Seiring waktu berlalu, kamu masih sering kali muncul dipikiran. Belum juga mampu kuhilangkan dari ingatan. Padahal aku sudah lupa kapan terakhir kali kusampaikan bahwa aku cinta. Kita tak lagi bertemu hingga menghentikan segala komunikasi yang pernah ada. Bukan, bukan aku pergi. Aku hanya mencoba mengasing dari hidupmu sementara waktu.

Biar kuberitahu, menunggumu dalam waktu yang cukup lama bukan perkara sederhana. Kadang aku juga goyah dan ingin menyerah karna lelah begitu sering menghampiri. Keyakinanku sebenarnya tinggi bahwa kamu akan kembali lagi nanti. Permintaanku untuk bisa mendengar jawabanmu secara langsung perihal alasanmu meninggalkan masih belum juga kudapatkan. Bahkan hingga tulisan ini kubuat, kamu sepertinya belum ada niat. Jangan meragukan kesabaranku untuk menunggumu lebih lama lagi. Jangan meragukan seberapa tabah aku menunggu ketidakpastian yang kamu tawarkan. Kamu cukup tahu seberapa keras kepalanya diri ini mendampingimu di waktu-waktu yang seharusnya aku sudah berlalu.

Advertisement


Ingatkah hari dimana kita pernah berjanji untuk selalu melengkapi? Aku kira hanya aku saja yang masih setia dengan janji itu, tapi kamu tak lagi mau tahu.


Tentang pertemuan yang tak ingin kamu hadirkan. Tentang harapan yang kamu takutkan akan kembali ada di antara kita. Seharusnya tak usah kamu khawatirkan. Aku tak berharap untuk bisa kembali bersama denganmu. Kamu tahu alasanku cuma satu, mendengar kejelasan dari kepergianmu yang tiba-tiba disaat aku yang sedang cinta-cintanya.

Aku berharap keterbukaan hatimu untuk menyampaikan apa yang salah di antara kita dahulu. Jika itu tak penting lagi buatmu. Jika bagimu itu tak akan merubah apapun di antara kita. Tak mengapa, tapi kumohon sampaikanlah. Kamu hanya lupa satu hal. Tak pernah menanyakan seberapa pentingnya jawabanmu untuk kelanjutan hidupku. Tak perlu menutup diri dariku.

Advertisement

Aku juga tak berniat mengganggumu. Hanya saja, ada beberapa hal yang bagiku belum selesai dan terus menganggu pikiran. Mengganjal aktivitasku seharian. Semuanya masih tentang berakhirnya kebersamaan kita yang sempat kuyakini tak akan menemui kata selesai. Tapi akhirnya memang usai juga.


Aku tak ingin memaksa seseorang untuk menetap yang hatinya saja tak ingin. Perkara perasaan memang tak bisa dipaksakan. Aku akui itu.


Jika ingin berlalu. Silahkan. Aku akan lebih tabah lagi menunggu dalam sabar yang panjang. Dalam waktu yang entah sampai kapan. Aku hanya berharap agar waktu lebih cepat menyadarkanmu untuk segera menyampaikan, sebelum waktu yang lebih cepat menghilangkanku. Apabila terjadi, tak akan lagi bisa kamu temui sosokku. Tak akan lagi kamu dengar suaraku secara langsung di pinggir kota itu yang asing bagi kita berdua.

Mungkin sesekali rindu hadir di hatimu. Kamu akan merasa kehilangan betapa menjengkelkannya aku yang tak pernah bisa berhenti menyayangimu berapa kali pun kamu sakiti. Datanglah kapanpun jika keikhlasan mampu membuatmu membuka diri untuk kembali. Jangan sungkan untuk menyapa walau kedatanganmu saat dini hari. Akan tetap kuterima kehadiranmu juga meski di tengah kesibukanku. Sejujurnya aku tak bisa menjanjikan untuk selalu ada dan menyambut saat kembalinya dirimu. Tapi kupastikan aku akan berusaha tetap ada untukmu jika Tuhan masih memberiku umur yang panjang.


Aku cukup tangguh menanggung segala rindu yang terus menggunung. Berbahagialah di antara jarak yang kau ciptakan saat ini. Jika ada izin, Tuhan pasti kembali mendekatkan.


Membahas tentang hatiku yang pernah kamu miliki. Tak pernah kutemukan perempuan yang mampu membuatku jatuh separah ini. Tak pernah kujumpai perempuan yang mampu meluluhkan hati hingga namanya melekat sedekat nadi. Tak pernah kudoakan dalam malam-malam yang panjang hingga tak ada mengingatnya hingga petang. Tak pernah kubincangkan namanya pada Tuhan yang seringnya bahkan menyaingi orangtuaku sendiri.

Pengecualiannya adalah kamu. Sosok yang mampu membuatku menatap hubungan dengan begitu serius. Sosok yang membuatku mengerti akan sebuah arti sehati. Sosok yang membuatku paham akan sebuah pengorbanan. Sosok yang membuatku tak kenal menyerah meski sesekali terasa lelah. Sosok yang mengajarkan betapa pentingnya komitmen untuk dipertahankan. Kamu masih segalanya bagiku hingga kini meski tak lagi di sisi. Aku tak pernah peduli bagaimana kamu menilaiku sekarang. Tapi kuharap kamu mengenangku sebagai hal baik selayaknya aku mengenangmu hingga waktu-waktu yang akan datang.


Kamu pemilik segala asa dalam diri. Kamu pemicu segala upaya agar aku lebih leluasa menaklukan dunia. Sederhananya aku menawarkan diri untukmu saat ini, adalah doa yang masih dirapalkan tanpa henti.


Aku sedang mengundang keikhlasan saat ini. Melesap perih di hati atas penantian yang kamu abaikan. Merebahkan segala luka yang belum hilang juga. Aku baik-baik saja dalam arti yang sebenarnya. Aku tak ingin kamu datang membawa jawaban tak jujur hanya karena aku kesakitan. Aku tak ingin kamu mendapat kabarku dari orang lain bahwa hidupku berantakan hingga akhirnya ketidakjujuran kamu sampaikan demi menenangkanku dari peratapan.

Aku ingin agar hatimulah yang menuntunmu datang lagi kepadaku. Membawa jawaban dalam genggaman yang selama ini kunantikan atas dasar kepedulian, bukan belas kasihan. Hilangkan pikiranmu bahwa aku ingin kembali bersama denganmu. Hilangkan pikiranmu bahwa cintaku masih sama besarnya seperti dulu, meski jika kamu tanya aku akan membenarkannya.

Ketahuilah, kamu tak lagi masuk dalam kompartemen butuh dan rinduku. Aku hanya mengharap kepastian tentang ke-kita-an yang rasanya berakhir dalam paksaan keadaan. Setelah kepastian akan jawaban yang selama ini ditunggu kudapatkan, kamu boleh pergi lagi. Dan tolong bawa sisa-sisa kenangan kita agar aku lebih cepat lupa bahwa aku pernah kamu lukai tanpa permisi.


Pahamilah, jika kisahmu masuk dalam segala tulisanku. Hanya ada dua kemungkinan. Aku benar-benar cinta atau aku benar-benar benci. Sepenting itu.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya