Untuk Kamu yang Berkata Manis

Sejujurnya aku sendiri masih memiliki rasa yang sama seperti dulu ketika kita masih bersama. Perasaan ingin membuatmu bahagia itu masih meletup-letup dalam dada. Dalam banyak kenanganku, dirimu masih terus berkata manis dengan banyak pengharapan. Dalam benakku, dirimu masih memiliki senyum yang begitu memikat. Aku terjerat dalam lubang yang kau buat. Aku terjebak.

Advertisement

Jumpa kita dulu

Bagaimana awal kita bertemu dan berjumpa kembali setelah sekian tahun berpisah, bagiku masih tampak seperti keajaiban. Seolah kita memang ditakdirkan untuk saling melengkapi. Mungkin hanya diriku yang terlampau cepat menyayangimu dan meletakkan begitu banyak harapan padamu. Tutur lembut dirimu penuh ketegasan, seolah kamu begitu mampu menjaga diriku dari tangis selamanya.

Memberikanku harapan semu

Lalu perjalanan kasih kita yang begitu mulus meski kutau kita tak sesempurna itu. Tanpa kamu sadari, seringkali aku terkagum pada dirimu. Pada keteguhan hatimu, pun keras kepalanya dirimu. Aku mencintaimu dengan begitu sederhana, meski hanya segelas air putih yang kau suguhkan padaku. Meski sering kau biarkan tanganku berayun sendirian tanpa kau genggam. Aku masih mencintaimu.

Kisah yang sama dulu, membuat kita saling menjaga

Advertisement

Pahit akan cinta yang lalu, seolah ini takdir, kamu dan aku memiliki kisah yang nyaris serupa. Tentang sakitnya sebuah pengkhianatan, lantas saling berjanji untuk tak berkhianat. Tak banyak yang dapat kuceritakan tentang lelaki yang pernah mengisi coretan hidupku, karena memang nyatanya dirimu adalah yang kedua. Aku berlapang dada mendengar semua cerita tentang wanita-wanitamu yang pernah singgah. Sadar atau tidak, ada seberkas goresan yang membuatku terbakar api cemburu.

Tapi kadang kamu terlalu abai

Sering kali aku termenung, seberapa besar cintamu untukku? Sedang kamu saja dengan santainya menceritakan tentang wanita-wanitamu dulu. Tentang martabak manis yang kau antar pukul 10 malam sekedar ucapan maaf, meski sia-sia. Tentang peluk mesra wanita itu yang masih kau kenang, tentang rambut lurus panjang yang dia miliki, tanpa sadar kau paksakan aku memilikinya juga.

Dan aku hanya sekedar wanita lemah yang mencoba kuat

Cinta itu perjuangan dua orang, apakah tak kau lihat perjuangan diriku? Bukankah kamu yang paling memahami rasanya menempuh jarak berpuluh kilometer hanya untuk menemani wanitamu dulu kala malam? Lantas mengapa tak kau hargai kedatanganku dahulu? Kau abaikan diriku meski kamu tahu aku sendirian menempuh jarak itu, sekedar memohon maaf darimu.

Hingga habis kesabaranku

Bertahannya aku hingga kini, belum cukupkah menjadi bukti rasa sayangku pada dirimu? Tak sedikit lelaki yang mencoba menggantikan posisimu di hati, tetap saja dirimu tak pernah tergeser. Apakah dirimu juga? Sayangnya aku salah, hatimu telah terisi oleh wanita lain. Aku terluka, aku merasa begitu naif, mengharapkan cinta dari lelaki.

Jika memang aku bersalah, tak bisakah dirimu berdamai dengan ego. Kita akhiri semua dengan cara yang baik, bukan lari dan menghindar bak pengecut. Bukankah dirimu yang begitu aku cintai dulu, adalah seseorang yang cukup berani. Meski begitu,, aku berterimakasih, sekali lagi, kamu menghancurkan hatiku.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Tersenyum untuk bahagia, yuk senyum

CLOSE