Aku merasa sangat bodoh karena telah masuk ke dalam lubang yang jelas-jelas sudah diberi peringatan. Aku ingin tertawa terbahak-bahak memandang diriku yang sedang terluka parah akibat ketololanku sendiri. Aku memang gadis idiot yang jatuh ke dalam bujuk rayu playboy sepertimu, terbuai oleh ucap manis mulut lelaki yang jelas-jelas sudah kukenal sebagai penipu ulung. Tapi bagaimana?

Perhatianmu benar-benar membuat hatiku luluh, padahal hatiku sudah terlapis oleh baja anti "baper". Tapi kamu mampu menembus pertahanannya. Kamu memang benar-benar penipu ulung yang manis. Kamu memang sangat lihai dalam hal mempermainkan hati. Aku bersedih menyaksikan diriku terluka parah oleh sebuah pertemuan, yang sejak awal sudah kuinginkan untuk berhati-hati.

Aku memang bukan siapa-siapamu. Tapi entah kenapa, aku merasakan sakit yang teramat saat kamu menjalin cinta dengan teman dekatku.

Hari ini rasanya seperti tersambar petir saat mengetahui kamu menjalin cinta dengan teman dekatku. Aku merasa ingin menangis, ingin berteriak, dan memakimu. Mungkin salahku yang saat itu tidak membalas cintamu dan menolak saat kamu ingin menjadikanku sebagai kekasihku. Aku hanya ingin tahu sampai mana usahamu untuk mendapatkanku. Karena yang aku tahu, kamu pendusta yang sangat suka menebar pesona.

Sekarang saat kamu berpacaran dengan teman dekatku, aku sangat menyesal! Aku hanya bisa berkata bahwa aku bukan siapa-siapa dan aku bukan apa-apa. Aku hanya bisa memendam sakit, tapi sebisa mungkin untuk tersenyum.

Advertisement

Aku masih tidak mengerti, kenapa kamu memilih temanku untuk menjadi kekasihmu. Padahal sudah sangat jelas kuperingatkan kamu. Jangan pernah mendekati teman baikku. Tahukah kamu? Dia sering bercerita tentangmu. Meng-capture isi pesan singkatmu dan mengirimnya padaku. Semua pesan singkat yang sama, persis seperti saat kamu menggodaku. Dada ini sungguh terasa nyeri sekali melihatnya. Kamu tahu rasanya seperti apa? Coba saja kamu bayangkan sendiri!

Aku hanya secarik kertas usang dari kisahmu yang tidak berarti apa-apa.

Ah, sudahlah! Aku ini apa? Hanya secarik kertas usang dari kisahmu yang tidak berarti. Kita harus berpisah tanpa ada sepatah katapun ucapan selamat tinggal. Hah? Kenapa aku mengharapkan diucapkan selamat tinggal olehmu? Oleh orang yang hubungannya hanya sebatas "teman"? Sepertinya aku merasakan sakit sendiri. Sakit yang tidak kumengerti mengapa bisa terjadi. Sakit yang seharusnya tidak pernah ada.

Sakit yang mungkin dikarenakan aku terlalu terbawa perasaan oleh mulut manis playboy sepertimu. Terbuai oleh nyamannya pelukanmu, yang ternyata sedang menusukkan belati ke punggungku.

Sakit sekali rasanya saat kamu ada di depan mataku, tapi aku tidak bisa lagi merangkulmu seperti biasanya. Sedih sekali rasanya saat aku tidak bisa lagi menceritakan tentang hari-hari yang aku lalui denganmu. Aku merindukanmu, sangat merindukanmu. Kamu ada di sini, tapi tidak bisa kudekap. Kamu ada tapi seperti hilang. Semuanya berjalan seperti biasa, seperti tidak pernah terjadi apapun di antara kita yang memang pernah sangat dekat.

Kamu hebat, sayang. Kamu datang dengan menyatakan cinta dan membuatku jatuh cinta. Lalu kamu meninggalkan aku yang sedang cinta-cintanya padamu. Itu seperti kamu sedang membawaku ke awan, lalu menjatuhkanku ke lahar Merapi. Semoga kamu merasakannya!

Sudahlah, sudah! Aku tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan. Aku hanya ingin mengucapkan selamat atas resminya kalian berpacaran. Selamat juga karena kamu sudah mampu menggoreskan luka di hatiku. Semoga kalian berbahagia selalu! Terimakasih untuk setiap hari yang begitu berarti.

Untukmu,

Dari wanita yang sangat bersedih melihat dirinya yang begitu bodoh dan tololnya masuk dalam jebakanmu.