Seharusnya dari awal aku menyadari bahwa kamu ibarat hujan, yang kehadirannya selalu dinantikan setiap orang, yang percik – percik airnya menimbulkan ketenangan, menumbuhkan biji – biji yang tertanam di tanah gersang, menerbitkan harapan baru bagi banyak orang.

Ku pikir hujan tak pernah turun hanya di halaman rumahku. Ia pasti juga turun di tempat lain. Membasahi tempat lain. Menerbitkan harapan baru bagi orang lain. Sayangnya aku baru menyadari hal ini di ujung perjalanan ini, ketika aku menemukan bahwa kau selalu memberikan kesan spesial kepada sesiapa yang dekat denganmu. Tidak hanya aku ternyata yang selalu menjadi obyek perhatianmu.

Advertisement

Ada bapak – bapak satpam, ibu – ibu cleaning service di kampus kita, tukang sampah di kompleks perumahan, bahkan pada adek – adek maba yang baru saja kamu kenal, kamu bersikap akrab dan hangat dengan mereka. Tak salah bukan jika darisana banyak yang kemudian meletakkan hatinya padamu, entah kamu sadar atau tidak.

Kamu tidak salah. Justru kamu baik, baik sekali. Terlalu baik hingga aku salah mengartikan apa yang disebut dengan pemahaman, pengertian, dan persahabatan. Aku pikir laki – laki tak perlu bersikap terlalu baik pada perempuan, karena perempuan didominasi oleh perasaan, yang ketika laki – laki menyentuh sisi itu sedikit saja, mereka akan merasa laki – laki itu telah memilihnya. Lagipula, kata 'terlalu' itu selalu bermakna tak baik bukan?

Terimakasih telah menggoreskan warna – warna cerah di hidupku. Terimakasih telah mengajarkan agar aku lebih berhati – hati meletakkan hati. Terimakasih telah membuatku intropkesi diri bahwa tak seharusnya juga aku terlalu berharap padamu, karena ternyata kamu milik semua orang. Terimakasih

Advertisement


Selamat menebar kebermanfaatan bagi lebih banyak insan, kita akan bertemu jika memang aku adalah takdirmu.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya