buku. Ashley suka sekali membaca novel, karena baginya, membaca novel itu seperti menonton film yang baru. Ia menyusuri setiap lorong-lorong rak buku yang berjajar rapi. Ia sedang mencari novel roman kesukaannya. Matanya berkeliaran ke sana kemari. Keadaan seperti ini yang paling ia suka. Rasanya ia ingin membeli semua buku yang ada di sana.

Ruangan dengan suasana yang menenangkan, membuat ia betah berlama-lama di sana. Ashley mengambil satu buku dengan tangan kanannya. Kebiasaan Ashley saat membeli buku adalah membaca sinopsis, kemudian melihat sampul bukunya yang sesuai dengan nuansa warna kesukaannya. Sedikit aneh, namun baginya itu termasuk bagian dari membeli novel.

Di sana cukup ramai, beberapa orang lainnya juga terlihat sibuk dengan buku-buku yang menjadi pilihannya. Setelah beberapa lama memilih-milih, akhirnya ia menemukan sebuah novel roman dengan sampul yang berwarna hijau kecoklatan. Tanpa pikir panjang, ia menuju meja kasir untuk membayarnya.

Di sebelahnya berdiri seorang lelaki bertubuh tegap, dan berkulit putih. Terlihat ia sedang membayar sebuah buku yang dibelinya, lalu tersenyum pada petugas kasir di hadapannya. Tiba-tiba lelaki itu menoleh. Ia melihat gadis di sebelahnya yang juga sedang membayar. Bagi lelaki itu, senyum Ashley menawan, membuatnya terpesona sesaat, sampai ia tidak sadar petugas kasir di hadapannya memanggilnya.

“Tuan? Tuan? Tuan?” petugas kasir memanggil lelaki itu beberapa kali, sampai Ashley di sebelahnya mencoba mengalihkan pandangan lelaki itu ke petugas kasir. Gadis itu tersenyum, lalu menunjuk ke arah petugas kasir, sambil memandang lelaki itu dan tersenyum.

“Ah, iya, maaf berapa harganya?” tanya laki-laki itu, sedikit malu karena termenung memperhatikan gadis di sebelahnya itu. Rasanya ia tidak ingin lagi menoleh ke arah gadis itu. Kejadian ini sungguh memalukan baginya. Namun di dalam hatinya, bertanya-tanya siapa nama pemilik senyum menawan itu.

***

Hari sudah mulai gelap saat ia keluar dari toko buku. Ashley menuju halte bus yang tak jauh dari toko buku. Ia menunggu bus berikutnya untuk pulang. Tiba-tiba saja lelaki yang tadi ia temui di toko buku itu berjalan kemudian duduk di sebelahnya. Namun sepertinya lelaki itu menyadari dirinya ada di sana.

“Bukankah kau yang tadi di toko buku itu?” Lelaki itu memandanginya dengan rasa penasaran. “Ah, benar, kau yang tadi di kasir toko buku.”

“Iya, benar.” Ashley memaksakan senyumnya, menahan rasa canggung yang kini menghampirinya. Lelaki itu tersenyum lagi. Senyumnya sungguh menghangatkan, namun itu membuat Ashley sedikit takut, karena ia orang asing. Ashley tak memiliki keberanian untuk menatap lebih dalam wajah di hadapannya itu.

Tak lama bus yang Ashley tunggu datang, ia berdiri dan buru-buru masuk ke dalam bus, meninggalkan lelaki itu yang masih duduk di kursi tunggu halte bus, karena tujuan mereka berbeda. Lelaki itu menoleh ke arah tempat Ashley duduk sebelumnya, sebuah kantong berisi novel yang baru Ashley beli tertinggal. Lelaki itu ingin mengembalikannya namun bus sudah melaju dengan cepat, dan tidak mungkin terkejar.

***

Ashley merebahkan dirinya di atas kasur. Menghembuskan napas, dan melepaskan kelelahannya karena harus berjalan cukup jauh dari halte bus menuju apartemen. Ashley teringat dengan novel yang ia beli tadi. Ia pikir ia akan membacanya malam ini. Tiba-tiba senyum menawan milik lelaki itu melintas di pikirannya. Kenapa wajah itu selalu terngiang di benaknya. Ia harus mempersiapkan dirinya jika nantinya bertemu lagi dengan lelaki itu. Tapi, kota ini bukan sebesar apartemennya, hanya satu berbanding seribu Ashley bisa bertemu.

Ia merogoh tas punggungnya, namun kantong plastik yang berisikan novel yang baru ia beli tidak ada. Ia sungguh tidak ingat apakah memasukkannya ke dalam tas atau tidak. Terakhir ia lihat barang itu saat ia menunggu bus di halte. Kenapa tidak ada? Gumamnya. Lalu mengingat-ingat kembali kejadian tadi sore. Benar saja, saat Ashley duduk di kursi tunggu halte, ia meletakkan kantong plastik itu di samping tempat ia duduk. Entah barang itu sekarang dimana. Ia hanya bisa menggerutu sendiri menyesali kecerobohannya. Menghilangkan barang yang baru saja dibelinya.

***

“Hey! Kau terlihat lesu?” Lyn menyapa Ashley pagi itu, kemudian duduk di kursi sebelahnya.

“Aku menghilangkan novel yang baru saja kubeli kemarin.” Ashley menghembuskan napas kesal, lalu mengacak-acak wajahnya sendiri.

“Novel? Again? Hilang dimana?”

“Mungkin Di halte bus atau mungkin jatuh di jalan. Ahh, aku tidak tahu! Ini semua karena lelaki itu!”

“Siapa?” Lyn membuka matanya lebar-lebar, dengan rasa penasaran.

Sebelum mereka melanjutkan permbicaraan, seorang dosen laki-laki berkacamata, berambut pirang dan bertubuh gemuk datang, memasuki kelas dengan membawa tas ransel di punggungnya. Perkuliahan pun dimulai, dan cerita Ashley tertunda sampai mata kuliah selesai. Karena pada mata kuliah ini, tidak ada yang boleh mengobrol di dalam kelas.

***

Di bawah pohon rindang di halaman kampus, Ashley dan Lyn duduk di sebuah kursi kayu. Ashley menceritakan pertemuannya dengan laki-laki bertubuh tinggi dan berkulit putih di toko buku kemarin sore.

“Jadi karena dia menyapamu di halte bus, kau meninggalkan novel yang baru saja kau beli??” Lyn tertawa geli, lalu menepuk-nepuk bahu temannya itu.

“Bodoh sekali kan, sungguh memalukan!” gerutu Ashley. “Aku canggung, tapi aku juga takut, ah aku tidak ingin bertemu laki-laki itu lagi.” Tiba-tiba pandangannya tertuju pada seseorang dari kejauhan.

“Lyn.. itu… itu dia!” Kata Ashley menunjuk ke arah seseorang dari kejauhan.

“Apa? Siapa? Laki-laki itu? Yang mana?” Lyn mencari-cari keberadaan seseorang yang ditunjuk Ashley.

“Itu, yang mengenakan sweater hitam di ujung sana!”

“Maksudmu Arthur?”

“Arthur?”

“Iya, dia Arthur, mahasiswa berprestasi jurusan seni rupa! Semua orang mengenalnya. Orang tuanya termasuk donatur terbesar di Kampus ini. Kau tidak tahu?”

“Aku tidak tahu soal itu Lyn! Ah bagaimana kalau dia melihatku ada di sini? Orang itu menakutkan!”

“Jadi, yang kau temui di toko buku dan halte bus kemarin itu Arthur???” Mata Lyn membelalak lebar. Ashley mengangguk lesu. Lyn yang melihat Ashley ikut kebingungan.

***

Di Perpustakaan, Ashley mengambil buku cara jitu menjadi penulis dari salah satu rak, lalu duduk di salah satu kursi kosong, dan membuka buku tersebut lalu mulai membacanya. Lyn yang sejak tadi juga sibuk sendiri memilih buku-buku yang entah di rak sebelah mana. Ashley duduk tenang, memfokuskan matanya untuk melihat setiap baris tulisan yang terpampang di buku tersebut.

Seseorang duduk di sebelahnya, namun ia masih tak peduli dengan keberadan orang tersebut. Tak lama ia pun menoleh ke arah seseorang di sebelahnya. Ternyata itu adalah Arthur. Ya, masih kuat ingatan Ashley dengan raut wajah lelaki itu. Dengan cepat Ashley memalingkan wajahnya, kemudian menutupinya dengan buku yang ia pegang.

Pelan-pelan ia beranjak dari tempat duduknya, dan melangkahkan kakinya. Arthur menyadari ada seseorang yang beranjak pergi dari sebelahnya, kemudian menoleh, melihat ke arah meja, yang terdapat sebuah handphone yang ditinggalkan pemiliknya. Langkah Ashley belum jauh, tiba-tiba suara laki-laki itu memanggilnya dari belakang.

“Hey! Handphone mu tertinggal!” Ashley berhenti, Arthur mengambilnya lalu berjalan menuju Ashley yang masih memunggunginya. Ashley masih bergumam sendiri, masih menimbang untuk menoleh atau tidak.

Apa yang harus aku perbuat? Menoleh tidak ya. Tapi itu memang handphone-ku. Ah lagi pula dia tidak akan mengingatku sedetail mungkin. Pasti dia sudah lupa. Oke lupakan rasa canggung. Katanya dalam hati, ia menghembuskan napas pelan, lalu menganggukkan sedikit kepalanya.

Ashley menoleh, dilihatnya wajah tampan itu lagi. Dan kini ia mematung melihat laki-laki itu di hadapannya. Arthur menyodorkan handphone tersebut pada Ashley.

“Ini milikmu kan?” kata Arthur lalu tersenyum.

“Oh iya, terima kasih. Saya permisi.” Ashley mengambilnya dari tangan Arthur kemudian berjalan dengan cepat, meletakkan buku di meja penjaga, kemudian keluar dari perpustakaan. Ashley sampai melupakan Lyn yang tadi pergi bersama dengannya ke perpustakaan.

Arthur mengingat wajah itu. Lalu ia bergegas menyusul keberadaan Ashley. Ia melihat perempuan itu baru saja keluar dari pintu perpustakaan. Perempuan berjilbab itu berlari di koridor menuju halaman kampus. Namun jejaknya terlihat oleh Arthur.

Perempuan yang sedikit terengah-engah itu duduk di kursi kayu, tempat biasa ia dan Lyn bertukar cerita. Ashley melepaskan tas punggungnya, lalu bersandar di kursi tersebut, sambil mengatur napasnya karena kelelahan.

“Kau yang kemarin di Toko buku itu kan?” Ashley menoleh terpaksa. Karena tidak mungkin lagi menghindar. Laki-laki itu sudah ada di belakangnya sekarang.

“Ya, benar sekali, kau benar!” Ashley tersenyum simpul. Ternyata ingatannya kuat sekali! Gumamnya dalam hati.

“Boleh aku duduk di sini?” Arthur menunjuk lahan di sebelah Ashley yang masih kosong. Ashley mengangguk. Arthur pun duduk dan membuka perbincangan siang itu.

“Ternyata, kau mahasiswi di kampus ini juga?”

“Iya, benar.”

“Jurusan apa?”

“Sastra Inggris.”

“Waw menarik!”

“Perkenalkan, aku Arthur, seni rupa.” Arthur menyodorkan tangan.

“Aku Ashley.” Lalu meletakkan tangannya di dada, dan tidak menyambut jabatan tangan Arthur.

***

Dari perkenalan itu, Arthur dan Ashley menjadi lebih sering bertemu. Bertukar cerita, makan di kantin bersama, dan terkadang pergi nonton di hari libur. Ternyata, mereka saling mengagumi satu sama lain. Mereka tidak menyangka akan menjadi teman. Lyn yang sebelumnya tidak kenal Arthur pun sekarang menjadi lebih akrab, karena Ashley. Tentu saja, kemanapun ia pergi dengan Arthur, Lyn harus menemaninya. Jika tidak, ia tidak akan mau pergi hanya berduaan dengan Arthur.

Arthur menyukai kepribadian yang dimiliki Ashley. Gadis itu sederhana, sopan, lucu, periang dan rajin beribadah. Selain itu, Ashley seorang yang mandiri. Tidak manja seperti kebanyakan perempuan yang pernah ia kenal. Arthur adalah anak tunggal dari pasangan non muslim asal Inggris. Kemudian, setelah Ibunya meninggal, Ayah Arthur menjadi mualaf, dan menikah dengan perempuan muslim asal Turki, dan ia dibesarkan dalam lingkup Islam. Walaupun ia juga memiliki banyak saudara non muslim.

Dari pertama bertemu, Ashley sudah membuatnya penasaran karena tidak mau bersentuhan walaupun hanya berjabatan tangan saat perkenalan. Satu waktu, Arthur mendapati Ashley sedang duduk di taman sedang membaca Al-quran. Arthur selalu memerhatikan gadis itu yang menurutnya sangat cantik. Arthur juga pernah melihatnya sholat di ruangan kelas di kampus. Selalu, setiap kali Arthur melihat Ashley melakukan aktifitas keagamaan, hal tersebut menggugah hatinya.

***

Siang itu, di salah satu lorong kampus. Arthur dan Ashley sedang berjalan, sambil berbincang. Tiba-tiba Arthur berbicara dengan nada serius pada Ashley.

“Ashley.. boleh aku bertanya sesuatu?”

“Boleh, silahkan..” jawab Ashley lembut.

“Sejak kapan kau berjilbab?” tanya Arthur penasaran.

“Sejak aku kecil, kira-kira.. umur 6 tahun. Kenapa?

“Aku belum pernah berteman dengan seorang gadis yang berjilbab. Kau orang pertama.” Arthur tertawa kecil. “Aku sering melihat kau, atau muslim yang lain masuk ke dalam masjid. Rasanya aku juga ingin masuk ke sana, karena aku juga seorang muslim. Tapi, entah kenapa hal itu tidak pernah terjadi.” Arthur tersenyum. Lalu Ashley masih memandangi Arthur yang sedang bercerita.

Sambil berjalan menuju taman kampus, Arthur masih bercerita. Kemudian mereka duduk di salah satu kursi taman.

“Apa yang kau rasa?” tanya Ashley tersenyum.

“Hampa.” Jawab Arthur singkat.

“Lalu, kau ingin apa?”

“Aku seorang muslim, tapi aku tidak pernah sholat, mengaji, atau hal lain yang diajarkan di agama Islam. Ayahku seorang muslim mualaf. Aku sering melihat Ayahku dan juga Ibuku sholat, tapi entah kenapa aku tidak mengikutinya. Tapi aku merasa masih tetap seorang muslim. Semenjak mengenal kau, aku melihat ada keihklasan dengan caramu mencintai agamamu.

“Aku mencintai agamaku, karena aku mencintai Allah. Dari kecil aku sudah diajarkan segalanya tentang islam. Sama hal nya berjilbab, jadi itu semua sudah mendarah daging. Tidak ada paksaan dari siapapun. Apalagi, kita tinggal di negara yang mayoritasnya bukan muslim. Itu menjadi salah satu kendala keluargaku untuk beradaptasi.”

Arthur memandangi Ashley. Ia makin menyukai gadis di sebelahnya itu. Ashley menoleh dan tersenyum.

“Kau mau mengajariku sholat?” pinta Arthur lirih. Ashley terkesima mendengarnya. Ada rasa haru di dalam hatinya.

“InsyaaAllah.. aku akan mengajarimu, semampuku.”

Thank you Ashley.”

You’re welcome.”

***

Di hari kelulusan Arthur, Ashley dan Lyn juga ikut hadir. Terlihat Arthur sedang berfoto dengan orang tuanya. Lalu, saat Arthur menyadari keberadaan Ashley dan Lyn, lelaki itu menghamipinya.

Congratulations Arthur!” Kata Ashley, lalu memberikan sebuah kado dan buket bunga lily.

Thank you Ashley!”

“Selamat ya Arthur, semoga sukses ke depannya.” Lyn juga memberikan buket bunga pada Arthur.

Beberapa teman Arthur mengajaknya untuk berfoto, lalu sejenak Arthur meninggalkan Ashley dan Lyn. Tiba-tiba saja ada yang menyapanya.

“Assalammualaikum!” Sapa seorang pria paruh baya.

Ashley pun menoleh. “Waalaikumsalam.”

“Kau kah yang bernama Ashley?” Kata Pria berjenggot yang mengenakan setelan jas. Di sebelahnya berdiri wanita yang umurnya tidak jauh berbeda dengan Pria itu, mengenakan jilbab panjang.

“Benar sekali. Anda siapa?” tanya Ashley hati-hati.

“Kami orang tua Arthur.”

“Oh, salam kenal tuan nyonya. Iya, saya temannya Arthur. Ini juga teman Arthur, namanya Lyn.”

“Kami mau berterima kasih, karena Ashley sudah mau menjadi teman yang baik untuk Arthur. Akhirnya dia menemukan jati dirinya. Karena Ashley, Arthur sudah mengenal sholat dan belajar tentang islam.

“Bukan saya tuan nyonya. Bukan karena saya, Arthur seperti itu. Tapi karena Arthur, mulai mencintai Islam. Allah yang menggerakan hatinya. Saya hanya sebagai perantara.”

“Kami sangat berterima kasih atas bantuan nak Ashley pada putra kami.” Lanjut Lanjut wanita di sebelahnya itu.

“Sama-sama tuan, nyonya. Saya ikut senang, atas perubahan Arthur.”

***

Semenjak lulus, kabar Arthur tidak pernah terdengar lagi. Ashley merasa kehilangan dengan sosok Arthur yang sering mengajaknya bergurau, atau sekedar menemaninya makan. Tanpa di sangka, ternyata Ashley juga mulai menyadari bahwa ia menyukai lelaki itu. Namun itu tidak mungkin, karena pernikahan Ashley tergantung dari pilihan orang tuanya. Karena ia percaya, restu orang tua adalah ridho Allah.

Musim ke musim berganti. Dua tahun berlalu. Kini kelulusan Ashley tiba, dan orang yang Ashley harapkan, tak kunjung datang. Sehari setelah hari kelulusan Ashley, orang tuanya akan membawa Ashley kembali ke London.

Ashley mengunci pintu apartemennya. Tak lama Lyn menghampiri gadis berjilbab itu. Orang tuanya meninggalkan Ashley dan Lyn berdua untuk mengucapkan salam perpisahan.

“Aku pasti akan merindukanmu Ashley.” Ucap Lyn yang membendung air matanya.

“Tentu Lyn, aku pun akan merindukanmu. Kapan-kapan aku akan berkunjung ke sini.” Balas Ashley, lalu memeluk sahabatnya itu. Ashley meneteskan air matanya, begitupun Lyn. Walaupun mereka berbeda keyakinan, mereka tetap menghormati satu sama lain, dan mereka tetap berteman.

***

Seorang kurir laki-laki, berdiri di depan pintu apartemen Ashley. Kurir tersebut mencoba memencet bel berulang kali. Namun pemiliknya tidak keluar. Lyn yang baru saja pulang, melihat kurir tersebut kebingungan, lalu Lyn pun bertanya.

“Maaf anda mengantar paket untuk siapa?” tanya Lyn pada kurir yang membawa sebuah kotak berwarna coklat.

“Permisi Nona, saya mengantar barang untuk Ashley Hamida Darwis. Tapi sejak tadi saya memencet bel, tidak ada respon. No handphonenya pun tidak aktif.”

“Pemiliknya sudah pindah, kalau boleh biar saya yang ambil paketnya, kebetulan saya teman dekatnya, biar saya yang mengantarnya nanti.” Kata Lyn menjelaskan.

“Baiklah, saya butuh tandatangan anda di sini.” Kata kurir itu lalu menyodorkan secarik kertas bukti pengiriman.

***

Ashley menerima paket dari Lyn. Dalam suratnya Lyn menjelaskan perihal kiriman barang yang ia terima beberapa hari lalu di apartemen miliknya dulu.

Hai Ashley! Bagaimana kabarmu?

Sudah setahun berlalu, aku sangat merindukanmu. Bersama dengan surat ini, aku ingin memberitahumu, kalau beberapa hari lalu ada sebuah paket untukmu. Di kotaknya tertera nama Arthur. Mungkin dia tidak tahu kalau kau sudah pindah dari kota ini. Semoga, ada sesuatu yang bisa menunjukkan keberadaannya. Aku tahu kau pasti juga merindukannya bukan?

Aku juga ingin memberitahumu, kalau aku sekarang sudah bekerja menjadi penyunting di penerbitan buku. Aku senang sekali. Suatu hari, aku akan ceritakan semua pengalamanku padamu. I miss you, Ashley!

Salam Hangat,

Andara Lyn

Ashley tersenyum setelah membaca surat dari Lyn, lalu ia membuka bungkusan itu. Benar, nama Arthur yang tertera di bagian pengirim. Kemudian, Ashley membuka kotak coklat itu. Ternyata isinya adalah sebuah buku. Itu adalah buku yang pernah Ashley beli dan ia hilangkan. Ternyata waktu itu, Arthur mengambil dan menyimpannya.

Di belakang buku itu tertulis “I miss you, Ashley!”. Melihat tulisan itu, Ashley tersenyum dan meneteskan air matanya. Tanpa suara, Ashley mengucapkan “I miss you too, Arthur.”

Arthur dan Ashley hanya bisa mencintai lewat doa. Tanpa adanya kabar, hati mereka terjaga, sampai takdir yang mempertemukannya.

***

Seminggu kemudian, rumah Ashley kedatangan tamu. Ashley tidak mengetahui siapa tamu yang akan datang. Ibunya hanya bilang, itu adalah sahabat Ayahnya dulu saat masih kuliah. Beliau dan keluarganya akan bersilahturahmi dan makan malam di sini. Pikiran Ashley sudah membayangkan soal perjodohan. Karena jarang sekali Ayah kedatangan tamu sampai seistimewa ini. dalam hal ini Ashley sudah pasrah. Tapi di hatinya kini hanya ada sosok Arthur.

Setelah waktu ashar, Ashley membantu Ibunya menyiapkan makanan. Tak lama, suara bel rumah berbunyi, kemudian Darwis, Ayah Ashley membuka pintu. Dari suara yang terdengar, sepertinya tamunya sudah datang.

“Bu, biar Ashley selesaikan ini, Ibu temani saja Ayah di depan. Sepertinya tamunya sudah datang.”

Tak lama Ayahnya memanggil Ashley keluar, untuk berkenalan dengan sahabat Ayah dan keluarganya itu. Tanpa di sangka, seakan jantung Ashley berhenti sejenak. Napasnya tertahan. Ia melihat orang yang sangat ia harapkan kehadirannya sejak dua tahun lalu.

“Ashley ayo ke sini, beri salam pada uncle yusuf , aunty maryam, dan juga putra mereka, Arthur.” Kata sang Ayah pada Ashley, lalu tersenyum.

Kedua orang tua Arthur terpaku, melihat sosok gadis yang mereka pernah lihat sebelumnya. Dua tahun lalu, di hari kelulusan putra semata wayangnya. Ayah dan Ibunya Arthur saling memandang, sedangkan Ayah dan Ibunya Ashley kebingungan. Kemudian, pandangan Arthur hanya tertuju pada Ashley seorang. Ia bangkit dari duduknya.

“Arthur?” Ucap Ashley lembut.

“Ashley?” kata Arthur yang masih memandangi Ashley.

“Masyaa Allah.. Darwis, aku sudah mengenal putrimu sebelumnya di hari kelulusan putraku. Kami tidak menyangka dia adalah anakmu!” Kata Pria berjenggot itu pada sahabatnya.

“Jadi mereka belajar di Kampus yang sama? Masyaa Allah Dunia memang sempit, Yusuf! Bukan kita saja yang bersahabat. Namun anak-anak kita pun saling mengenal.” Sahut Darwis, lalu merangkul putrinya untuk mendekat.

“Takdir Allah memang indah, MasyaaAllah..” Yusuf menimpali.

Ashley memberikan salam pada kedua orang tua Arthur. Arthur tersenyum melihat gadis yang ia rindukan sekarang ada di hadapannya. Mereka semua pun berbincang, dan makan bersama di rumah Ashley. Selama orang tua mereka masih berada di meja makan. Arthur dan Ashley duduk di sofa ruang tamu untuk mengobrol.

“Setelah lulus, Ayah mengirimku untuk belajar agama Islam di Turki. Dan aku menyetujuinya. Kebetulan, di sana ada kerabat Ayah, yang mau menampungku yang masih sangat awal mengenal dunia Islam.”

“Aku senang mendengarnya. Apa yang kamu rasa?” tanya Ashley.

“Aku merasa jauh lebih tenang. Aku sudah bisa baca Al-quran sekarang.” Kata Arthur tersenyum.

“Tapi kenapa kau tidak memberiku kabar?” Ashley bertanya lagi.

“Aku tidak ingin niatku terhalang oleh perasaanku.” Nada suara Arthur mulai canggung. “lagi pula, apa hak yang aku punya untuk mengabarimu.” Arthur memandangi gadis itu, dan Ashley pun terdiam. “Oh ya, aku sempat ke apartemen mu di Durham beberapa hari yang lalu, tapi tidak ada orang, lalu aku ingin bertanya pada Lyn, tapi aku tidak berhasil bertemu dengannya. Ternyata Allah membawaku bertemu denganmu ke sini.” Arthur tertawa memecah kecanggungan mereka. Ashley pun ikut tertawa.

Tanpa mereka sadari, orang tua mereka memerhatikan mereka dari kejauhan. Mereka semua tersenyum.

“Sepertinya ini memang takdir kita untuk menjadi satu keluarga.” Ujar Yusuf pada Darwis.

“Alhamdulillah..” Ucap Darwis lalu memeluk sahabatnya itu.

Perjodohan Ashley dan Arthur memang sudah direncanakan oleh orang tua mereka. Tanpa disangka, orang tua mereka melihat kalau kedua anaknya memang sudah saling mengagumi satu sama lain sebelum orang tua mereka menjodohkannya. Sungguh kebetulan yang indah.

***

Sebulan kemudian, Arthur dan keluarganya datang untuk resmi melamar Ashley. Tanpa rasa ragu, Ashley dan keluarganya pun langsung menerima lamaran itu. Arthur memberikan sebuah cincin emas putih dengan mata satu di tengahnya. Dengan di saksikan keluarga inti dan beberapa sanak saudara dari kedua belah keluarga. Maryam Ibu Arthur mengenakan cincin itu pada jari manis di tangan kiri Ashley.

Dua bulan berikutnya. Pernikahan mereka pun dilaksanakan dengan sederhana di rumah Ashley yang berlokasi di London. Lyn yang mendengar kabar itu sebelumnya pun langsung menuju London untuk menghadiri pernikahan dua sahabatnya itu. Ia juga sudah tidak sabar menunjukkan penampilannya sekarang pada Ashley.

Lyn yang baru tiba di lokasi pernikahan, langsung meminta izin untuk menemui pengantin wanita.

Aunty, boleh saya menemui Ashley?”

“Lyn? Kau cantik sekali! Ashley di kamarnya di lantai dua. Naik saja! Tangganya di sebelah sana.” Jawab Ibunya Ashley, kemudian terlihat sibuk kembali dengan beberapa keperluan pernikahan yang akan berlangsung setengah jam lagi.

Lyn memasuki kamar Ashley. Di dalamnya sudah duduk seorang perempuan cantik mengenakan gaun pengantin berwarna putih, dengan hiasan henna di tangannya.

“Ashley!” sapa Lyn. Ashley pun menoleh. Namun sepertinya Ashley terlihat kebingungan.

“Kau? Lyn? Bagaimana bisa?” Ashley terkejut dengan penampilan baru Lyn, yang kini berjilbab. Lyn memeluk sahabatnya itu.

Lyn menjadi mualaf sebulan lalu. Di tempat ia bekerja, ia bertemu seorang pria muslim, dan Lyn jatuh hati pada pria itu, dan sedikit demi sedikit mengenal Islam. Walaupun sebelumnya ia sudah tahu saat melihat Ashley dulu. Lewat pria itu Allah memberinya hidayah, dan akhirnya Lyn mantap memeluk agama Islam. Setelah Lyn menjadi mualaf, Pria itu pun langsung meminta Lyn menjadi istrinya.

Long story Ashley! Maaf aku tidak sempat mengundangmu di pernikahanku, acaranya dua bulan lalu, bersamaan dengan hari lamaranmu waktu itu, lagi pula acaranya bukan di sini, tapi di cina di rumahku. Dan entah kenapa aku merasa beruntung memliki keluarga yang mendukung dengan keputusanku soal keyakinan. Aku merasa hidupku lengkap sekarang. Suamiku orang yang baik.”

“Insyaa Allah menjadi istiqomah, dan pernikahanmu sakinah mawaddah dan warrahmah ya Lyn. Aku ikut bahagia. Suamimu ikut?”

“Ya, tentu saja. Dia ada di bawah.”

Tak lama Risma masuk, memberitahukan putrinya bahwa acara akan segera dimulai, karena mempelai pria sudah datang.

“Sayang, Arthur dan keluarganya sudah datang. Sebentar lagi Ijab kabul akan di laksanakan. Bismillah ya cantik.” Kata Ibunya lalu mengecup kening putrinya. “Lyn nanti tolong dampingi Ashley untuk turun ya.”

“Baik Aunty!”

“Ibu turun ya, Ibu tunggu kau di bawah.” Ucap Ibunya. Ashley mengangguk tersenyum.

Setelah suara lantang Arthur mengucapkan ijajb kabul, lalu doa pun dipanjatkan. Kemudian tak lama Ashley turun didampingi Lyn, dan beberapa sepupu Ashley dari lantai dua. Arthur bangkit dari duduknya lalu menghampiri perempuan yang sekarang sudah sah menjadi istrinya itu. Arthur menyambut, dan memegang tangan Ashley lembut. Arthur dan Ashley saling tersenyum. Fotografer pun tak ingin kehilangan momen itu dan langsung memotret.

Ashley dan Arthur saling memakaikan cincin. Lalu berfoto dengan mahar yang Arthur berikan pada pengantin wanita. Lyn dan suaminya menyaksikan kebahagian yang terpancar dari Arthur dan Ashley. Hal Itu juga terlihat dari dua keluarga yang hadir di momen sakral itu. Bahagia, haru, sedih, menjadi satu.

“Selamat ya Ashley sayang!” Ucap Lyn lalu memeluk sahabatnya.

Thank you Lyn.” Jawab Ashley. Kemudian Lyn tersenyum dan memperkenalkan suaminya. Arthur dan Ashley tersenyum sambil mengacungkan jempol. Mereka tertawa, setelah itu berfoto bersama.

***

Selesai acara, Arthur langsung membawa Ashley untuk ke rumah baru yang akan menjadi istana mereka yang masih berlokasi di London. Arthur sudah menyiapkan sebuah hadiah istimewa untuk sang istri. Arthur dan Ashley sudah berdiri di depan rumah mereka.

“Rumah yang indah.”

“Nanti akan aku belikan rumah yang lebih besar dari ini.”

“Tidak perlu, rumah yang sederhana tapi dipenuhi dengan cinta dan amal ibadah, itu akan jauh lebih baik.”

“Aku bersyukur menjadi suamimu, Ashley.” Kata Arthur tersenyum. “Oh ya, sebelum masuk aku akan menutup matamu.”

“Untuk apa?”

“Kejutan!”

Arthur membawa sang istri melangkah ke dalam rumah bergaya minimalis itu, dan menuntunnya masuk ke dalam sebuah kamar yang sudah dipenuhi dengan hiasan bunga, dan sebuah lukisan yang ditujukan untuk Ashley sebagai salah satu hadiah pernikahan.

Saat Arthur melepas ikatan di mata Ashley, pandangan Ashley langsung tertuju pada sebuah lukisan besar di hadapannya. Itu adalah lukisan dirinya. Lukisan yang sangat indah. Warna yang tergores pun, adalah warna yang menunjukan itu adalah Ashley. Arthur melukisnya khusus untuk sang istri.

Ashley meneteskan air matanya. Hari ini ia benar-benar bahagia. Ia bersyukur telah dijodohkan dengan teman yang baik, yang menjadi imam nya sekarang, dan ia berharap hanya maut yang memisahkan.

Arthur memeluk istrinya dari belakang, lalu berbisik di telinga Ashley.

“I love you my wife.”

Ashley berbalik badan, lalu memeluk suami di hadapannya dan berkata.

“I love you too my husband.”

-Selesai-

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya