Saat bibir tak mampu untuk berkata

Saat otak mulai lemah untuk berfikir

Saat hati sudah sangat lelah untuk bersabar

Saat mata sudah kering untuk menangis

Saat itulah aku mulai tersadar, bahwa kau sudah benar-benar pergi meninggalkan semua asa.

Rasanya baru kemarin kau mengenalkan cinta padaku, rasanya baru kemarin kau janjikan masa depan untukku, rasanya baru kemarin kita duduk berdua di taman itu, rasanya baru kemarin kau mengengam erat tanganku. Taukah kau bahwa semua itu baru kemarin.

Advertisement

Tapi mengapa dengan tega kau pergi menghilang dalam hidupku begitu saja.

Satu hal yang aku yakini bahwa Tuhan tak kan mungkin mempertemukan kita tanpa maksud tertentu. Bukankah tiada yang kebetulan di dunia ini? Bukankah Semua sudah direncanakan Tuhan? Mungkin juga dengan pertemuan kita ini.

Walau hanya sekejap tak sampai terhitung tahun bahkan kurang lebih hanya 3 bulan. 3 bulan yang berarti. Kau datang padaku dengan alasan sayang, bahwa kau butuh pendamping hidup. Dan sekarang kau pergi dengan alasan kau ingin fokus dengan mimpimu.

Advertisement

Sekejam itukah dirimu, bahwa selama ini kau mengangap ku sebagai pengganggu fokusmu? Seburuk itukah aku dalam fikiranmu ? Nyata nya kau salah menilaiku. Aku tak seburuk itu sayang, Aku tak pernah menggangumu dalam mengejar impianmu, bahkan aku rela menunggu berhari-hari saat kau sedang sibuk dengan pekerjaanmu yang kau bilang tiada habisnya.

Taukah kau bahwa ini tak adil untukku. Dengan mudahnya kau patahkan hati seorang gadis yang sangat tulus mencintaimu. Dengan mudahnya kau hancurkan hati seorang gadis yang baru saja sembuh dengan luka. Dengan mudahnya kau kembali menggores bahkan menyayat-nyayat hati seorang gadis yang selalu mendoakanmu dalam diamnya.

Untuk apa kau hadir, hanya untuk melukai hatiku? Bukan kah kau sudah berjanji untuk tidak menyakiti hatiku ? Bukan kah kau sudah berjanji untuk membahagiakan ku dimasa depan? Bukan kah kau sudah berjanji untuk membawaku pergi ke negara impianku?

Tapi mengapa kau mengingkarinya, sayang? mengapa kau pergi tanpa menunaikan janjimu itu sayang? Bukankah janji adalah hutang? Sadar kah kau, kau telah berhutang kepadaku.

Kalau memang benar hubungan kita sudah berakhir, salahkah aku bila aku ingin mengakhirinya dengan bahagia. Bukan seperti ini cara nya sayang. Setelah berhari-hari aku menunggu kabarmu, menunggu kau selesai dengan tugasmu, akhirnya kau pun menghubungiku melalui pesan singkat sms. Tapi apa isi yang aku baca? Bukannya kata rindu, tetapi sebuah kalimat maaf. Maaf bahwa kau tak bisa melanjutkan hubungan kita lagi. Dengan alasan kau ingin fokus dengan mimpimu.

Detik itu juga leherku terasa tercekik, dadaku sangat terasa sesak, air mata mengalir deras dipipiku. Hari-hariku hanya sebatas dinding kamar dengan tissu yang berserakan dilantai.

Kau sudah sangat berdosa mematah-matah kan hati seorang gadis yang sangat tulus mencintaimu, sepatah-patahnya.

Dan hari ini aku tersadar berkat Tuhan yang menguatkanku. Aku tak ingin terlalu lama larut dalam kesedihan ini. Bayak hal yang harus aku perjuangkan. Aku juga berhak bahagia. Aku sadar bahwa ini adalah rencana-Nya. Ia lebih mengetahui yang terbaik untukku. Mungkin menurut-Nya aku akan lebih bahagia bila tidak bersamamu saat ini. Mungkin benar rasa Sakit hati ini akan menjadi motivasi awalku untuk kembali pada target awal hidupku, untuk lebih memprioritaskan kebahagiakan kedua orang tuaku.

Jika alasanmu pergi dari hidupku hanya untuk agar kau fokus mengejar impianmu. Baiklah aku pun juga demikian. Aku juga pergi dari hidupmu, agar aku juga mampu lebih fokus mengejar impianku.

Baiklah, terima kasih untuk luka yang kau beri, karena tanpa ku sadari, hal ini sudah sedikit mendewasakanku. Walaupun aku masih punya cinta yang tulus untukmu.

Ahh, sudahlah aku tak mau terlalu membahasnya. Karena kau sudah menyia-nyiakan ku begitu saja. Mungkin ini salah satu dari Rencana tuhan. Karena sebaik-baiknya kita merencanakan sesuatu tetap rencana Tuhan yang terbaik. Biarlah kali ini takdir Tuhan yang berbicara. Tuntaskan dulu semua mimpi-mimpimu. Aku pun demikian. Semoga masih ada celah dihati kita untuk tidak membenci tentang hal ini.

Setiap perbuatan pasti ada balasannya, aku tidak akan membencimu. Mungkin kau adalah salah satu kesalahan terbesar dalam hidupku. Aku hanya berdoa semoga aku tidak jatuh kembali pada kesalahan yang sama. Biarkanlah kali ini takdir Tuhan yang berbicara, bukankah ia telah mengatur semuanya. Begitu juga dengan jodoh.

Aku harap kau dapat mengerti akan perasaan seorang wanita, apalagi wanita yang tulus mencintaimu seperti diriku. Semoga hanya aku wanita yang kau patahkan hatinya sepatah-patahnya. Jangan lakukan hal ini pada wanita lain. Karena belum tentu wanita itu sekuat diriku, yang kau patahkan sepatah-patahnya.

Untukmu, pria yang mematahkan hatiku sepatah-patahnya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya