Konflik hidup pasti dialami oleh setiap individu terutama kami para mahasiswa. Konflik yang paling dekat adalah masalah pertemanan. Banyak orang berteman dengan orang yang salah, mungkin terdapat ketidakcocokan atau mungkin faktor luar yang mempengaruhi pertemanan itu sudah tak harmonis lagi. Salah satu contoh konkretnya adalah pemanfaatan teman.

Memang berteman dengan orang yang mempunyai kepribadian yang berbeda itu sulit, tetapi bagaimana kita sebagai seorang teman yang baik seharusnya dapat mengerti dan memahami watak dan sifat teman kita sendiri. Selama sikap atau perilaku yang muncul tidak meresahkan atau bahkan membuat hubungan pertemanan tak harmonis, mungkin bukan sebuah masalah besar. Tetapi jika sebuah sikap tersebut telah menyakiti salah dari seorang teman tersebut maka memicu pertengkaran bahkan tidak lagi saling menyapa.

Advertisement

Teman adalah tempat kedua saat kita ingin berbagi cerita setelah pencipta. Teman bisa memberi solusi bahkan memberi jebakan, tinggal bagaimana kita bisa mencerna apa yang teman katakan. Sayang sekali jika ada seorang teman yang hanya mengambil manfaat dari teman lainnya, selayaknya berteman itu adalah saling membantu dan berbagi. Jika terdapat seorang teman yang hanya memanfaatkan, ingatkan, katakan atau bahkan sadarkan apa yang di perbuat adalah salah bahkan bisa membuat teman kita itu dijauhi oleh orang lain karena sikapnya yang seperti itu. Kita sebagai orang yang dimanfaatkan sebaiknya menjauh jika memang seorang teman tersebut memiliki kebiasaan buruk.

Teman memang tempat yang mungkin paling nyaman untuk sekedar berbagi cerita atau mencari solusi sebuah masalah. Namun tetap, teman tak selamanya menjaga apa yang telah kita bagi tanpa berfikir apakah itu adalah sebuah privasi atau semata-mata hanya cerita biasa belaka. Terkadang sebuah pertemanan tidak harus membuka segala privasi yang kita punya. Seraplah apa yang menjadi pembelajaran, hilangkan apa yang menjadi efek negatif bagi diri sendiri.

Beberapa orang mungkin berpikir bagaimana bisa memilih teman yang baik atau tidak, padahal awal pertemuan, kita tidak pernah mengerti bagaimana cara membedakan, cara mengenali sifat dan sikap seseorang yang baru. Awali dengan segala apa yang umum yang dapat diperbincangkan, kenali seluruh kalimat yang terucap, kenali karakter seperti apa seorang teman itu dari tutur katanya. Karena sebagian orang dapat dikenali sifat perilaku dari sebuah tutur kata yang diucap, bukan dari sebuah penampilan luarnya.

Advertisement

Beberapa teman bahkan memiliki sifat cenderung meniru, mungkin iri sedikit. Segala hal yang kita ceritakan, bahkan benda yang kita miliki, dalam lubuk hatinya ingin sekali memiliki juga. Bukan berarti ini adalah ingin merampas hak, tapi ingin menyamaratakan atas dirinya dengan apa yang kita miliki. Jika sesuatu hal itu dalam batas wajar, ya boleh saja, namun jika sudah melampaui batas sehingga membuat kita menjadi tidak nyaman, berarti dia cenderung memiliki iri di dalam hatinya.

Teman seperti inilah yang harus kita awasi, karena selain menyiksa kita sebagai pribadi yang dianggap tidak boleh melampaui dirinya, kita juga semakin berfikir tidak pernah puas atas apa yang kita miliki sendiri. Karena kita sebagai bahan iri, pasti tidak akan pernah berhenti untuk melakukan hal baru atau membeli sesuatu yang baru dan menyebabkan sikap yang tidak pernah puas atas apa yang sudah kita dapat.

So, jadilah teman yang baik dan bertemanlah dengan yang baik.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya