Tibalah saatnya dimana waktu itu telah datang. Waktu dimana aku ahirnya harus memulainya. Waktu dimana aku harus mengukir masa depan di atas permukaan yang tak datar, melukis mimpi dengan kuas yang tak seindah milik Da Vinci, dan merangkai mimpi dari nol dengan cara yang sederhana tanpa rumus pitagoras yang selalu membuatku pusing tujuh keliling. Hidupku memang rumit, terdapat klimaks yang unik yang tak mampu ditebak oleh siapapun, bahkan oleh diriku sendiri meskipun ini adalah ragaku sendiri.

Waktu semakin kejam menindas. Maka memang benar kata orang tua dulu, jika kau ingin percaya. Bahwa waktu adalah musuh terbesar manusia, sedangkan kematian adalah bentuk penghinaan terbesar waktu kepada manusia. Waktulah yang membuatku bahagia, dan waktulah yang membuatku mati rasa bersedih hingga meneteskan air mata. Sang waktu kadang bisa menjadi sahabat bahkan saudara yang paling mengerti di dalam setiap kondisi, namun juga sekaligus sebagai musuh yang paling berbahaya, buasnya seperti fantastic beast. Obleviate me!

Advertisement

Kini aku sudah tiba diwaktu ini. Waktu dimana aku harus mulai merangkai mimpiku yang sempat tertunda beberapa waktu lalu, lagi-lagi waktulah yang menyebabkan ini terjadi. Waktulah sang biang keroknya, ialah yang menyebabkanku terlambat mulai merangkai mimpi yang sudah sejak lama aku dambakan. Waktu sengaja bergerak lebih cepat, membuatku terlena olehnya, dan akhirnya aku mulai tertinggal jauh oleh kawan-kawanku dalam merangkai mimpi. Disaat mereka sudah hampir menyelesaikan lukisan masa depan mereka, aku disini masih baru mulai menyiapkan kuas masa depan.

Hidup ini memang tak seindah film-film dongeng yang pernah ku tonton, atau gambar-gambar kartun buku yang pernah ku baca. Dunia ini jauh begitu kompleks, tak akan mampu untuk diceritakan secara detail oleh film ataupun buku. Karena rahasia tuhan tak akan ada yang mampu menandinginya, meskipun kini manusia sudah dapat merubah dan menjangkau sesuatu hanya dengan sebatas menekan jari atau menekan enter.

Di sini aku berdiri sendiri, disaksikan bintang dan rembulan sambil menertawaiku. Aku sibuk merangkai mimpi yang sudah sejak kecil aku inginkan. Namun ternyata tak semulus yang ku bayangkan. Dunia kecilku ternyata begitu indah, tak pernah sedikitpun masalah ini tergambar oleh otaknya waktu kecil dulu. Menggapai mimpi tak semudah menutup pintu, tinggal bolak dan balik, lantas menutup dan terbuka. Menggapai mimpi membutuhkan kerja keras dan pengorbanan yang luar biasa, you do more you get more!

Advertisement

Aku akan berjuang demi mimpiku. Ibu dan Ayahku tak akan pernah menyesal melahirkannku. Meskipun jasa-jasa mereka tak akan pernah bisa aku balas, namun setidaknya aku bisa menghasilkan keringat yang bisa membuatnya bahagai. Ibuku adalah orang terpilih yang mampu melahirkanku, dan ayahku adalah orang spesial di dunia ini yang dipilih tuhan untuk membimbing dan membesarkannku dengna caranya sendiri. Meskipun mimpi itu jauh, tak masalah, meskipun harus meneteskan darah, aku akan tetap menggapainya. Demi yang di rumah.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya