Terkadang, Ketidakpedulian itu Perlu.


Untuk beberapa hal yang tidak pernah membawa manfaat untuk diri kita, untuk banyak hal yang mungkin membuat hati kita gundah gulana.

Advertisement

Makna ketidakpedulian itu tidak sesempit yang dikira. Menjadi tidak peduli bukan berarti kamu acuh. Ketidakpedulian dapat pula berarti menjaga diri sendiri untuk tidak lebih jatuh ke dalam lubang yang menjatuhkan.

Pada saat yang sama, ketika aku menulis ini, sepintas gambaran seorang kakek badui tua tersenyum muncul di ingatan. Beliau adalah salah satu orang beruntung, terlahir tanpa dikerumuni kecanggihan teknologi. Tidak hidup ditengah-tengah kebingungan akibat kabar simpang siur yang berserakan. Tidak ada pula otot yang tegang setiap hari akibat perseteruan konyol sebab membela ego masing-masing.


Ah, aku iri.


Advertisement

Bagaimana bisa mereka begitu acuh? Aku iri pada cara mereka tertawa, begitu lepas, tanpa ada resah dan gelisah. Aku juga begitu ingin bermain bersama mereka, merasakan bau tanah yang habis terkena tetesan hujan, merasakan suara air yang menganak pinak.

Sesaat aku ingin seperti mereka yang tinggal tanpa mengenal peradaban modern. Segala hal begitu tenteram, damai. Mereka tak perlu pusing memikirkan bagaimana suatu tulisan bisa begitu viral, bagaimana cara menarik masa supaya menonton video, bagaimana suatu foto bisa meraup puji lewat total angka-angka.


Meski iriku, tidak tahu akan terwujud seperti apa.


Dalam anganku, aku bermimpi seluruh dunia bisa damai tanpa ada perseteruan. Andai semua orang bisa bergembira dan menghargai satu sama lain, tentu dunia tidak makin rumit, tidak sesak dan memuakkan!

Namun manusia terlalu peduli pada sampah-sampah hati tak berguna.


Tidak bisakah kita menjadi tidak peduli dengan hal-hal yang merugikan?


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya