Hei tuan yang pernah menjadi cinta pandangan pertamaku. Engkau yang pernah sekilas mengisi pikiran dan hatiku. Mungkin tidak hanya sekilas, karena melupakanmu adalah hal yang sangat sulit dan aku tidak akan mencoba, apalagi memaksa untuk melupakanmu. Aku akan membiarkan ini menjadi kenangan yang akan hilang seiring berjalannya waktu. Dengarkanlah sekilas cerita hatiku, alasan yang membuat aku tak mau mencintaimu lebih lanjut.

Alasan yang membuatku berani mengatakan "Engkau belum bisa memahamiku"

Cerita ini akan aku awali dengan pertemuan kita, pertemuan yang membuat aku yakin kau adalah cinta pandangan pertama. Perkenalan sekejap di antara kita dan dalam hitungan detik aku merasakan seperti sengatan listrik kecil disekujur tubuhku.

Aku telah menyukaimu hanya dari perkenalan singkat ini. Tapi aku belum yakin kalau aku menyukaimu. Aku membutuhkan waktu untuk memahami ini.

Aku terus menyukaimu dalam diam dan terus memperhatikan tingkah lakumu untuk meyakinkan diriku "bahwa aku benar telah jatuh cinta padamu". Aku hanya bisa memberikan sedikit kode yang akan menunjukan tentang perasaanku ini. Tapi aku tidak yakin kau akan memahaminya.

Advertisement

Perasaan raguku telah membuat aku telat selangkah dengan teman kita. Dia yang berhasil mendapatkanmu dan aku terus memikirkan sebab kalian jadian. Kata 'mungkin' langsung terpikirkan olehku, karena aku tidak berani bertanya sebabnya ke kalian. Mungkin karena dia lebih berpengalaman dalam melakukan hal ini, makanya dia bisa mendapatkanmu dengan mudah. Mungkin kau duluan yang menyatakan cinta padanya. Mungkin kode yang aku berikan kurang terlihat jelas. Mungkin tak terbesit dipikiranmu untuk menyukaiku yang bukan siapa-siapa ini.

Hari demi haripun telah berlalu dan "anehnya" kita masih bisa berteman meski kehidupan kita berbeda jauh. Telah banyak gadis yang lalu lalang dan terpakir di hatimu. Satu alasan baru untuk aku meyankinkan diri bahwa kau hanya sekilas di hatiku. Karena aku mempunyai pemikiran "jika mereka saja bisa silih berganti mengisi hatimu, apalah dayaku seoranng gadis yang mencintaimu dalam diam dan takut akan penolakkan ini". Mungkin kau belum menemukan cinta yang tepat

Suatu hari aku juga telah memiliki pasangan, mungkin ini orang yang ketiga atau keempat yang singgah dihatiku. Entalah, aku tak memikirkannya. Aku belum menemukannya!! Seseorang yang tepat bagiku dan seseorang yang bisa melihat kekurangan dan kelebihanku tanpa menghakimiku.

Hingga tiba pada suatu kejadian, saat aku dan kamu mengutarakan isi hati masing-masing. Aku tidak ingat apa pemicunya yang membuat kita saling mengutarakan perasaan.

Kau berkata padaku, bahwa sesungguhnya kau menyukaiku dan masih menyukaiku hingga saat ini.

Kau berkata bahwa gadis-gadis yang pernah menjadi kekasihmu itu tidak cukup menjadikan alasanmu untuk melupakanku.

Kau berkata bahwa kau takut mengutarakan perasaanmu padaku, karena begitu banyak sainganmu untuk mendekatiku. Karena aku gadis populer, meski masih banyak gadis yang lebih cantik dan lebih populer dibanding aku.

Kau juga berkata bahwa kau takut menyatakan perasaanmu karena aku gadis kaya dengan pergaulan yang luas dan High class. Sedangkan kau hanya laki – laki biasa dengan kehidupan biasa yang tak mungkin bisa mengimbangiku.

Tunggu sebentar…

Kau bilang apa tadi?

Apa maksudmu berkata kau takut menyukaiku karena aku gadis kaya dan kau laki – laki biasa? alasan -alasan sebelumnya masih bisa kuterima, tapi ini…

Aku tidak menyukai alasan seperti itu! Kesannya seperti terlalu dibuat – buat (meskipun mungkin itu benar).

Tiba-tiba aku menjadi marah..

Sebut aku naif atau bodoh..

Tapi aku berpikir, ini sebuah kehidupan nyata. Bukan suatu drama seperti di tv atau novel yang kubaca. Alasan seperti itu tidak masuk akal bagiku.

Sebetulnya aku juga marah pada diriku sendiri, karena sempat ragu dengan perasaanku sendiri. tapi sekarang Aku telah melupakan perasaanku padamu secara perlahan. Hanya tersisa kepingan kecil saja.

Aku mengutarakan apa yang aku pikirkan, tetapi kau terlalu keras kepala untuk berpikiran terbuka. Memang ada benarnya yang kau katakan "bahwa kepingan kecil itu bisa menjadi besar lagi, seperti api pada sebongkah bara yang hampir padam". Kau menginginkan adanya kita, kau ingin kita terikat status menjadi status sepasang kekasih.

Tetapi logika dan ego yang kumiliki menahanku untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan.

Aku jadi berandai-andai, karena hal seperti ini saja sulit untukmu mempertahankan rasa sukamu padaku. Apalagi jika hal-hal yang baru kau ketahui saat kita sudah menjadi sepasang kekasih. Masih maukah kau mencintaiku? masih mampukah kau bertahan bila telah mengetahui hal-hal tersebut? atau kau akan mundur perlahan dari kehidupanku seperti tidak pernah ada apa-apa di antara kita.

Kau belum terlalu mengenalku, buktinya kau masih melihat status 'kaya' orang tua ku. Aku tidak merasa diriku kaya, itu semua milik orang tua ku.


"bagaimana bisa seseorang mencintai seseorang lainnya yang belum begitu dia pahami dan dia kenal"

"tak kenal maka tak sayang''

''untuk mencintai seseorang, kau harus bisa mencintai kekurangannya. bukan hanya kelebihannya. terlebih kau harus mencintai dirimu sendiri''


Semua ungkapan itu yang menjadi tameng logikaku.

Seandainya kau mengetahui bahwa aku gadis yang penyakitan, yang sulit diajak keluar rumah, apa kau masih menyukaiku?

Seandainya kau tahu, suatu hari nanti aku bukanlah gadis populer yang banyak digilai laki-laki, apa kau masih menyukaiku?

Seandainya aku tidak cantik lagi dan masih meiliki kekurangan lainnya, apa kau betul-betul masih ingin menyukaiku?

Apa kau masih mempertahankan rasa sukamu? Apa kau tidak akan meninggalkanku? Apa kau masih mau berjuang?

Aku menanti hari esok, saat aku ingin membuktikkan kebenaran ini.

Semua hal itu semakin menguatkan pendapatku, bahwa kamu memang belum jodohku. aku masih memiliki keraguan pada dirimu, dan kata-kata yang terlontar dari mulutmu membuat aku semakin yakin akan ragu itu.

Tibalah hari yang ditunggu, hari dimana aku menjawab permintaanmu tentang status kita. dan aku katakan bahwa aku tidak menginginkannya. bahwa aku menolakmu, aku tidak menjelaskan secara detail sebabnya. aku hanya bilang bahwa aku ragu kita tidak cocok.

Aku menunggu reaksimu…

Ternyata kamu adalah orang yang keras kepala dan tidak bisa menerima alasan seperti itu. aku memakluminya..

Tapi disinilah titik aku jadi yakin dengan keraguanku.


"Perasaan yang masih ragu-ragu, bukanlah cinta. karena cinta akan melengkapi segala keraguan dalam hati''


Kamu tiba-tiba marah, kamu membalas penolakanku dengan kata sindiran (yang mungkin tidak kau sadari telah menyakitiku). Kau tiba-tiba berubah menjadi sosok yang tidak kukenal. Kau memasang status di media sosial tentang segalanya yang telah berakhir.

Di saat yang sama kau berterima kasih, meminta maaf, dan melukai perasaanku dengan cara minta maafmu yang menyindir. Seolah apa yang pernah kita rasakan salah.

Bukankah kalau kau benar-benar cinta padaku, kau akan memperjuangkannya? Kau bisa menerima apa adanya?

Mungkin kau tidak sadar dengan apa yang kau lakukan, tapi ini membuktikan kau tidak sepenuhnya menyukaiku, karena kau belum memahamiku dan aku belum memahamimu.

Seandainya saat aku berkata seperti itu, kau tetap bersikap tenang dan tetap meyakinkan aku. mungkin keraguan ini hilang menjadi cinta seutuhnya.

Sekarang aku hanya bisa berkata Good bye cinta pandangan pertamaku. Mungkin kalau kita bejodoh suatu saat takdir akan mempertemukan kita lagi dalam kondisi dan cerita yang berbeda. Bila kita tak ditakdirkan bersama, aku berharap semoga kau bisa menemukan seseorang yang dapat memahamimu.