Duhai mantan, sekalipun kau bawakan bulan ke pangkuanku, engkau dan aku tidak akan pernah lagi menjadi kita!

Kau adalah orang yang sempat memberikan keindahan untukku. Pagi dan petang kau kirimkan sapaan manis, sore dan malam kau puji diriku. Namun sayang seribu sayang, semuanya palsu belaka. Aku terbuai ucapan manismu, aku termakan janji setiamu. Saat itu kau kandaskan cerita kita, kau gunting harapan tentang masa depan dan kau sayat hati ini dalam-dalam.

Advertisement

Pada baris penghujung pesan singkatmu, kau tulis beberapa nasihat untukku sebagai pegangan setelah kita berpisah. Kau menuliskannya dengan sangat enteng, seolah tidak akan ada hati yang sakit karenanya. Seolah aku baik-baik saja. Namun itulah yang memicu diriku untuk bangkit dan merelakanmu.

"Manfaatkan waktumu sebaik mungkin, jangan pernah galau gara-gara aku!"

Yup! Aku mencoba memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin. Awalnya sulit namun karena tekad, aku berhasil. Kuikuti berbagai kegiatan di kampus sampai aku hampir tak punya waktu untuk bernapas. Dan semenjak itu aku tidak pernah lagi galau gara-gara kamu!

"Kamu itu perempuan, bersikaplah sebagai perempuan."

Ohohooooo, sebelum kau berpesan pun aku sudah sadar sesadar-sadarnya bahwa aku perempuan, aku berlian yang tidak boleh disentuh oleh sembarang tangan. Maka dari itu aku lebih waspada lagi terhadap mahluk menyeramkan yang berjenis "laki-laki" termasuk dirimu. Dulu kau bilang aku jorok, maka kini kuatur sikapku sedemikian rupa supaya engkau, teman-temanmu dan semuanya paham bahwa aku bukan perempuan yang sembrono pada diri sendiri.

"Belajar yang rajin, supaya bisa membanggakan orang tua!"

Pasti! Lepas darimu aku makin giat belajar. Tidak ada lagi puluhan pesan yang mesti kubalas dengan segera, tidak ada lagi dering telepon yang memekikkan telinga. Tidak ada lagi waktuku yang terganggu karenamu. Perlu kau tahu bahwa patah hati ini membuat nilai-nilaiku melejit naik lebih dari lima puluh persen! Aku yang dulu kau ejek malas kini bermetamorfosis menjadi pribadi yang lebih rajin dan gigih mewujudkan mimpi dan membanggakan orang tua.

Advertisement

"Teruslah berkaya, wujudkan cita-citamu!"

Yes! Berkat nasihatmu aku makin rajin berkarya. Kutulis cerita kita berkali-kali dengan versi yang berbeda. Kusertakan ke berbagai lomba, dan menang! Kau sendiri tahu bahwa sebelum berpisah, aku adalah gadis bodoh yang tidak bisa memenangkan satu pun kompetisi yang berkaitan dengan hobiku. Berkat perpisahan yang engkau buat, karyaku dikenal dan dipuji banyak orang.

"Kita masih bisa berteman, kok :)"

Wow! Ini yang paling aku suka. Sekian bulan, sekian tahun aku menata hati supaya bisa menganggapmu hanya sekedar teman biasa. Kemudian aku bisa, aku berhasil! Namun kau kembali untuk sebuah maaf dan merajuk agar kau dan aku menjadi "kita" lagi. Dengan renyah dan gurih aku jawab "Maaf, aku hanya anggap kamu sebagai teman saja seperti yang kau nasihatkan dulu."

Duhai engkau, terima kasih banyak karena telah memutuskan harapanku. Terima kasih telah menjadi obat sekaligus racun bagi pilunya hatiku. Namun sejak saat itu, sejak kau beri aku nasihat yang menyayat, hidupku bangkit. Masa depan kutata kembali tanpa sebaris pun terselip namamu. Kau sangka bahwa hari Kebangkitan Nasional tahun ini aku baru bangkit, namun tidak, kawan! Sungguh persangkaanmu tidak betul. Aku sudah bangkit bahkan sebelum hari Kebangkitan Nasional!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya