Dari dahulu, sering kullihat dari layar kaca maupun layar lebar tentang kisah cinta yang tak mungkin terucap. Tentang kisah orang-orang yang hanya sanggup mengagumi dari jauh. Mereka terpaksa bersabar menghadapi keadaannya yang malang karena ketidakpercayaan diri. Ada saja penghalang salah satunya untuk mendekati. Entah kurang cantik atau tampan, kurang kaya, kurang tinggi, kurang berpengaruh di masyarakat, dan perkara lain.

Awalnya, aku menaruh iba pada nasib mereka yang hanya pasrah pada situasi. Mungkin juga kesal karena mereka menyerah sebelum berjuang keras. Tak dinyana, kini aku pun mengalaminya. Itu sejak aku bertemu denganmu. Pria yang terlampau sempurna, tapi telanjur kucintai.

Dari pertama bertemu, memang benar adanya aku terpesona olehmu. Sayangnya, aku cuma gadis pemalu.

Sudah cukup lama semenjak waktu itu. Sejak aku tanpa sengaja melihatmu dalam penyambutan mahasiswa baru. Sebagai anak baru yang sedang diplonco, tak banyak yang sanggup kuperbuat untuk mendapatkan perhatianmu. Kamu adalah mahasiswa baru jurusan sebelah yang sama sibuknya dengan aku. Kita sama-sama disibukkan dengan tugas-tugas kakak angkatan yang bisa saja meneriaki dan murka kala kita luput.

Kucuri dengar, kamu jadi salah satu mahasiswa idola baru di kampus ini. Kakak angkatan yang perempuan sering memanggilmu untuk sekedar menggoda atau menunjukkan simpati. Sedangkan sesama angkatan perempuan yang menyukaimu pun tak sedikit jumlahnya. Mereka adalah perempuan-perempuan terbaik dan cukup terpilih, menurutku. Mereka cantik, tinggi, langsing, kaya, pintar, punya kedudukan, ternama, serta kasta tinggi.

Sedangkan aku? Aku cuma gadis pemalu yang masih polos.

Pernah aku berpikir untuk mendekati. Tapi label pemuja rahasia tersemat lagi.

Advertisement

Lama kelamaan, tak kupungkiri lagi kalau aku mencintaimu. Keinginan untuk mengenal dan mendekati bahkan sempat terbesit. Tapi, semua itu mesti berlalu seiring waktu berganti. Setiap saat ingin memulainya, selalu ada yang membuat diri ini meragu. Selalu saja waktu sedang tak tepat. Bahkan pernah tinggal sebentar lagi, halangan seakan datang tanpa permisi. Pada akhirnya, niat menwujudkan cinta hanya sekedar ilusi.

Akhirnya, aku harus berbangga hati dengan label pemuja rahasia. Tak terhitung lamanya aku telah berkawan mesra dengan label ini. Label yang tercipta dari diriku sendiri dan dibuat untuk diriku pula. Sampai akhirnya aku mendapati berita terkini, bahwa kamu telah menjalin kasih dengan seorang wanita yang selama ini turut menjadi gadis yang dimimpi-mimpi banyak lelaki.

Jelas sudah bahwa aku akan kalah set dengan wanita sesempurna itu.

Apalah daya karena aku memang bukan siapa-siapa. Aku cuma makhluk Tuhan yang hanya dapat sering berkirim doa.

Aku memang bukan siapa-siapa. Untuk mengenalmu saja, hingga detik ini pun aku tak punya nyali. Aku akan selalu jadi pemuja rahasia sejati dengan upayaku yang seminim ini. Biarlah sahabat terdekatku menyayangkan rasa tak percaya diri ini. Biarlah kamu tak akan pernah tahu bagaimana jelasnya perasaanku padamu. Yang pasti, Tuhan tahu itu karena aku tak pernah berhenti mendoakan kebaikanmu kepada Sang Maha Pecipta.

Aku pun akan selalu mengamini kata-kata mutiara ini. Kata yang terasa begitu layak disematkan untukku, di samping label pemuja rahasia.

Kalau betul sayang dia, buktikan dengan doa. Walaupun dia tak tahu, tapi Allah tahu betapa sayangnya kita pada dia.