Aku terduduk di bawah bangunan bernama kenangan. Remah-remah cahaya mentari berpamitan pada senja yang semakin pudar. Senja ini, lentikkan bulan di separuh ujung pandang. Ada ingatan yang mengular, tak wangi tapi aromanya kusukai. Seperti secangkir kopi yang kau suka, tanpa menyesapkan. Aku hanya menyunting ingatan. Menaruhnya di tempat yang seharusnya. Membiarkannya tetap begitu. Merindui waktu.

Disana aku teringat. Seseorang memberiku kepercayaan bahwa akan ada senja yang sama saat kita memulai hidup masing-masing. Senja yang membuat teriakan kita semakin riuh di udara. Dan aku hanya terdiam, memaknai kalimat-kalimat itu. Dengan mata sayu, pikiran rancau, dan hati bergemuruh.

Advertisement

Aku yang hanya mampu menikmatimu dari belakang. Membiarkan bayangmu semakin hilang. Memandangi langkahmu yang menjauh dari jangkauan. Kamu.. pergilah semaumu dan aku akan menunggu semampuku. Lantas bagaimana bila aku tak mampu? Aku takut kehilangan. Ataukah kau justru senang?


Kamu, ingatkah kita sering berburu senja hingga ke penjuru kota? Lantas sesampainya, kita sama-sama menikmatinya dalam diam. Meresapinya dalam-dalam. Senja ini kebiasaanmu masih sama, kan? Hari ini kau sedang merenungi apa?


Aku disini, terduduk tiada daya di perburuan senja terjauh kita. Di ujung utara Jawa, Pantai Tanjung Gelam. Kau tak mungkin lupa, kan?Hmmm, kau tahu mengapa senja lebih romantis dari fajar? Apa karena perpisahan lebih mudah dikenang daripada pertemuan?

Advertisement


Tapi aku tak ingin melupakanmu cepat-cepat. Sebab luka yang kau buat justru semakin pekat bila kupaksa berobat.


Biarkan, bila saatnya nanti, waktu yang akan mengajarkan padaku tentang alasan melepaskan. Waktu yang akan menyembuhkan. Usahlah kau bersikeras mempercepat atau memperlambat. Semua ada waktunya.

Kamu, hati-hati di jalan ya. Jika di persimpangan jalan itu, kau menemukan sosok yang baru. Tak apa, do'akan aku selalu bisa menerima yang menjadi jalanku ya.


Darimu aku tahu bahwa semua ada batasnya. Dan batas itu ada karena kesepakatan yang kita buat. Bukan tentang inginku saja. Tetapi, perihal inginmu. Aku akan coba menuruti. Sebab untukku, kau pantas kudahulukan.


Senja di Batas Kota, dari gadis yang masih memunguti bekas jejak sepeninggalanmu

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya