"Kamu mirip siapa?” tanya salah seorang temanku.

“Nggak tahu yaa, menurutmu aku mirip siapa? Ayahku atau Ibuku?” aku balik nanya.

Advertisement

“Kamu tuh mirip Ibumu” jawabnya.

Iya aku mirip denganmu Bu, mulai dari bentuk wajah yang bulat, bentuk hidung yang sama, gigi bahkan sampai bibirpun hampir sama, hanya beda matanya saja, Ibu bermata lebar, sedangkan aku bermata sipit ya Buu.

Rasanya rindu sekali menjadi anakmu Bu, setelah menikah dan pergi jauh seakan-akan aku tidak mendapatkan kasih sayangmu lagi, bagaimana tidak, belum pasti kita bisa bertemu setahun sekali, karena tempat tinggalku yang sangat jauh. Terkadang aku iri dengan teman-temanku Bu, yang meskipun sudah menikah tetapi masih bisa sering-sering bertemu dengan Ibu mereka, pergi belanja bersama, sampai hanya mengobrol hal yang tak penting.

Advertisement

Terimaksih Bu yang ketika kami (aku, mas, adikku) dimasa kecil senang sekali mencoret-coret dinding rumah, mengotori rumah tanpa mau membersihkannya, yang susah sekali disuruh mandi, yang ketika hari libur selalu menonton tv hingga lupa waktu dan membuat Ibu marah-marah.

Terimakasih Bu yang selalu berusaha memasak makanan kesukaan meskipun kondisi ekonomi keluarga terbatas, dan tidak mempermasalahkanku yang tetap tak bisa memasak saat dewasa.

Terimakasih Bu, telah dengan rela mengandungku selama 9 bulan lebih, mengalami kesulitan makan, berjalan, tidur, duduk, dan sampai akhirnya melahirkanku kedunia yang sangat indah ini dengan susah payah. Dengan telaten merawatku ketika aku sakit, yang terjaga semalaman hanya untuk memijatku supaya badanku terasa enak.

Terimakasih Bu yang telah mengajariku tersenyum, berbicara, berjalan, menyuapi makanku, membersihkan kotoranku tanpa rasa jijik, mengajariku menulis, membaca, dan menggambar. Terimakasih Bu yang dengan rela meluangkan waktu hanya untuk menemaniku bermain meski pekerjaan rumah tangga menumpuk. Terimakasih Bu untuk didikanmu dari kecil sampai dewasa hingga aku menjadi seperti ini.

Terimakasih Bu yang selalu memberi semangat untuk mencapai apa yang aku inginkan, mencapai cita-citaku. Terimakasih Buu yang telah mengarahkan untuk setiap pilihan yang terasa sulit untuk memilihnya. Dan maafkan aku Ibu jika sampai sekarang aku sama sekali belum bisa membuat Ibu bangga dan membahagiakan Ibu, hanya bisa merepotkan dan membuat Ibu sedih. Sungguh maafkan aku Ibu.

Aku merindukanmu bu, ingin sekali pulang dan berlama-lama dirumah. Semoga kelak aku bisa merawat Ibu dan Bapak di usia senja nanti, meskipun tidak bisa serumah setidaknya seminggu sekali aku ingin bisa bertemu. Menghabiskan waktu bersama dan membicarakan hal-hal yang nggak ada gunanya. Sesekali berlibur bersama, jalan-jalan ke tempat impian, ahh semoga suatu saat bisa kesampaian ya Bu. Untuk itu sehat dan bahagia selalu ya Bu, dirimu tak akan pernah tergantikan oleh siapapun.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya