Pagi tadi langit tak seperti biasa, masih saja gelap. Ku buka jendela kamar, sepoi angin menyerbu masuk dengan segarnya. Tak lama hujan pun turun, kupandangi dan nikmati setiap jatuhnya. Ah, seketika menyelinap rasa aneh dalam dada. Ya, aku RINDU.

Entahlah mengapa otak menyampaikan bahwa rasa itu bernama RINDU. Rindu pada apa dan siapa, aku pun tak mengerti. Seketika terlintas ucapan teman yang beberapa malam lalu dengan semangatnya mengatakan "bahwa perempuan tidak akan tenang selama ia belum memiliki pendamping dan teman hidup yang mengantarkannya pada kebaikan hidup dunia dan akhirat". Ah..sadar, aku rindu engkau. Engkau yang hingga de8tik ini tak bisa kupastikan siapa, bagaimana raga hingga kepribadiaanmu.

Dear, Future. Aku bukan penyampai yang hebat, hanya penyimpan yang paling kuat. Oleh karena itu, sedikit tulisanku mungkin dapat memberitahumu beberapa hal.

Nanti, ketika kita bertemu dan engkau datang untuk mengucapkan janji pada Ayahku – Disana sudah akan ku mulai untuk menganggap engkau Rumahku. Tempat segala keluh pulang, segala rindu bermuara.


Aku adalah apa yang kau pikirkan. Jika engkau pikir aku baik, maka aku akan terlihat dan menjadi baik- begitu pula sebaliknya. Jika kau berharap denganku semesta lebih mendekat, imanmu lebih baik maka itulah yang akan berlaku.


Aku selalu percaya untuk saling mengenal membutuhkan waktu sepanjang hidup kita. Dan itupun tidak cukup untuk benar-benar mengerti, memahami segalanya. Tapi dengan ketidakcukupan itu, aku siap melakukannya sepanjang hidupku selama kau hanya memilihku sebagai pendampingmu tanpa bermain hati.

Aku adalah perempuan dengan segala keterbatasan untuk memahami dan menerima. Aku perempuan yang tidak pernah bersedia atas kata Pengkhianatan. Perlakukanlah aku seperti engkau ingin diperlakukan. Dan kumohon atas segala kurangku bimbinglah aku dengan baik serta sabar.

Aku tidak akan pernah bertanya bagaimana masa lalu mu, siapa wanita yang masih mengisi relung hatimu – yang tak bisa engkau miliki. Karena aku tahu bahwa ada orang dan cerita yang tak bisa kita matikan begitu saja dari hati. Aku pun begitu. Tapi terlepas dari itu, bisakah kita membiarkannya ada di masa lalu? Bisakah ia hanya mengisi sebuah ruang yang tidak aku tempati juga dalam hatimu. Silahkan sisakan sedikit untuknya. Aku tak berkeberatan.


Aku adalah pemberi maaf, perangaiku mudah-tidak terlalu sulit.


Aku hanya orang yang sangat tidak pernah mengerti bagaimana caranya memulai, sebab itu aku juga tidak pernah tahu bagaimana caranya mengakhiri. Bukan karena logika tidak berjalan, tapi bukankah segala yang berkaitan dengan hati selalu menjadi rumit? Jadi ku mohon. Jika engkau bisa memulai, berlakulah adil untuk tidak pernah mengakhiri nantinya.


Tetaplah hidup setia bersamaku dengan penuh cinta hingga Tuhan memanggil salah satu dari kita untuk kembali pada Nya.


Dear Future,

Sungguh, ketika engkau mampu memintaku pada Ayah serta beucap janji di depan penghulu, pada hatimu aku ingin berumah selamanya. Tumbuh menua bersama, mengabdi pada Tuhan hingga waktunya. Bersamamu ingin kuraih banyak ladang pahala, banyak kebahagian yang utuh dan nyata.

Tolong jadikan pula aku rumahmu ternyamanmu. Bersiaplah untuk kembali bertemu dalam surga-Nya.