Ada sesuatu yang memikat tentang huru-hara pengunjung bandara. Setiap kali pengeras suara berbunyi mengumumkan jam keberangkatan, selalu ada harapan disana. Tempat dimana semua rasa mulai hidup dan tercipta, antara yang bersuka dan berduka, yang bangga dan merana, yang rela dan terpaksa.

Sejak kecil aku sudah diperkenalkan dengan perjalanan. Tak heran jika sekarang ruang tunggu bandara merupakan salah satu tempat kesukaanku, selain ruang tunggu stasiun kereta dan rest area jalan tol. Aneh? Ya, memang. Karena bagiku lebih mudah menjalani hidup bila harapan itu terpampang jelas di wajah orang-orang yang menanti keberangkatan.

Di sini pula aku belajar tentang kontradiksi waktu. Bagi keluarga kecil di pojok kanan, waktu berjalan begitu cepat karena nampaknya mereka baru saja pulang berlibur. Koper yang semula kosong sekarang padat terisi oleh-oleh dan baju kotor. Kulit yang semula putih bersih sekarang coklat berbintik terkena sinar matahari, dan yang paling mencolok adalah anak perempuan mereka yang sedari tadi merengek tak ingin kembali ke sekolah.

Lain halnya dengan laki-laki di sebelah kiri. Raut wajahnya murung, tubuhnya tegak menjauhi sandaran kursi, kaki kanannya dihentak-hentakkan pertanda ia harap-harap cemas menunggu sesuatu. Mungkin sekarang ia tengah mengutuk waktu karena merangkak begitu lambat. Mungkin juga saat ini ia tengah berharap memiliki sayap hingga dapat terbang kemana pun ia akan menuju.

Saat itulah pikiranku penuh dengan berbagai ide dan fantasi. Aku mulai menerka-nerka maksud dari percakapan orang-orang yang tak seharusnya kudengar, tapi terdengar. Aku turut membayangkan apa saja yang menanti di tempat tujuan mereka. Pikiranku melayang ke tengah riuh rendah suasana bandara. Di tengah kegembiraan mereka yang sama gembiranya seperti aku.

Advertisement

Satu ruang tunggu bandara yang sama selalu menyuguhkan banyak cerita, dan dari sanalah aku belajar bahwa satu hal yang sama, sesederhana waktu, selalu punya arti yang berbeda.