Aku ingin bercerita tentang 1 kesakitan yang bernama Perpisahan. Mengapa? Karena seringnya, perpisahan terasa begitu menusuk dada, ketika kita belum siap kehilangan seseorang. Ketika kita belum bisa membayangkan, seseorang itu pergi begitu saja. Meninggalkan semua dan memaksa kita menghapus apapun yang seharusnya tidak boleh dan memang tidak ingin kita hapus.

Aku pernah bertanya, mengapa semua kau buat seolah rumit? Padahal kau buat aku jatuh cinta dengan sangat sederhana. Aku mengenalmu, lalu aku mencintaimu. Betapa bodohnya aku, mungkin memang karena aku yang lebih dulu jatuh cinta padamu, sehingga semua terasa sulit.

Advertisement


Mencintaimu, menghadapimu, mempertahankanmu, sesulit apapun namun tetap aku lakukan.


Sebenarnya, aku tidak pernah ingin semuanya berakhir, lama atau singkat. Indah atau tidak. Namun, aku terlahir untuk menjadi perempuan kuat yang teguh terhadap prinsipku sendiri. Aku tidak ingin menjadi perempuan yang kau anggap bodoh dan tolol, yang selalu mencintaimu dan selalu memaafkanmu kapanpun kamu melakukan kesalahan.

Ketahuilah, sekuat apapun aku, aku masih merasa tak mampu jika melalui semuanya tanpamu. Mungkin aku hanya terbiasa selalu ada kamu. Aku hanya terbiasa, hamper setiap pagi membangunkanmu untuk pergi kerja. Aku hanya terbiasa, mengingatkanmu untuk tidak lupa makan.

Advertisement

Aku hanya terbiasa memaksamu pergi ke Gereja, ketika kamu terlalu malas melangkahkan kaki dihari libur. Aku hanya terbiasa mendengarkan suaramu hamper setiap malam, memandangi wajahmu yang membuatku candu, memeluk dirimu yang membuatku selalu ingin ada didalam depakapannya. Aku terbiasa.

Lalu, tanpa aku mempersiapkan apapun, sesuatu yang aku bayangkan sangat sakit pun datang. Perpisahan. Dengan segala keterbiasaanku.


Bagaimana caranya menghadirkan Ikhlas dalam upayaku melepaskanmu? Kau seolah sudah menemukan jalanmu, jalan yang baru, Sedang aku, tak temukan apapun yang bisa kusebut ‘Jalan’.


Mau tak mau, aku harus mengubur dalam-dalam semua hal tentang kita. Tentang kamu, terutama. Karena sedari awal, tak ada ‘Kita’ untuk dirimu. Setelah kau memilih perpisahan yang harus kutelan pelan-pelan, aku harus mampu membiasakan diri tanpamu. Tanpa kebiasaanmu yang sudah sangat aku hafal, tanpa setiap inci tubuhmu yang sudah sangat aku ingat.

Sesaat setelah kamu mengakhiri semua, aku merasa aku benar-benar telah kehilanganmu. Kehilangan seseorang yang bahkan mungkin tak pernah merasa kehilanganku. Betapa sedihnya aku, menerima kenyataan bahwa seseorang yang kucintai mati-matian, tak pernah membalas perasaanku.


Perpisahan dan tanpamu, ternyata sama-sama berbicara kesakitan dan kehilangan.


Sekarang, aku merasa bersalah karena menyembunyikan banyak hal yang kupikir tak bisa kau fahami. Hatimu sangat beku, sulit untuk berhasil kucairkan. Aku membuat kamu takt ahu seberapa sering aku menangis, seberapa sakit perasaanku, kau tak peduli. Jujur, sungguh aku tidak bisa melupakanmu. Aku selalu ingat semua tentangmu, caramu menatapku, caramu memelukku, cara kamu memarahiku. Seolah hal-hal itu sengaja dibuat Tuhan untuk sulit kulupakan.


Tolong buat aku lupa, karena aku tak lagi temukan cara terbaik untuk menghilangkan kamu dari pikiranku.


Selama ratusan hari aku bertahan, aku tidak pernah benar-benar tahu isi hatimu dan bagaimana jalan pikiranmu. Aku tidak bisa membedakan kapan kamu jujur dan kapan kamu berbohong. Aku tidak bisa tahu yang mana yang kau inginkan dan mana yang kamu butuhkan.

Aku terlalu mempercayaimu, semua sangat sulit ketika aku menikmati sekaligus mengkhawatirkan apa yang telah kamu lakukan untukku, yang telah kamu katakana kepadaku. Janji-janjimu, kata-kata manismu, perlakuanmu, semuanya. Kau sungguh tidak tahu bagaimana tersiksanya menjadi aku, sayang.

Kamu seolah nyata. Namun, tak pernah bisa aku gapai. Kau jauh, sekalipun kau ada dihadapanku. Karena hatimu, tak pernah untukku.

Advertisement