Ayah…

Maaf, aku mengganggu, sebentar saja Yah. Aku ingin bicara. Aku tau, mungkin siang ini Ayah sedang sibuk-sibuknya bergelut di meja kerja atau sedang pusing memikirkan kerjaan setumpuk untuk mengejar deadline. Maaf, semua itu demi aku ya? Memang selalu merepotkan Ayah. Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih untukmu. Baca ya, Yah…

Advertisement

Ayah, terima kasih, karenamu lah aku mampu melawan segala persaingan. Kutipan pesanmu yang selalu ku ingat, "Jangan menyerah, Nak! Bersaing lah dengan cara bijak". Maka itulah, aku masih berdiri, meski banyak yang berusaha menjatuhkan ku di luar sana. Tak apa, itulah hidup, semua pun ingin kemenangan, jadi sah saja jika persaingan begitu kejam. Tapi setidaknya, karena Ayah, aku tidak membalas kekejaman mereka yang ingin menjatuhkan.

Ayah, terima kasih, karenamu lah aku mampu beradaptasi.

"Karakter orang di luar sana tidak sama seperti mu, Nak… Berbaur lah dan pahami mereka".

Advertisement

Maka itulah, aku mampu menerima teman baru dari berbagai sumber. Meski sering kali aku merasa sakit hati, tapi karena Ayah, aku mampu menyembuhkannya sendiri dan tetap bersemangat memperluas pertemanan tanpa dendam.

Ayah, terima kasih, karenamu aku mampu tersenyum meski sedang bersedih.

Terjalnya perjalanan menuju kemenangan sangatlah tajam, bahkan sakit ku sudah tidak lagi bisa terobati dengan obat merah yang biasa dulu Ayah tetesi ketika jatuh dari sepeda. Duri-duri tajam menancap paksa meski tidak menampakkan darah, tapi karena Ayah, aku masih bisa terus tersenyum dan berusaha mencabut semua duri itu.

Darimu berpesan "Ketika kamu bersedih, ingatlah satu hal. Allah yang akan menggantikan luka – luka itu"

Ayah, terima kasih, karenamu aku mampu menjadi seorang yang mandiri dan mengatasi masalah itu sendiri. Meski sering kali aku menjerit dan ingin kembali ke pelukanmu.

"Nak.. tidak selamanya Ayah bisa mendampingimu, tapi Allah akan selalu membantumu".

Egoisku kala itu berkata ,"Aku mau terus sama Ayah"

Tapi kini aku mengerti, akan ada saatnya dimana harus menapaki jejak dan melangkah sendiri. Karena Ayah, aku sudah menjadi seseorang yang mandiri dan mampu mengatasi masalah sendiri, meski langkahku sangatlah berat dan tertatih.

Ayah, terima kasih, kau memberikan rindu abadi yang tidak pernah terhenti. Dalam dekapku, menginginkan kamu kembali, lagi – lagi aku hanya ingin menjadi putri kecilmu yang hidup bersama boneka dan pelukanmu.

Terima kasih Ayah…

Hanya ribuan kata terima kasih yang bisa aku sampaikan, sedangkan Ayah tidak pernah meminta balasan dari rasa sayang yang Ayah berikan. Seringkali rasanya mengeluh dan ingin menyerah, tapi lagi – lagi pelukanmu mengajakku bangkit. Maafkan anak mu ini Yah, selalu mengganggu waktu dan aktivitasmu. Maafkan pula, yang sering menelponmu di waktu meeting-mu. Seperti siang ini.

Tapi…maaf Ayah, aku lupa. Sekarang Ayah sudah berada dalam pelukan Yang Kuasa, tapi masih saja aku menarik bayangmu untuk terus dijadikan pedoman.

Senyumlah di sana ya Ayah

Putri kecil mu sudah menjadi wanita tangguh, sama seperti yang Ayah tempa dulu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya