Aku bingung mau mulai menulis kisah ini dari mana. Baiknya kita mulai dari mana? Dari pertemuan itukah?

Aku mengenalmu beberapa tahun silam. Tepatnya hampir empat tahun lalu. Aku mengenalmu dari salah seorang kerabatku. Tidak ada yang spesial darimu. Ya, kamu biasa saja. Kamu yang baru patah hati, begitu juga dengan aku yang hancur hati. Kita dipertemukan karena alasan yang sama, namun alasan tersebut juga lah yang memisahkan kita.

Selama kita dekat, aku bisa melupakan sedikit kesedihan hati ini dan bisa kembali tersenyum namun kebahagiaan ini tidak lah berlangsung lama sampai akhirnya aku mendapati kamu masih mengingat dia masa lalumu. Aku lupa entah sejak kapan kamu menjadi begitu berarti, hingga dada ini terasa sesak sekali.

Aku berusaha menjauhi kamu, tidaklah sulit tapi tidak juga gampang. Sampai aku kembali bertemu dengan seseorang. Dan memulai kisah baru dengannya dan perlahan melupakan kamu. Tapi.. kamu kembali hadir, kamu datang lagi. Apakah kamu sakit mengetahui aku sudah bersama dia?

Maafkan aku yang tidak mempedulikanmu ketika mendengar kabarmu yang sakit, bukan aku tidak perduli. Tapi aku takut. Takut jatuh lagi kepadamu. Semua berjalan baik adanya. Aku bahagia dengan hidupku, memiliki pekerjaan yang baik, kehidupan keluargaku pun membaik. Sampai akhirnya.. semesta kembali mempertemukan kita.

Advertisement

Hari itu. Siang itu. Saat itu. Aku kaku terdiam melihatmu yang memanggilku dan bertanya dalam hati apakah aku bermimpi? Tidak! Jelas itu bukan mimpi, aku melihatmu didepan mataku. Ya! Aku melihat kamu lagi. Tidak banyak yang kita bicarakan siang itu. Hanya sekilas lalu, dan sebentar saja.

Kamu sudah banyak berubah, teman lamaku. Kamu semakin terlihat dewasa. Kamu berbeda dengan yang dulu. Selepas pertemuan singkat itu, aku merasa sangat gugup. Aku awalnya sangat lapar, tapi melihatmu aku jadi kenyang. Ini jelas tidak ilmiah tapi ini sugesti. Mengapa Tuhan mempertemukan kita? Mengapa aku harus melihat kamu lagi? Karena yang aku takutkan sungguh terjadi.. diriku jatuh kedua kalinya padamu.

Tak lama kemudian, kudengar kabar kamu sudah memiliki seseorang pendamping. Aku senang, karena ada yang menjagamu disana, setidaknya tidak seperti ku saat mendengarmu sakit, aku pergi. Pengecutkah aku? Mungkin iya. Tapi aku tau kapasitas hatiku, aku tau apa yang akan terjadi kalau aku berjumpa denganmu.

Aku tidak menyesali pertemuan kemarin denganmu. Aku berterima kasih Tuhan kembali mempertemukan kita walau dalam kondisi yang berbeda. Aku memang jatuh kepadamu untuk kedua kalinya, tapi aku yakin aku bisa melanjutkan hidupku kembali seperti 4 tahun lalu.

Cinta tidak harus memiliki itu munafik. Tapi terkadang cinta itu harus mengikhlaskan, karena ikhlas lah yang melapangkan jalan rejeki, jalan jodoh, dan jalan hidup kita.

Teruntukmu, DN.