“Namamu pernah masuk dalam butiran doa tasbih yang ku lantun kan di kala sujud malam. Berharap agar tuhan mendekatkan kita yang sedang jauh. Namun apa daya, takdir tuhan memang tak boleh dilawan. Kau pergi dengan menggores luka yang sangat lebar”

Wanita pada dasarnya memang tercipta untuk selalu merasakan perasaan yang jauh lebih dalam dari seorang pria. Wanita itu bukan makhluk lemah, namun selalu merasa tak berdaya ketika tatapan seorang lelaki telah meluluhkan perasaannya. Wanita pada dasarnya makhluk yang amat tegar, namun bisa ambruk seketika di kala pria yang amat ia cintai begitu saja melambaikan tangan meninggalkan hati tanpa sebuah kecupan selamat tinggal.

Advertisement

Hawa tercipta dari tulang rusuk kiri seorang Adam. Tulang rusuk itu menempel di atas ulu hati. Itulah sebabnya mengapa wanita selalu lebih perasa dan sensitif mengenai sebuah perasaan. Meski Ia selalu berusaha untuk tampak seperti kartini yang kuat dan tegar, tetap saja ia selalu tak mampu melawan titik kelemahannya itu. Wanita sama sekali tak dibekali benteng pertahanan yang kuat untuk melawan dan menolak perasaan cinta seorang lelaki.

Wanita akan selalu menjadi tangkai bunga yang mudah patah di saat pria yang ia harapkan sebagai imam masa depan malah mengkhianati seluruh janji-janji manis yang telah di ucapkan sendiri oleh lisannya sendiri. Wanita mana pun, akan sangat terpuruk di kala ulu hatinya sendiri di banting habis oleh pria yang telah dipercayainya. Pada dasarnya, wanita itu memang sangat mudah untuk percaya, sehingga begitu rentan pula untuk dikhianati.

Ini kisahku. Kisah masa lalu yang sebenarnya tak ingin ku ungkit kembali. Namun jari ini sepertinya ingin melawan dengan cara berusaha tegar melawan kenyataan yang teramat pahit ini. Lantas, ku biarkan saja cerita ini dibaca oleh ribuan saksi mata. Agar dunia tahu bahwa dulu aku pernah mencintai seorang pria melebihi rasa cintaku kepada diri sendiri.

Advertisement

Seorang pria yang telahku ukir sebagai calon imam tunggal dalam hidupku kelak, justru kemudian berlari begitu saja meninggalkan hati ini dengan menggores nya dalam hitungan detik, sehingga aku terkulai lemas tak berdaya.

Cinta kami diawali oleh cinta yang tak mendapat restu dari orang tua. Orang tua ku sendiri telah memasang tameng benteng yang begitu tinggi untuk menghalangi ku untuk merajut kasih dengan dirinya. Namun cinta itu memang nekat dan berani, benteng larangan orang tuaku terobos demi mempertahankan rasa cintaku padanya seorang. Kami sepakat untuk merajut ikatan cinta secara diam-diam. Pada dasarnya, cinta yang sedang bergejolak diantara dua anak Adam tak bisa dilerai oleh siapa pun, termasuk orang tua ku sendiri.

Aku percaya dia, dan ku berikan seluruh napas hidup ku untuk dikendalikan olehnya. Terkesan sangat bodoh, namun aku bahagia melakukannya saat itu. Cinta itu buta memang benar-benar melanda kehidupan kelam ku saat itu. Rayuan lagu romantis disertai dengan lantunan gitar klasik telah berhasil membuat hati ku serasa melayang ke atas lapisan langit tertinggi.

Aku tergoda, rasa iman ku tergoyahkan oleh semua muslihat manisnya. Benteng pertahanan ku roboh seketika, saat jemari gagahnya memainkan satu buah lagu yang begitu romantis di telingaku. Lantunan lagu romantis yang ia mainkan seolah menjadi lem perekat hubungan kami berdua untuk semakin kuat tak terpisahkan oleh apa pun.

Waktu itu memang bengis. Ia seolah sudah tak berjalan cepat lagi, namun sudah bisa berlari. Singkat cerita kami kemudian berpisah jarak, sehingga harus menjalani romansa cinta jarak jauh. Kami tahu bahwa itu penuh risiko, namun atas dasar keteguhan hati untuk saling percaya, aku percayakan bahwa ia tak pernah mengkhianati janji. Ia pria sejati, dan pria sejati tak akan pernah melewati garis kesepakatan.

Waktu terkadang bukan hanya penunjuk usia, namun ia terkadang bisa bertindak sebagai pembongkar kesalahan. Hingga akhirnya waktu membawa ku untuk tahu akan banyak hal tentang dirinya yang selama ini ia sembunyikan secara rapi dan apik.

Di kala aku sedang merangkai masa depan pendidikan yang lebih baik, di balik sana ia sibuk mencari wanita lain untuk dijadikan pelabuhan hidupnya. Aku kecewa, ingin marah, dan ingin menampar pipinya agar hasrat kekecewaan itu tersalurkan dengan cepat. Namun cinta terkadang menahan seseorang untuk tidak melukai orang lain. Aku terluka, namun cinta sejati mengajarkan ku untuk tidak melukai.

Aku sempat membencinya. Namun cinta memang sulit untuk di redam, ia kembali menghampiri hidupku dengan wujud yang berbeda. Ia telah berhijrah, dengan lapisan wajah yang penuh dengan iman. Sehingga hatiku bergetar untuk menatapnya. Aku pun luluh untuk kembali menerimanya kembali. Aku pun mantap dengan putusan untuk berhijrah.

Setelah bersamanya, hidup ini benar-benar terasa damai. Berhijrah bersama-sama dengan pria yang amat kita cintai merupakan suatu hal yang sangat indah dalam hidup ini. Ia telah berhasil memukau hati ini untuk mantap menjadikannya sebagai imam tunggal yang akan benar-benar membawa makmum nya menuju jalan yang diridoi sang maha kuasa.

Hati ini seolah-olah ingin berkabir ketika berdekatan dengan hatinya. Ia sungguh pemikat dari segala sesuatu yang memikat hati seorang wanita yang begitu lemah.

Hingga waktu akhirnya berbicara. Tibalah pada waktu yang benar-benar tak pernah siap aku hadapi namun mau tak mau harus ku hadapi. Ia pamit untuk menikah dengan wanita lain. Hati ini benar-benar seperti tersambar kilatan petir yang maha dahsyat, hingga merobohkan seluruh benteng pertahanan ku. Aku roboh, karena hatiku telah hancur tanpa keping.

Ia pergi meninggalkan, di saat aku mulai mantap ingin menjalin ikrar hidup semati dengannya. Saat itu juga, ingin rasanya membuat tuhan mencabut hati ini, agar raga ini tak terlalu menderita menghadapi kenyataan yang begitu pahit. Rasanya benar-benar pedih, ingin berobat namun racunnya telah merayap ke seluruh lapisan tubuh. Aku lumpuh karena ia pergi di saat yang benar-benar tidak tepat. Tuhan seolah-olah mempermainkan perasaanku. Aku malu di hadapan jutaan para malaikat.

Di sela-sela energi yang masih tersisa. Aku menatap cermin bening di kamarku. Semua seolah-olah menertawai seluruh kesedihan ku. Perasaan ini seperti terkoyak. Hatiku bercampur-baur dengan aroma yang bermacam-macam rasa.

Di satu sisi aku bahagia karena telah terlepas dari jeratan kasihnya, namun di satu sisi aku juga tak mampu berbohong pada diri sendiri jika pedang cinta yang telah Ia tancapkan masih berdiri tegak di relung hatiku yang terdalam.

Namun, aku sadar bahwa kesedihan ini tak boleh terus menerus menerpa. Walau pedih dan lumpuh, aku harus bisa bangkit dari lubang yang dalam ini. Ia telah pergi, aku harus ikhlas melepaskan. Karena cinta pada hakikatnya tak selamanya tentang memiliki, namun cinta terkadang harus kau wujudkan melalui seberapa besar kau mampu merelakan sesuatu yang telah kau amat cintai.

Walau perasaan ini belum rela sepenuhnya, aku telah siap melepaskan. Walau sakit ini akan sangat sulit terobati, namun aku yakin bahwa segala sesuatu yang sakit akan selalu ada obatnya. Itulah janji tuhan kepada hambanya yang percaya. Dan aku percaya, malaikat-malaikat tuhan akan membantu untuk menyulam cinta-cinta yang baru untuk kehidupan ku yang lebih baik lagi. Melalui calon imam yang berbeda.

Bukan kehilangan mu yang membuatku terluka. Serta bukan perlakuan jahat mu yang membuatku berduka. Namun kenangan manis yang kau goreskan begitu dalam yang justru membuatku terluka berlarut-larut. Kenangan indah yang telah kau hembuskan ke dalam hatiku, seketika berubah menjadi ujung pedang yang mengoyak-ngoyak ulu hatiku hingga hancur tanpa rupa. Walau tak berdarah, sakitnya luar biasa parah.

Kini aku harus bangkit sendiri dari keterpurukan karena kegagalan cinta. Aku harus kuat dan mampu menutup seluruh lubang luka yang pernah kau goreskan kepadaku. Lubang teramat lebar hingga menganga, namun pasti bisa ku tutupi. Walau ku tahu kenyataan pahit bahwa menutup lubang masa lalu dengan pria yang pernah amat kau cintai tak pernah semudah seperti yang kau bayangkan.

Selamat tinggal wahai pria yang dulu pernah ingin menjadi imam. Jika dulu solat malam ku berisi doa agar kita bisa menyatu karena rida nya, maka kini doa nya telah berubah agar engkau dengan wanita yang telah kau pilih itu dapat menjadi pasangan hidup semati yang mampu mengalahkan romantisnya romansa cinta Adam dan Hawa di surga sana.

Meski hingga kini aku belum mampu melupakan, semoga waktu bisa menyembuhkannya secara perlahan. Terima kasih untukmu, yang telah memandu hati ini untuk berhijrah. Walau ujungnya kau pergi dengan menggoreskan luka hati hingga memar.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya