Kota serambi mekkah, julukan khas dari kota Banda Aceh. Kota yang memiliki sejarah tsunami yang kelam. Masih segar dalam ingatan kita 14 tahun silam ketika gelombang yang tingginya hampir mencapai 30 meter melanda kota Banda Aceh. Kejadian tsunami ini sendiri berdampak kepada beberapa negara seperti Sri Lanka, India dan Thailand yang juga terkena dampak yang hampir sama dengan Indonesia. Tak heran bila bencana ini menewaskan 230.000-280.000 jiwa di 14 mgera.

Tsunami yang terjadi akibat gempa yang berpusat di pulau Simeulue ini sendiri telah meratakan kota Banda Aceh dengan tanah. Sungguh luarbiasa perihnya duka yang dirasakan korban disana. Mereka harus kehilangan harta, rumah bahkan anggota keluarga mereka.

Advertisement

Namun, dibalik kesulitan tentunya ada kemudahan. Kota serambi mekkah ini sendiri saat ini sudah banyak berbenah. Itu terlihat dari keindahan yang terjadi ditengah masyarakat setelah bencana tsunami itu berlalu 14 tahun silam.

Seperti masjid yang kian megah dan selalu ramai masyarakat yang berbondong-bondong untuk melaksanakan ibadah. Di Banda Aceh sendiri terdapat 94 mesjid yang tersebar di kota Banda Aceh. Dengan mesjid yang paling terkenal adalah mesjid Baiturrahman yang ketika tsunami bediri tegak dan menyelamatkan banyak orang kala itu. Perbaikan mesjid Baiturrahman sendiri hingga mencapai Rp. 458 Miliar yang digelontorkan agar mesjid Baiturrahman kembali seperti semula.

Mesjid ini sendiri sekarang didalamnya terdapat 30 pohon kurma dan 12 payung elektronik seperti yang ada di masjid Nabawi. Perombakan besar-besaran ini sebagai wujud bukti masyarakat aceh segera berbenah dan melupakan kenangan pahit masa silam. Dan menjadikan masjid Baiturrahman sebagai pusat kajian islam di Aceh.

Advertisement

Bukan hanya mesjid yang megah di Aceh. Akan tetapi, banyaknya anak-anak yang menghiasi setiap masjid sebagai wujud kepedulian dalam menanamkan nilai agama dalam pendidikan karakter anak sejak dini. Tak jarang di Aceh banyak masjid berdiri sekaligus terdapat madrasah di sana.

Maka tak heran bila ketika kita sedang sholat ramai anak kecil yang berbaris di shaf belakang. Tidak seperti anak-anak biasanya yang hanya berisi canda tawa. Anak-anak aceh juga ditanamkan nilai agama mengenai anjuran-anjuran yang sebaiknya dilakukan ketika selesai sholat.

Ini dapat kita lihat ketika salah seorang guru mereka menyuruh seorang murid untuk memimpin doa dan dzikir ketika sholat. Pemandangan ini sungguhlah pemandangan yang indah. Bahwa sesungguhnya kesedihan kita hanya mampu dihapus dengan mendekatkan diri pada sang pencipta.

Di kota Aceh sendiri sekarang memiliki tata letak kota yang lebih rapi sehingga memanjakan setiap pengunjung. Keindahan yang hadir di Banda Aceh sendiri merupakan suatu berkah yang menjadi harapan bagi. Banyak monumen-monumen yang diabadikan agar dapat mengenang peristiwa tsunami itu. Seperti museum tsunami, PLTD Apung, Kapal Apung Lampula, dan Pantai Lampuuk yang menjadi destinasi wisata.

Monumen-monumen ini sendiri menjadi daya tarik wisatawan untuk menyelami sejarah yang ada di Aceh terutama rekam jejak kejadian tsunami di kota Banda Aceh. Kita bisa melihat bagaimana perjuangan rakyat aceh bertahan hidup untuk tetap tegar setelah tsunami itu melanda kota Banda Aceh.

Banyak bantuan dari negara tetangga dan rasa peduli dunia akan warga aceh memberikan wajah baru bagi warga aceh. Dimana harapan baru itu tumbuh. Julukan yang kota Banda Aceh sebagai kota Serambi mekkah tetap terjaga dengan mesjid yang megah berdiri dengan generasi yang terus menaati syariat agama. Pembangunan yang terus berjalan sebagai modal awal untuk melihat di mana kebahagiaan setelah kesedihan.

Biarlah kesedihan seperti tulisan di tepi pantai yang tersapu ombak. Tetapi, keindahan kota Banda Aceh tetaplah sebuah kenangan yang akan dibawa hingga anak cucu nanti.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya