Mungkin aku tak sempat membahagiakan mu, memberikan mu sesuatu yang berharga dari diriku sendiri, membuat mu tertawa lepas seperti yang kerap sekali dilakukan oleh anak-anak lain kepada ayahnya. Karena Tuhan sudah memanggil mu lebih cepat dari yang aku bayangkan.


Aku tidak pernah membayangkan atau memikirkan kalau orang yang selalu kami banggakan akan secepat itu meninggaalkan kami, terkhususnya diriku. Aku belum mempersiapkan diriku untuk kehilanganmu selamanya. Tapi pada kenyataaannya keadaan memaksaku untuk siap. Sekalipun awalnya aku sangat down dan terpukul.


Advertisement

Begitu banyak suka duka yang aku alami bersama denganmu, selama 20 tahun aku merasakannya. Sesungguhnya itu waktu yang sangat singkat buatku. Ayah tau masih sangat banyak hal yang belum sempat aku ceritakan padamu. Karena mungkin bagian dari sifat ayah yang tidak suka ikut campur dalam urusan pribadiku terlebih tentang asmaraku dan bagian dari diriku yang cuek yang membuat kita jarang bercerita bersama. Terlebih setelah aku melanjutkan studi diluar pulau. kota yang begitu jauh dari tempat tinggal kita. Membuat kita semakin jarang berkomunikasi, jarang bercanda tawa, dan sangat bayak lagi.

Sesekali aku teringat ketika ayah harus mengantarkan ku setiap pagi ke sekolah, menjemput ku, bahkan sesekali aku membuat ayah menunggu sangat lama karena aku sedikit nakal waktu itu.

Hampir setiap sore ayah minum teh manis, dan yang menghabiskan sisa-sisa terakhir adalah aku, sepertinya sudah wajib hukumnya sisa-sia teh manis buatan mu yang menghabiskannya adalah aku. Karena aku sangat suka teh manis buatan tangan Ayah rasanya berbeda dari teh manis buatan mama, kakak, abang, atau bahkan orang lain. itulah salah satu momen yang sering aku rindukan.

Advertisement


Ayah, aku sangat bisa merasakan apa yang ada di dalam hati mu kala itu, saat sebelum ayah pergi. Ingin rasanya ayah mendampingi aku ketika aku memakai toga yang akan ayah banggakan kepada teman-teman ayah. Dan kita sama-sama merasakan itu.


Terimakasih buat kerja keras mu yang tidak pernah aku dapatkan dari siapapun di dunia ini. Terimakasih sudah membuat aku menjadi wanita seperti sekarang ini, terimakasih sering memarahi ku, terimakasih karena engkau tidak memanjakan aku. Terimaksih untuk semua itu. Dan terimakasih untuk setiap teh manis yang ayah sisakan untuk ku.

Ayah, saat ini aku sedang mencintai seorang lelaki yang mirip denganmu. Aku belum sempat mengenalkannya padamu, tetapi dia pernah bertemu dengan mu dan mengenalmu walaupun itu hanya sekali ketika ayah hendak mengantarkan aku melanjutkan studi. Aku sangat bersyukur karena dia sempat mengenalmu sebelum ayah pergi.


Dia sangat mirip denganmu, caranya berbicara, caranya memarahiku, caranya membimbingku, bahkan sampai caranya membawa motor kalian sangat mirip.


Ahh… membuat aku semakin merindukanmu saja. Kebiasaannya mengobati rasa rinduku ketika aku sangat merindukanmu. Dia adalah lelakiku setelah dirimu ayah. Dia tak pernah berjanji akan selalu membahagiakan ku, karena aku tau akan ada saatnya aku kesal, marah, menangis karena dirinya. Tapi dia berjanji tak akan meninggalkanku. Semoga kelak dia menjadi teladan buat diriku yang membuat aku semakin mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama.

Terimaksih ayah, kau selalu ada dihatiku yang terdalam sampai selamanya….

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya