Aku terbangun di waktu Tuhan turun untuk memeluk doa dan mimpi hamba-hambanya di muka bumi. Keheningan seperti ini, mengingatkanku di saat lembur tugas tingkat satu yang banyak dan tiada akhir. Masa audiensi yang pendengarnya tak kunjung puas, serta kenikmatan berdua dengan Tuhan untuk bertanya banyak hal termasuk tentang ‘siapa’ dan ‘kapan’.

Orang bilang, di heningnya malam tahajud hadirkanlah dia dalam doa di ujung sajadahmu. Namun aku bingung karena jujur, aku tidak tahu harus mendoakan siapa dan kapan. Aku lebih suka berdoa tentang siapa dan kapan yang masih misterius.

Aku lebih suka bertanya-tanya pada diriku dan Tuhan, tentang siapa yang akan menjadi teman pendakianku kelak? Orang yang berani-beraninya menjadi bagian dari hidupku dan menambah tanggungjawabku kepada perempuan lain seperti Ibu dan adikku. Siapa dia? Sedang apa dia sekarang? Untuk apa masa mudanya ia habiskan? Apakah ia berkacamata? Bagaimana indahnya senyum dan pandangannya? Bisakah dia memasak? Bisakah dia menjadi teman diskusi di pagi yang cerah sambil menyeruput secangkir kecil teh dan kue-kue?

Bisakah dia menjadi katalis bagi kekuranganku yang segudang dan kelebihanku yang sedikit? Dari milyaran umat manusia di dunia, kenapa dia untukku dan aku untuknya? Bisakah aku bertanggungjawab padanya? Kapan kita akan bertemu? Jangan-jangan sudah bertemu sejak kecil lalu bertemu kembali saat dewasa, atau memang teman sepermainan sejak bertahun-tahun lamanya, atau malah baru bertemu nanti di saat waktu yang tepat?

Segalanya tentang si ‘siapa dan kapan’ itu selalu misterius bagiku. Kalau bisa, aku ingin bertukar pesan kepada si siapa itu sejak sekarang untuk tahu banyak tentang dirinya dan agar ia juga tahu banyak tentang diriku. Namun ternyata Tuhan tak memperkenankannya karena mungkin, dia ingin memberikan kejutan-kejutan romantis saat si ‘kapan’ tiba. Bisa jadi dia sama-sama menyukai buku yang kubaca sehingga kami bisa bertukar pikiran. Bisa jadi kami tak ada yang pandai memasak hingga harus belajar berdua. Atau bisa jadi aku suka ketenangan khas desa, sementara dia suka keramaian ala tengah kota. Bisa jadi banyak hal.

Advertisement

Untuk 'siapa' yang akan tiba kapan waktunya, jaga diri baik-baik, ya! Insyallah kita akan bertemu di persimpangan jalan untuk menuju jalan-Nya yang lurus.