Aku meracik kehangatan di seteguk kopi yang menyapa bibir manismu pagi ini.

Sapaan sederhana, ya begitulah caraku menanam rasa rindu yang tidak hanya hatimu yang rasakan. Mengenangmu semalam suntuk melalui gelap yang sama sekali tidak dapat kuajak kompromi. Rasanya detik begitu nyata mengeja setiap incimu. Mengingatkanku lagi akan banyak lupa yang kucoba berpaling. Gerai rambutmu yang dihempaskan angin, senyum lepasmu saat hal konyol tetiba terucap dariku, aku lupa hidungmu yang mengembang saat kamu tersipu; detik begitu jelas mengejanya.

Aku tidak merindumu, hanya saja hati ini terlalu melankolis mengingat semua hal tentangmu. Nyatanya bukan hal manis saja yang membuatmu manis. Cara pandangmu akan dunia membuatku tak berdaya sekaligus bangga menjadi bagian dari hebatmu saat ini. Walau sebenarnya itu rahasiaku. Semoga kamu tidak membaca ini. Aku malu kalau kalau semakin nyata kekalahanku akan waktu yang tidak bisa kuhempaskan. Jika kubuka lagi pemberianmu kala itu, memang bukan barang atau sesuatu yang dapat kuraba.

Aku tidak malu setiap kali aku mengadu dan rebah di pelukmu ketika masalah kecil merobohkanku. Seolah pelukmu menjadi rumah untuk keluhku meski tak kujelaskan. Itu kenyamanan, itu harapan. Aku dapat merabanya di setiap helai nafas yang kuhempaskan di pelukmu. Tapi jangan berbangga hati, ini bukan kerinduan. Tiba, kau seolah lebih jauh memandang dunia. Dibalik banggamu aku lumpuh oleh kenyataan kau akan meninggalkanku. Kau begitu beekuasa di warasku. Nada dan irama yang kau cipta untukku, mensyaratkan perpisahan akannjadi bagian kita. Sebelum kau tahu yang kutahu tentabg hal yang kutahu. Aku berusaha menjadi sosok yang berarti bagimu.

Aku memerankan hal yang berat, perlahan aku berlari bahkan detik tak dapat mengejarku. Aku berjalan ke setiap destinasi yang kita pernah lalui. Mencoba merenda lagi setiap kenangan yang pernah kita perankan. Bahkan jelas kau hadir meski hanya dalam ingatanku. Aku berteriak, mengutuk setiap kenangan yang seolah hanya beban bagimu.

Advertisement

Ya, mungkin kau bosan dengan caraku yang terlalu sering mengadu padamu. Tapi, aku tidak begitu di nyatanya aku kuat kala dunia mengusikku. Tapi kau memberi sejuta pandangan dan aku lunglai ketika di pelukmu.

Aku jadi tak berdaya. Untukmu pemilik rindu, ataupun itu aku. Aku berdiri di pinggir senja, menahan jingga yang manis namun kejam. Karang ini jadi pondasiku berpijak, namun aku tak kuat. Hangat pelukmu tetiba terbayang di seluruh sendiku. Dan gelap mengerogoti dengan angkuhnya seluruh aku. Boleh aku membeku. saja aku tidak ingin detik mengeja lagi setiap detil tentangmu. Ini bukan kerinduan, aku hanya mengingat hal manis tentangmu.

Aku tak berharap ini sampai padamu.