Cerita ini lahir dari jatuh bangun soal cinta. Jangan berharap apapun pada cerita ini. Karena cerita ini ditulis sekadar untuk berbagi, bukan mengharapkan harapan. Semua nama tokoh disamarkan. Aku sendiri, berperan sebagai Freddy. Selamat membaca dan sampai ketemu lagi.

Advertisement

Es Panas

Kala senja, tak ada lalu lalang manusia, giliran genderuwo yang bersua. Lampu belajar yang kebetulan rusak, memaksa Freddy berhenti memainkan pena. Diambillah ponsel merk Cina dengan fitur seadanya. Bermain sebentar, seketika matanya berubah fokus pada satu rupa. Wajah ayu khas etnik Jawa, dipandanginya sampai ia lupa menutup resleting-nya, yang kala itu terbuka saat terburu-buru mengira ada genderuwo di belakang kamar mandi rumahnya.

Meissa, oh Meissa, gadis desa di sebelah utara, sepuluh senti lebih tinggi dari Freddy. Jangan dibayangkan saat keduanya berpelukan. Jangan dibayangkan saat keduanya berciuman. Karena selain pasti tak serasi, mereka masih putih biru tingkat akhir di SMPN 1 Eromoko, Wonogiri. Tidak elok jika harus beradegan dewasa. Meski enak, sih.

Advertisement

Freddy mulai menapaki hari dengan penuh tatap senyum berseri. Berawal dari colekan media sosial Facebook, ia semangat menjajaki cinta barunya itu. Kebetulan, Freddy dan Meissa berada dalam satu kelas dua bahasa. Seketika perasaan Freddy makin berlarut dalam suasana jatuh cinta. Kala salah seorang teman, Vera, berteriak di depan kelas. “Cieee… Freddy nyolek Meissa, tandanya dia suka sama Meissa!” “Waaah…cie cieee…” Ramai seperti suasana hati orang galau.

Unik. Dulunya, Vera dan Wulan sempat berebut perhatian Freddy. Keduanya, sama-sama menaruh rasa suka pada Freddy. Sayang beribu sayang, Freddy justru memilih untuk menjadi lelaki pengejar. Sasaran yang datang tiba-tiba, justru jatuh pada Meissa. Lucu. Freddy memilih berjuang untuk perempuan yang tak sedikitpun mengacuhkan. Tak apa, cinta adalah perjuangan. Suara hati Freddy kala itu.

Babak baru perjuangan Freddy pun dimulai. Seketika girang hatinya, tau Meissa mengirim pesan duluan padanya. Jingkrak-jingkrak di kasur kamar, dikira Simbah ia tengah kerasukan Bagong-Semar. “Hwaiting!” Pungkas Meissa pada Freddy di pesannya. Jadilah Freddy menggunakan kata itu untuk penyemangat hariannya.

Tak berhenti sampai di situ, Freddy kian gencar melancarkan pendekatan. Freddy dan Meissa sepakat untuk saling membangunkan kala matahari belum memunculkan diri. “Besok telfon aku pas Subuh ya, biar kita bisa sholat bareng.” Jadilah Freddy menyuruh Ibunya membangunkan, biar disangka sigap oleh Meissa. “Tuuut..Tuuutt..Tuuuttt..” “Hai, aku udah bangun, makasih ya. "Hwaiting!” “Sa..ma..sa…ma.. Meissa!” Ucap Freddy sambil gemetaran.

“Dy, rencana nembak Meissa, jadinya gimana?” Celoteh Yuke dan Nura dengan kompak, teman sekelas yang turut membantu mencomblangkan Freddy dengan Meissa. “Aku mau ajak dia pergi ke tempat wisata, aku suruh dia buka blogku. Aku udah siapin puisi buat nembak dia di blog itu.” Respon Freddy sembari melihat ke sudut kanan atas alisnya sambil tersenyum bahagia.


“Mei, apa kabar? Sabtu sore kita jalan bareng yuk? Kita sambil ngerjain tugas survei bareng di Museum Karst.”

“Mei, kok diem aja? Kamu baik-baik aja kan?”

“Kok kamu ga bales pesanku?”

“Jawab dong.. Aku kenapa sih? Salah ya?”

“Ya udah deh aku minta maaf, tapi bales dong..”

“Mei, kamu kenapa sih? Semua udah aku kasih ke kamu, tapi kok kamu malah gini?”

“Jangan cuekin aku dong.. Aku cuma mau ajak kamu ngerjain tugas bareng di Museum Karst, kok!”

“Mei, aku mohon kamu jangan marah! Please, please, please!”


Freddy sebenarnya masih ingin mengirim pesan lagi, tapi sirna berkat pulsa ponselnya yang juga turut pergi meninggalkannya. Tuhan, lihatlah kemalangan Freddy, dia telah melakukan kesalahan fatal. Dia berlaku bak air laut yang haus darat di tengah pergantian musim kemarau menuju penghujan. Sungguh sangat malang, meski ini Wonogiri.

Sontak sejak saat itu, Meissa mulai perlahan-lahan menjauhkan diri. Telfon pas Subuh, sudah tak mempan. Menyapa di kelas pun, didiamkan. Berpapasan di kantin, juga masih bisu. Fix! Freddy gagal dalam tahap pertama memperjuangkan cinta Meissa.

Andai Saja

Purnama kedua belas memunculkan diri untuk kedua kalinya. Tersenyum manis di hadapan Freddy, lelaki malang yang masih menyimpan hati Meissa. Bodoh, tolol, dodol, martabak, gula kapas, apapun itu! Freddy sejatinya bisa beralih ke lain hati, mengingat tampangnya yang tak semalang nasibnya. Tapi apalah daya, cinta pertamanya telah membutakan hatinya, untuk jatuh cinta pada sosok yang sama. Selama masih ada harapan, maju terus ke depan, kiranya.

Sore itu, Freddy tak jadi mengolah raganya untuk berlari. Serius, ini bukan lari dari kenyataan. Ditataplah ponsel yang sudah naik tingkat, dulunya butut kini layar sentuh. Dering telfonnya kini berubah agak lebih melodis. Tibalah telfon dari Dara, teman sekelasnya dulu, yang kini juga sekelas sama Meissa di SMAN 1 Wonogiri.


“Dy, aku ada kabar bahagia nih buat kamu. Meissa bilang, andai aja kamu tinggi, pasti…”

“Oh, aku tau, pasti dia nggak mau sama aku hanya karena aku lebih pendek, ‘kan? Ok, makasih banyak Dara…”

“Tuutt..tuutt..tuuttt..”


Malam harinya, Freddy gegabah menggali informasi saintifik di jurnal kesayangannya "Google." Ketemulah, ramuan obat dari Cina, negara yang dulu turut andil membantu Freddy menghujani pesan untuk Meissa, yang membuatnya jauh-jauh ditinggalkan cinta pertamanya. Jadilah Freddy meminjam uang ke beberapa teman, yang totalnya lima kali lipat dari uang tabungan. Satu koma dua lima juta, uang yang harus direlakan untuk membeli enam kotak pil dan susu peninggi badan.

Dimulailah babak kedua perjuangan Freddy untuk Meissa. Hari-hari baru kini dia isi dengan rutinitas tak biasa. Pagi-pagi, meditasi. Sore hari, lari-lari. Giliran malam, minum pil dan susu peninggi badan. Rutinitas ini dia lakukan sampai beberapa minggu, hingga terhitung telah dua kali purnama kembali datang menyapa.

Betapa kecewanya hati Freddy, melihat ukuran tubuhnya tak kunjung memanjang. Bahkan satu senti pun tak didapat. Sirna. Uang satu koma dua lima juta lenyap begitu saja. Untuk ukuran anak SMK, uang sebanyak itu sudah bisa dipakai membayar SPP selama 7 bulan. Konyol. Semua karena Freddy teledor. Dia tak membaca panduan, kalau kafein dalam kopi harian ternyata dilarang. Membuat zat-zat kimia dalam pil dan susu tak bereaksi. Konyol sekonyong koder, ini namanya. Maklum, Freddy adalah pecinta kopi, meski tak ada yang lebih besar dari cintanya untuk Meissa.

Kegagalan ini dianggapnya water break babak kedua dalam permainan sepakbola. Masih ada separuh waktu untuk menaklukkan Meissa yang manis itu. Dimanfaatkanlah kemampuannya mengolah grafis. Berhubung ini bulan Mei, mendekati hari ulang tahun Meissa. Dibuatkanlah video perjuangan meninggikan badan, kemudian diselipkan kode tembakan. Meski badan tak memanjang bahkan satu senti, tetap ada keahlian manipulasi.


“Kak, sweeter yang bagus buat cewek feminim yang mana, ya?” Celetuk Freddy pada kakak kandungnya, Shako, yang kebetulan sudah lima tahun bekerja di gerai fesyen ternama.

“Kalau yang ini gimana?”

“Terlalu banyak warna, maksimal tiga warna deh”

“Emm.. Kalau yang ini, agaknya cocok nih, warna merah maroon dan hijau toska selaras dengan krem kalem.”

“Cakep, ya udah yang itu aja, Kak. Berapa harganya? Diskon yah!”

“Ssttss.. Jangan keras-keras, ada bos di belakang teras!”


Taraaa! Dibelinya kaset CD kosong, diisilah video perjuangan yang sebenarnya bohong. Diberi pemanis lagi dengan sweeter feminim rekomendasi kakak kesayangannya. Dengan berbangga hati, Freddy siap-siap besok pagi untuk menyerahkannya langsung pada Meissa.

Pagi itu, Freddy sudah siap menunggu di gapura alun-alun selatan. Meissa yang berjalan pelan dari arah barat, agaknya lesu karena lelah di perjalanan satu jam menunggangi bus Praci-Solo itu. Tinggal lima langkah, Freddy muncul seketika di hadapan Meissa. Ini hadiah untukmu, selamat ulang tahun, Mei! Ucapnya pelan, sambil menjabat tangan. Mau tau reaksinya apa? Senyum doang, lalu melanjutkan jalan.

Kenapaaaa? Batin Freddy dalam lubuk hati yang paling dalam. Terbawalah pertanyaan itu sampai ke mimpi kala ia melancarkan rutinitas tidur siang di kelasnya. Freddy tak habis pikir, injury time babak kedua pun gagal ia manfaatkan. Ternyata gawang lawan susah dijebol. Pertahanan Meissa begitu alot, tak kuasa ditembus olehnya.

Tak lama setelah kadonya diterima, Dara kemudian meneleponnya lagi. Dia menjelaskan, kalau sebenarnya semua ini salah paham. “Sebenarnya, aku dulu mau bilang: Dy, aku ada kabar bahagia nih buat kamu. Meissa bilang, andai aja kamu tinggi, pasti kamu bakal serasi sama Maura. Dia diam-diam memendam rasa sama kamu. Meissa lebih bahagia kalau kamu dengannya. Jangan kejar-kejar Meissa lagi, ya.”

Freddy merasa patah hati sehancur-hancurnya. Dia kecewa, marah, sedih, campur aduk jadi satu. Masih mending kalau lezat semacam es campur, lah ini? Perjuangan yang ia lancarkan, tak berujung kebahagiaan. Dia telah memberikan segala-galanya. Waktu, tenaga, pikiran. Edit video juga tak gampang. Lari enam kilo seminggu tiga kali, melelahkan. Beli pil peninggi badan dan sweeter anggun, mencekikkan. Sekali lagi, sungguh sangat malang, meski ini Wonogiri.

Menyoal Cinta

Dengan suasana hati pascabencana, Freddy mencoba legowo menerima kenyataan jatuh bangunnya. Berbesar hati ditolak dua kali, bahkan sebelum dia menyatakan cinta. Tragisnya, gadis pujaan justru memilih lelaki lain. Tahap pertama, dia memilih Rohim, rupa tak terlalu tampan, agak hitam, tapi tinggi. Tahap kedua, dia memilih Kevin, rupawan, tinggi, tapi kurus tak berisi.

Tamparan keras untuk Freddy. Kesalahan yang harus dibayar mahal. Dia salah, karena memilih jalan sebagai lelaki pengejar, bukan yang dikejar. Dia salah, karena memaksa jatuh cinta pada orang yang sama. Dia salah, karena memperjuangkan orang yang tak mengacuhkan.

Kini, kilas balik Freddy sebagai anak muda tangguh dimulai lagi. Dibukalah Google, jurnal saintifik kesayangan, diketiknya cara memikat wanita. Tiba-tiba ia terkejut, mengerutkan dahi, kemudian melototi. Hasil yang ia harapkan ialah panduan. Justru muncul nama orang: Ronald Frank. Siapa dia? Desus dalam hatinya.

Terheran-heran dia sampai terbawa mimpi. Keesokan paginya, ia sigap cari informasi. Ternyata, orang itu pakarnya cinta. Fyuh, kenapa tidak dari dulu? Freddy tersenyum lega, siap untuk belajar cinta.

Dipakailah waktu dua purnama untuk belajar mengenai apa itu cinta. Sampai-sampai, ia mahir bagaimana mendefinisikan sebuah kata cinta. Dulu, baginya, cinta adalah seks, cinta adalah pengorbanan, cinta adalah hal yang bisa ditumbuhkan –tresno kui jalaran soko kulino, dan cinta adalah keterikatan– cemburu, posesif. Semuanya salah, semua itu ego dan nafsu, bukan cinta.

Tapi kini, baginya, cinta adalah kehidupan. Semua hal yang membuat kita merasa hidup, full feeling, tak kosong. Cinta adalah memberi tanpa mengharap kembali. Cinta adalah berlaku baik pada semua orang, bukan pada orang yang disukainya saja. Cinta adalah pemberian, bukan tuntutan.

Syukurlah, Freddy sudah mulai mengerti apa itu cinta. Kini, dimulailah pertandingan baru bagi Freddy. Menyoal cinta, bukanlah perkara mudah. Freddy harus memegang erat definisi cinta. Karena ia percaya, kualitas romansa pasti tinggi jika benar mendefinisi.

Menyoal cinta, tak melulu soal siapa dia, tapi lebih ke siapa kita. Menyoal cinta, berarti memantaskan diri untuk menyambut cinta sejati. Menyoal cinta, berarti menjadi yang tepat untuk dia yang memiliki kecocokan jiwa. Tak henti-hentinya, Freddy ucapkan terima kasih pada Meissa. Terima kasih telah memberi pelajaran hidup paling berharga, yakni tentang cinta.

Salam, dari sahabatmu yang egois, Freddy.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya