Surat terbuka untukmu, bacalah isinya dengan ditemani kebab kesukaan dan kopi caramel frapucinno favoritmu. Karna kukira ini akan sedikit memancing emosimu.


Akhirnya aku paham tentang kedekatan kalian berdua selama ini. Dan ini ada hubungannya dengan berakhirnya hubungan kita. Kau bukan sosok yang bisa sepenuhnya dipercaya, bukan pula sosok dewasa yang mampu mempertahankan komitmen yang ada. Kau bahkan tak yakin akan dirimu sendiri jika kau mampu. Kau selalu terjebak pada kondisi yang sama. Kondisi dimana kau menjalin hubungan namun dekat dengan orang baru yang belum lama kau kenal dibanding diriku. Parahnya adalah kau terlalu dekat hingga menimbulkan rasa nyaman. Pada akhirnya kau memilih jalan tersebut. Memilih menghindari komitmen tanpa perlu ada hubungan yang mengikat.

Advertisement

Kini, kau tak ingin ada komitmen dalam kedekatanmu dengannya. Kau lebih memilih berteman namun mesra layaknya sepasang kekasih. Aku cukup mengerti alasanmu, kau hanya tak ingin mengulangi kesalahan yang sama jika nanti kau dihadapkan dengan kondisi itu lagi. Kutahu kau telah sangat nyaman dengannya namun masih dihantui rasa bersalah pada dirimu sendiri karna terus mengulangi kesalahan yang sama. Tapi kita hanya menunggu waktu saja. Perkiraanku bisa jadi kenyataan tentang kedekatan kalian yang akan tetap berujung pada status pacaran. Hingga nanti tiba saatnya kau yakin bahwa kau mampu memegang komitmen dalam hubungan. Selagi kau berproses memperbaiki diri, kau tak ingin kehilangannya.

Inti dari masalahmu adalah tentang bagaimana kau bersikap. Apa yang kau jalanin dengannya ternyata sama-sama berbagi rasa dan selalu menghabiskan waktu berdua. Yang kurang hanya status yang tak bisa mengikatmu, kan? Sekalipun pada dasarnya kau tak pernah ingin melakukan segala kecurangan ketika menjalanin sebuah ikatan. Kau takut itu terulang hingga dengannya kau jalani hanya sebatas teman.

Jika kita membahas tentang rasamu padanya. Bukankah rasa itu sudah cukup besar? Hingga beberapa kali kau rela berkorban dan meluangkan waktu deminya. Tentang rasamu padaku bahwa kau lebih menyayangiku dibanding dia, kurasa itu hanya hal biasa yang tak layak lagi diperjuangkan. Apa aku salah? Kurasa itu hanya perasaan yang belum sempat lenyap karna belum lama kita berpisah meskipun kau telah menemukan kenyamanan yang baru. Waktu yang akan memastikannya. Sayangmu padaku pada akhirnya akan berlalu.

Advertisement

Tentang percakapan kita malam itu saat kau bilang bahwa salahnya ada padaku. Sekeras apapun aku memintamu untuk bertahan, alasan terbesarnya hanya karna kau bilang aku tak cukup baik untukmu dan kau menginkan agar aku berubah jadi lebih baik. Klise. Aku kira itu hanya kepedulianmu atas sosokku yang kini hanya kau anggap teman. Sekalipun nanti aku telah berubah, darimana kau tahu bahwa aku telah melakukannya jika kau saja tak berada disampingku? Kau tak akan pernah tahu bagaimana aku nanti karna kau sudah lebih dulu mengikat janji dengannya.

Yang membuat hubungan kita tak kembali bukan karna sifat emosionalku, tapi karenamu sendiri yang tak bisa menjaga sikap dan hati. Kembali lagi, kau bukan sosok yang bisa dipercaya karna sikap dan ucapanmu berbeda. Kau tak yakin pada dirimu sendiri. Kau tak mau memberi harapan yang tak bisa kau pegang. Kau selalu melanggar komitmen yang bahkan kau sendiri yang menciptakan. Kali ini, kau hanya menghilangkan batasannya dengan menjalin hubungan dengannya. Bukan menghilangkan permasalahan utamanya.

Kita berdua paham, kau tak seterbuka itu pada dirimu sendiri. Aku sangat memperjuangkanmu dan kita pernah saling bantu pada tiap masalah yang kita hadapi berdua. Tapi kau malah mempermainkannya dan tak menghargai segala jerih payahku. Kini aku merasa sangat lelah menjadi pihak yang selalu disalahkan atas semua permasalahan yang ada. Jika kita lihat lagi keadaannya, kau yang salah karna telah berlaku curang dalam hubungan, bahkan kaupun tak bisa menghargai perjuanganku. Apa kurangnya aku untukmu? Apa karena sikapku dengan melukai diri di akhir hari ketika kita berpisah? Kemudian semakin menjadi salahku ketika aku ingin menyerah dengan hidup? Kenapa kau hanya melihatnya dari tindakanku, bukan alasan dibalik kenapa aku melakukannya.


Bukan hanya hubungan kita. Sebelum kamu berkomitmen denganku, kamu telah melakukan kesalahan yang sama dulu.

Kamu selalu memilih orang baru yang hadir dalam hidupmu.


I love you so damn much, but not this fvcking way. Seandainya kau bisa lebih jujur terhadap dirimu sendiri, kau tak akan sebegitu jahatnya mengkhianatiku separah ini. Jika kau bertanya padaku apa aku akan tetap bertahan? Akan kujawab "iya" dengan lantang. Aku masih ingin memperjuangkanmu. Kukira caraku salah, kukira alasan dibalik kau tak ingin kembali adalah segala kekuranganku. Ternyata alasanya justru kau.


Yang perlu berubah itu bukan aku, tapi kamu. Siapa yang membuatku separah ini? Kamu.


Mohon maafku padamu jika kusampaikan ini lewat tulisan. Aku hanya baru menyadarinya. Jika yang kusampaikan ternyata salah, silahkan beri tahu salah pahamku di lain waktu ketika kau selesai membaca semua. Dan tolong beritahu apa yang tak aku tahu tentangmu, tentang kita, juga tentang hubunganmu dengannya.

Sejujurnya aku telah memaafkanmu. Tak ada dendam dalam hatiku. Dengan dibuatnya tulisan ini pun tak ada perasaan marah padamu sedikitpun. Aku hanya kecewa pada diriku sendiri yang terlalu lama menyadari keadaan kita berdua. Aku tak berlogika dan terlalu mengikuti rasa. Cintaku padamu terlalu besar. Perlu aku sampaikan padamu semoga ini bisa membantu menyadarkanmu untuk tak kembali melakukan kesalahan yang sama. Sekalipun pada akhirnya kita tak akan pernah berbicara lagi. Aku selalu berdoa pada Tuhan agar segala kebaikan tetap menghampirimu. Aku selalu memohon pada-Nya agar segala kesalahanmu padaku tak melahirkan karma di masa depan. Aku harap kau selalu bahagia terlepas bagaimanapun kondisiku sekarang.

Mungkin aku akan kau anggap sebagai sosok yang tak punya hati karna telah berbicara seperti itu. Mengatakan semua dari sudut pandangku saja. Yang kulakukan pula bisa jadi hanya menambah beban pikiranmu. Aku hanya ingin kau berubah menjadi lebih baik demi orang yang kau sayangi entah dia yang tengah bersamamu sekarang atau sosok lain di masa depan. Memang cuma dirimu sendiri yang bisa menyelamatkanmu. Tapi aku disini mencoba membantu menyadarkanmu sebagai seseorang yang dengan parah pernah kamu lukai.


Sekali lagi, kutulis ini semua bukan dalam keadaan marah. Aku baik-baik saja sekarang. Dan aku nggak dendam sedikitpun bahkan nggak merasa harus membalasmu atas semua luka yang ada.


Hati kecilku berharap semoga apa yang aku sampaikan tak benar adanya hingga akhirnya kau jadi membenciku. Karena kuharap kau tak sejahat sesuai ucapanku. Aku sangat tahu sosokmu. Kita pernah sama-sama merasakan berjuang sendirian. Kamu pernah berjuang sendiri demi seseorang di masa lalu. Aku pun pernah dan masih berjuang sendiri sekarang, untukmu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya