Manusia memiliki keterbatasan dalam hidupnya semenjak kecil. Tak berdaya. Kata ini cukup menggambarkan kemampuan anak manusia ketika lahir. Hanya tertidur pulas dan sesekali merengek lapar. Menginjak sedikit dewasa ia mulai berusaha meraih dan bangkit, namun lemah. Masih tak mampu.

Para orang tua mengingkari banyak hal untuk memastikan anak-anaknya aman dan sehat. Mereka mendekapnya sepanjang waktu. Mengamati secara utuh tanpa sedikitpun celah yang terlewatkan. Tumpahan kasih sayang tak henti mengalir. Tak memberikan batasan ruang dan waktu di antara mereka. Sekali lagi, untuk meyakinkan diri dan memastikan anak-anaknya tumbuh dan berkembang dengan baik.

Advertisement

Sistem dan siklus ini terulang. Masih sama, tak ada yang cukup untuk dikatakan berubah. Untuk kelahiran yang kesekian kalipun tak ada orang tua yang bosan dengan ringkihan. Hidup seperti mendapatkan tumpahan udara dari surga ketika tangisan kecil muncul tenggelam. Tak ada yang meragukan lagi, parameter senyuman paling bahagia adalah senyum seorang ibu yang melihat anaknya menyunggingkan sedikit bibir untuk menyerupa senyuman.


Sampai kapan orang tua memiliki batas henti ataupun ruang jeda untuk melepaskan diri dari bayang-bayang anak?


Banyak fenomena yang terjadi ketika orang tua harus membagi waktu dan memberikan dirinya pilihan antara anak dan pekerjaan. Seorang ibu adalah yang paling limbung dalam situasi ini. Mereka mengemban tanggung jawab yang serius untuk kebaikan anaknya secara lahir dan batin.

Advertisement


Seorang ibu takkan tergantikan dengan dot maupun susu kaleng aneka merk. Dekapan seorang ibu takkan tergantikan dengan selimut hangat. Bahkan dekapan seorang ayah sekalipun. Namun tak adil juga mengesampingkan arti seorang ayah untuk anaknya. Kedua orang ini adalah orang yang paling kebingungan ketika suatu saat mereka harus membagi ruang dan waktu pada anak-anaknya.


Pekerjaan adalah salah satu hal yang bisa mengambil waktu seorang anak dari orang tuanya. Memilih keduanya adalah sebuah keharusan bagi orang tua. Tak ada pilihan ataupun memilih. Untuk menjamin masa depan anak yang baik orang tua harus bekerja sebaik mungkin. Namun hal ini sekaligus membuat mereka meninggalkan anaknya dalam waktu yang cukup banyak.

Waktu memang akan berjalan cepat. Anak-anak tumbuh dewasa dalam sekejap. Mereka dalam usia remaja bisa melayani diri sendiri secukupnya. Anak-anak mulai mengenali situasi keluarga terutama orang tuanya. Lantas apakah ini berati orang tua merasa cukup? Sungguh tidak.

Perkembangan teknologi seolah memberi batas antara zaman orang tua dan zaman sang anak. Internet dan media sosial merengkuh banyak waktu manusia termasuk anak-anak. Media sosial memberikan ruang baru yang luas dan menyenangkan. Hal ini sebenarnya sangat membantu orang tua untuk dapat berinteraksi dengan anaknya. Mereka dengan mudah mengetahui kegiatan yang dilakukan. Jarak bukan lagi penghalang untuk berbicara secara bertatap mata. Layanan media sosial membantu para orang tua dalam hal-hal tertentu.


Namun, nyatanya perkembangan teknologi ini tidak seutuhnya baik. Media sosial bisa menjadi neraka dalam sekejap. Pelaku kejahatan terhadap anak berkeliaran tanpa terdeteksi.


Orang tua yang peka pada anak tak pernah merasa cukup. Cukup untuk mengetahui bahwa dunia memberi kenyamanan pada anak-anak ini. Kekhawatiran selalu datang tanpa diduga. Melihat fenomena yang terjadi, adalah orang tua yang normal dengan kekhawatiran ini. Banyak sekali kasus akhir-akhir ini yang menjadikan anak sebagai korban. Mulai dari penculikan anak untuk diambil organ tubuhnya, sampai pada kekerasan seksual. Anak-anak seperti tak memiliki tempat yang aman. Di dunia nyata ada hal-hal yang selalu mengancam keselamatan anak. Di dunia maya (media sosial) sekalipun memiliki tingkat bahaya yang sama.

Keterancaman seorang anak dari bahaya adalah prihal kepedulian orang tua terhadap keselamatan anak. Ini lebih dititikan pada orang tua bertindak sebagai penjaga atau pelindung anak dari marabahaya yang datang dari berbagai sisi. Di sisi lain secara sekaligus orang tua harus memperjuangkan anak-anaknya untuk mencapai cita-cita. Dua hal ini adalah sesuatu yang sangat rumit. Membutuhkan kepekaan dan kepedulian yang utuh. Mengantarkan anak pada cita-citanya bukan hal yang akhirnya menjadi penting. Cukup memastikan anak itu aman, masih bisa tersenyum, masih ada di kala orang tua itu bangun, adalah hal yang paling penting. Di zaman ini rasa aman untuk anak adalah harga termahal yang tak bisa dibeli dengan apapun.

Kegilaan zaman ini sungguh memuat orang tua merasakan anaknya tidak memiliki tempat yang aman untuk tumbuh dan berkembang dengan baik. Mereka merasakan ancaman dari berbagai sisi. Akibatnya adalah dalam situasi ini orang tua cenderung lebih fokus terhadap penyelamatan anak. Orang tua tak cukup memiliki kenyamanan jika menilik kasus-kasus yang sangat mencengangkan.

Orang tua memberikan segalanya pada anak. Sampai mereka tak pernah adil dalam membagi waktu pada diri sendiri dalam hal karier, kesenangan, liburan, dan lain sebagainya. Mungkin sebagian orang tua bisa melalukannya dengan baik tapi tak banyak. Orang tua banyak yang membiarkan kariernya berlalu untuk kepastian perkembangan anak. Terutama seorang ibu. Jika pun mereka terpaksa meninggalkannya, kepedihan dan kewas-wasan tak henti membayang.

Kesadaran diri terhadap kenyataan ini sangat diperlukan. Mengingat ancaman terhadap anak mengitar tanpa henti. Mereka tak punya cukup ruang untuk bermain sekalipun. Adalah kepedulian yang utuh dari orang tua yang menentukan nasib mereka. Inilah kesengsaraan yang nikmat yang hanya dirasakan oleh para orang tua yang perkasa dan peduli.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya