Ternyata Diabetes Melitus Tipe I Wajib Banget Dipahami Seluruh Anggota Keluarga, Loh! Begini Penjelasannya

Diabetes Melitus Tipe I

Pada umumnya, masyarakat Indonesia hanyalah mengenal tentang diabetes tipe II, dimana penyakit ini terjadi akibat badan manusia kehilangan respon terhadap hormon insulin atau secara singkat disebut sebagai resistensi insulin. Diabetes tipe II biasanya menyerang manusia usia dewasa hingga lansia.

Advertisement

Penyakit ini masih dapat diatasi hanya dengan mengatur pola hidup ke arah sehat tanpa menggunakan obat-obatan. Para survivor diabetes melitus tipe II hanya akan mengonsumsi obat jika dokter mengatakan harus mengonsumsi obat atau menyuntik insulin pada waktu tertentu setiap harinya.


Apa itu Diabetes Tipe I?            


Diabetes tipe I adalah kondisi autoimun, dimana pankreas tidak mampu lagi untuk memproduksi cukup insulin sehingga glukosa dalam darah tidak dapat disimpan dalam tubuh. Berdasarkan data dari Fakultas Kedokteran Univeritas Sebelas Maret yang bekerjasama dengan RSUD Dr. Moewardi, DM tipe I (IDDM) ini ditemukan pada 98% anak-anak dan remaja yang menderita diabetes.

Advertisement

Menurut P2PTM Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, pada umumnya gejala yang ditimbulkan pada anak penyandang IDDM adalah terjadinya penurunan berat badan, mudah haus dan sering merasa lapar, lekas marah dan prestasi akademik menurun, mengompol, gatal pada kelamin, dan infeksi pada kulit yang berulang. Jika beberapa dari gejala tersebut muncul pada anak, kemungkinan besar anak menderita IDDM.

Jika dilihat dari penyebarannya, IDDM jarang ditemukan sehingga keterlambatan diagnosis sering terjadi yang akan mengakibatkan ketoasidosis. Ketoasidosis merupakan keadaan dimana kadar keton tinggi di dalam tubuh akibat dari komplikasi diabetes melitus. Menurut Unit Kerja Koordinasi Endokrinologi Ikatan Dokter Anak Indonesia pada tahun 2017, ketoasidosis diabetik pada anak penyandang IDDM dapat menjadi penyebab utama peningkatan pada angka kematian.

Kesadaran akan masyarakat dan tenaga kesehatan terhadap penyakit ini masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada tahun 2017, anak yang terdiagnosis IDDM saat mengalami ketoasidosis diabetikum mencapai 71%. Anak penyandang IDDM Indonesia dalam angka menurut IDAI pada tahun 2018 adalah sebanyak 1220 orang. Peningkatan kasus ini meningkat setiap tahunnya.   

Beberapa faktor pendukung terjadinya IDDM ini adalah genetik, epigenetik, lingkungan, dan imunologis. Pembahasan kali ini akan berfokus pada faktor lingkungan. Lingkungan akan mempengaruhi pola hidup manusia, termasuk pola makan. Pada umumnya, orangtua akan selalu memberikan yang terbaik untuk buah hatinya termasuk dalam pemenuhan kebutuhan pangan. Adanya makanan-makanan ‘unik’ zaman now seperti permen, es krim, street food, minuman manis, dan lain-lain, membuat anak ingin mencobanya.

Sayangnya, mayoritas dari makanan ini tidak memiliki gizi yang cukup untuk pertumbuhan dan perkembangan anak. Selain itu, kebutaan masyarakat akan pemenuhan gizi sehari-hari masih kurang dari cukup. Akibat dari pemenuhan permintaan anak akan makanan ‘unik’ oleh orangtua, akan menyebabkan malnutrisi pada anak, termasuk di dalamnya adalah obesitas. Obesitas akan menggiring penyakit tidak menular kepada anak, termasuk IDDM. Risiko terjadinya IDDM pada anak akan meningkat lagi apabila anak tidak aktif secara fisik. Sudah pasti ‘kasih sayang’ dari orangtua ini bukannya membawa kesejahteraan pada anak, namun akan menyebabkan peningkatan risiko penyakit pada anak.


Kira-kira apa langkah pencegahan dan solusinya?


Orangtua dapat memulainya dengan mengatur pola makan si kecil dengan makanan yang kadar gizinya cukup untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Langkah kecil ini akan membawa ke perubahan yang signifikan, terutama pada pola aktivitas anak, sesuai dengan pepatah yang mengatakan “You are what you eat”. Tentunya hal itu berlaku juga kepada si kecil. Selain itu, pola aktivitas anak juga dapat diperbaiki dengan memperbanyak aktivitas fisik anak.

Salah satu yang menyebabkan berkurangnya aktivitas fisik anak adalah penggunaan gadget. Penggunaan gadget menyebabkan perubahan aktivitas secara signifikan jika tidak ada pembatasannya. Orangtua dapat membatasi waktu anak dalam menggunakan gadget dan lebih sering bermain dengan anak-anak. Nah, orangtua letakkan kasih sayangmu diperilaku yang tepat, yaa 😊

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Saya adalah seorang mahasiswa Universitas Brawijaya, prodi Agroekoteknologi, angkatan 2020. Saya telah menempuh pendidikan di SD Santo Yosef Sidikalang, SMP Santo Paulus Sidikalang, dan SMAN 1 Sidikalang.

CLOSE