Sejujurnya, aku tidak terlalu menantikanmu. Aku tidak tahu bila orang lain mendambakan kehadiran belahan jiwanya, aku bukanlah salah seorang dari mereka. Aku pribadi tidak merasa kamu ada atau akan ada untukku. Aku merasa bahwa kamu adalah hal langka dan hal yang tidak akan pernah aku dapatkan.

Aku bukanlah seseorang yang anti dalam memiliki. Aku juga bukan orang yang tidak suka dengan pernikahan. Aku hanyalah seseorang yang merasa bahwa kebahagiaanku tidak selalu terpusat dan selalu membutuhkan kehadiran orang lain. Dulu, aku selalu merasa kalau memiliki seseorang dalam hidupku akan membuatku merasa terikat dan selalu dikendalikan setiap saat. Tentunya aku waktu itu masih naïf dan memang dalam fase pemberontakkan.

Advertisement

Aku tidak suka dikendalikan siapa pun dan tidak ingin ada seorang pun yang memerintah diriku. Seiring aku bertambah dewasa, aku mulai belajar bahwa yang namanya hubungan apapun berarti kita harus belajar kompromi. Kita harus belajar untuk menerima orang-orang tersebut apa adanya. Orang lain pun belajar untuk menerima kita apa adanya. Tentunya proses ini tidaklah mudah bagiku. Bahkan aku masih kesulitan terkadang. Masih ada keinginan diriku untuk mengubah teman-temanku sesuai dengan ekpekstasi – ekspektasi yang aku miliku. Semua orang mengatakan bahwa ini adalah hal yang manusiawi dan normal untuk kita lakukan, tetapi aku ingin sekali bisa belajar untuk lebih bisa kompromi dengan orang lain.

Aku merasa bahwa setiap dari kita harus belajar untuk menerima satu sama lain apa adanya. Dunia kita akan lebih damai bila kita belajar untuk menerima pendapat dan perbedaan kita satu sama lain, tanpa membuat perbedaan itu sesuatu yang personal. Aku sendiri sedang belajar untuk bisa semakin dewasa, untuk bisa memahami bahwa dunia ini bukan hanya milikku, dunia ini adalah milik setiap dari kita. Dunia ini adalah milikmu juga.

Bila suatu saat aku bertemu dengan dirimu, aku berharap bahwa kita bertemu saat kita berdua sudah berada di tahap dewasa dalam hidup. Aku berharap bahwa kita berdua adalah pribadi yang pikiran dan hatinya terbuka. Kita adalah dua insan yang mau saling mengerti satu sama lain dan juga orang-orang di sekitar kita. Aku memang tidak sempurna dan tentunya kau sendiri pun tidak sempurna, tidak ada pribadi yang sempurna, tetapi aku berjanji untuk bisa mencintaimu sebisaku. Aku percaya bahwa Tuhan sudah mengirimkan lelaki terbaik bagiku. Terbaik bukan berarti bebas dari cacat. Ia hanya berarti orang yang cocok bagiku dan orang yang akan selalu menantangku untuk menjadi versi terbaik yang Tuhan inginkan.

Advertisement

Demikian juga dengan diriku, aku tahu bahwa aku akan senantiasa menantangmu untuk menjadi versi terbaik dirimu. Kita akan sama-sama membantu satu sama lain untuk menjadi versi yang lebih baik, bahkan terbaik, dari diri kita yang lama. Selain itu, aku juga berharap bahwa kamu tidak merasa terintimidasi dengan tingkat pendidikanku dan kesuksesan yang aku akan raih.

Aku berharap kau justru mendukung diriku untuk mencapai cita-citaku dan untuk tidak takut mengeluarkan pendapatku. Aku sendiri pun tidak akan terintimidasi dengan pencapaian dirimu. Aku justru sangat bangga dan senang ketika kamu berhasil meraih kesuksesan dalam segala aspek hidupmu. Aku malah ingin berada di sampingmu dan mengatakan bahwa kamu pantas untuk bahagia. Kamu pantas untuk memiliki hidup selain bersama denganku. Kamu punya hak untuk meraih cita-citamu dan tentunya aku berharap kamu akan mendukung diriku untuk meraih cita-citaku.

Janganlah berharap bahwa aku akan menjadi segalanya untukmu. Aku hanyalah manusia biasa. Aku bisa menyakiti kamu dan mereka bilang ketika kamu mencintai seseorang terlalu dalam, kamu akan sangat terluka saat aku tidak seperti yang kamu harapkan. Aku berharap dan aku sendiri akan selalu mengkomunikasikan apa yang aku rasakan, aku ingin kamu juga berani untuk mengatakan kepadaku apa yang sebenarnya kamu rasakan. Mari kita selalu berani berkomunikasi, walaupun kita mungkin saja kecewa, sedih, atau marah terhadap satu sama lain. Kejujuran akan menjadi lebih baik daripada kebohongan demi menghindari apa yang seharusnya tidak perlu kita hindari.

Aku berharap kita akan selalu mengasihi satu sama lain walaupun badai kehidupan akan mendera. Aku yakin dan tahu bahwa akan ada saatnya di mana kita berkelahi, di mana keuangan kita bisa saja menipis, atau saat segala sesuatunya terasa sulit. Aku berjanji untuk mencintaimu apa adanya dan dalam kondisi apapun. Janji yang kita ikat bukanlah omong kosong atau kata-kata manis yang kita ucapkan sebagai sebuah formalitas di sebuah pernikahan, kata-kata ini adalah janji yang akan kita pegang sebagai pendamping dan sebagai sahabat seumur hidup.

Aku tidak tahu kapan kita akan bertemu. Aku sendiri tidak tahu apa kita akan bisa bertemu atau apakah kita akan selalu merindukan satu sama lain tanpa menyadari bahwa kita sebenarnya ada untuk satu sama lain. Mungkin butuh waktu bertahun-tahun sampai kita bertemu. Bila kita memiliki kesempatan untuk bertemu, aku berjanji untuk tidak akan menyia-nyiakan dirimu. Aku tahu bahwa kamu pun akan menghargai dan mencintai diriku hingga kita berdua telah tiada. Sampai hari itu datang, ketahuilah, aku adalah orang yang akan selalu mencintaimu dan akan selalu mengapresiasimu apa adanya.

Sejujurnya, aku tidak terlalu menantikanmu. Aku tidak tahu bila orang lain mendambakan kehadiran belahan jiwanya, aku bukanlah salah seorang dari mereka. Aku pribadi tidak merasa kamu ada atau akan ada untukku. Aku merasa bahwa kamu adalah hal langka dan hal yang tidak akan pernah aku dapatkan.

Aku bukanlah seseorang yang anti dalam memiliki. Aku juga bukan orang yang tidak suka dengan pernikahan. Aku hanyalah seseorang yang merasa bahwa kebahagiaanku tidak selalu terpusat dan selalu membutuhkan kehadiran orang lain. Dulu, aku selalu merasa kalau memiliki seseorang dalam hidupku akan membuatku merasa terikat dan selalu dikendalikan setiap saat. Tentunya aku waktu itu masih naïf dan memang dalam fase pemberontakkan.

Aku tidak suka dikendalikan siapapun dan tidak ingin ada seorang pun yang memerintah aku. Seiring aku bertambah dewasa, aku mulai belajar bahwa yang namanya hubungan apapun berarti kita harus belajar kompromi. Kita harus belajar untuk menerima orang-orang tersebut apa adanya. Orang lain pun belajar untuk menerima kita apa adanya. Tentunya proses ini tidaklah mudah bagiku. Bahkan aku masih kesulitan terkadang. Masih ada keinginan diriku untuk mengubah teman-temanku sesuai dengan ekpekstasi – ekspektasi yang aku miliku. Semua orang mengatakan bahwa ini adalah hal yang manusiawi dan normal untuk kita lakukan, tetapi aku ingin sekali bisa belajar untuk lebih bisa kompromi dengan orang lain.

Aku merasa bahwa setiap dari kita harus belajar untuk menerima satu sama lain apa adanya. Dunia kita akan lebih damai bila kita belajar untuk menerima pendapat dan perbedaan kita satu sama lain, tanpa membuat perbedaan itu sesuatu yang personal. Aku sendiri sedang belajar untuk bisa semakin dewasa, untuk bisa memahami bahwa dunia ini bukan hanya milikku, dunia ini adalah milik setiap dari kita. Dunia ini adalah milikmu juga.

Bila suatu saat aku bertemu dengan dirimu, aku berharap bahwa kita bertemu saat kita berdua sudah berada di tahap dewasa dalam hidup. Aku berharap bahwa kita berdua adalah pribadi yang pikiran dan hatinya terbuka. Kita adalah dua insan yang mau saling mengerti satu sama lain dan juga orang-orang di sekitar kita. Aku memang tidak sempurna dan tentunya kau sendiri pun tidak sempurna, tidak ada pribadi yang sempurna, tetapi aku berjanji untuk bisa mencintaimu sebisaku. Aku percaya bahwa Tuhan sudah mengirimkan lelaki terbaik bagiku. Terbaik bukan berarti bebas dari cacat. Ia hanya berarti orang yang cocok bagiku dan orang yang akan selalu menantangku untuk menjadi versi terbaik yang Tuhan inginkan.

Demikian juga dengan diriku, aku tahu bahwa aku akan senantiasa menantangmu untuk menjadi versi terbaik dirimu. Kita akan sama-sama membantu satu sama lain untuk menjadi versi yang lebih baik, bahkan terbaik, dari diri kita yang lama. Selain itu, aku juga berharap bahwa kamu tidak merasa terintimidasi dengan tingkat pendidikanku dan kesuksesan yang aku akan raih. Aku berharap kau justru mendukung diriku untuk mencapai cita-citaku dan untuk tidak takut mengeluarkan pendapatku.

Aku sendiri pun tidak akan terintimidasi dengan pencapaian dirimu. Aku justru sangat bangga dan senang ketika kamu berhasil meraih kesuksesan dalam segala aspek hidupmu. Aku malah ingin berada di sampingmu dan mengatakan bahwa kamu pantas untuk bahagia. Kamu pantas untuk memiliki hidup selain bersama denganku. Kamu punya hak untuk meraih cita-citamu dan tentunya aku berharap kamu akan mendukung diriku untuk meraih cita-citaku.

Janganlah berharap bahwa aku akan menjadi segalanya untukmu. Aku hanyalah manusia biasa. Aku bisa menyakiti kamu dan mereka bilang ketika kamu mencintai seseorang terlalu dalam, kamu akan sangat terluka saat aku tidak seperti yang kamu harapkan. Aku berharap dan aku sendiri akan selalu mengkomunikasikan apa yang aku rasakan, aku ingin kamu juga berani untuk mengatakan kepadaku apa yang sebenarnya kamu rasakan. Mari kita selalu berani berkomunikasi, walaupun kita mungkin saja kecewa, sedih, atau marah terhadap satu sama lain. Kejujuran akan menjadi lebih baik daripada kebohongan demi menghindari apa yang seharusnya tidak perlu kita hindari.

Aku berharap kita akan selalu mengasihi satu sama lain walaupun badai kehidupan akan mendera. Aku yakin dan tahu bahwa akan ada saatnya di mana kita berkelahi, di mana keuangan kita bisa saja menipis, atau saat segala sesuatunya terasa sulit. Aku berjanji untuk mencintaimu apa adanya dan dalam kondisi apapun. Janji yang kita ikat bukanlah omong kosong atau kata-kata manis yang kita ucapkan sebagai sebuah formalitas di sebuah pernikahan, kata-kata ini adalah janji yang akan kita pegang sebagai pendamping dan sebagai sahabat seumur hidup.

Aku tidak tahu kapan kita akan bertemu. Aku sendiri tidak tahu apa kita akan bisa bertemu atau apakah kita akan selalu merindukan satu sama lain tanpa menyadari bahwa kita sebenarnya ada untuk satu sama lain. Mungkin butuh waktu bertahun-tahun sampai kita bertemu. Bila kita memiliki kesempatan untuk bertemu, aku berjanji untuk tidak akan menyia-nyiakan dirimu. Aku tahu bahwa kamu pun akan menghargai dan mencintai diriku hingga kita berdua telah tiada. Sampai hari itu datang, ketahuilah, aku adalah orang yang akan selalu mencintaimu dan akan selalu mengapresiasimu apa adanya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya