Ironi Nasib Satwa Karhutla jadi Korban, Diusir dan Mati demi Lahan Baru

Miris lihat satwa endemik yang terusir bahkan mati akibat karhutla. Bagaimana nasib mereka di masa depan?

Udah nggak bisa berkata-kata lagi kalau dengar kabar kebakaran hutan dan lahan yang massif terjadi. Apalagi setelah kepolisian resmi menetapkan tersangka pembakaran lahan di beberapa wilayah.

Fakta ini jujur bikin emosi kalau kita ngomongin nasib satwa karhutla yang jadi korban. Saat lahan hangus siap disulap untuk kepentingan ekonomi, para penghuni asli hutan justru harus menanggung dampak paling mengerikan dari kerusakan ekosistem ini.

Buat para satwa, terbakarnya hutan bikin ruang gerak dan jalur hidup mereka terputus total. Ujung-ujungnya mereka kelaparan, terdesak masuk permukiman atau bahkan kabur melintasi batas negara demi bertahan hidup. Inilah bukti nyata kalau mereka nggak cuma jadi korban bencana, tapi pelan-pelan diusir dari rumahnya sendiri.

Dampak karhutla di tanah gambut: dari ular terpanggang sampai trenggiling hangus

hipwee-Dampak karhutla di tanah gambut dari ular terpanggang sampai trenggiling hangus

Puluhan ular ditemukan terpanggang serta trenggiling yang jadi korban karhutla | Foto via BPBD Kobar, tribunpontianak

Bentuk nyata ironi ini terlihat langsung di lapangan saat api padam. Buat satwa yang geraknya lambat, jangankan berpikir untuk kabur melintasi batas negara, keluar dari sarang pun mereka sudah nggak sempat.

Tengok saja temuan bangkai induk ular python yang tubuhnya masih melingkari sarang demi melindungi telur-telurnya dari kepungan api. Gimana nggak jadi potret kelam nasib satwa karhutla di tanah lahirnya sendiri?

Kisah serupa juga dialami trenggiling yang ditemukan tim Manggala Agni di Ketapang. Refleks alaminya yang menggulungkan badan saat terancam justru membuat satwa ini mati terpanggang di atas tanah gambut yang membara.

Begitu juga di Kotawaringin Timur, anakan burung mati massal di dalam sarang karena lemas menghirup asap pekat sebelum sempat belajar terbang. Kepulan asap yang mengepung cepat tersebut mempertegas betapa mengerikannya dampak kebakaran hutan buat penghuni asli rimba.

Cerita tragis orangutan yang terjebak kepungan asap

hipwee-Cerita tragis orangutan yang terjebak kepungan asap

Evakuasi orangutan oleh tim penyelamat akibat karhutla di Ketapang | Foto via kumparan Dok.Istimewa

Kisah memilukan di atas tadi baru sebagian penderitaan penghuni hutan. Buat orangutan yang bergantung pada pepohonan, karhutla adalah mimpi paling buruk. Saat pohon-pohon hangus, satwa endemik ini sering ditemukan pasrah di satu-satunya batang tersisa di tengah kepungan api.

Laporan tim penyelamat di Kalimantan memperlihatkan kondisi orangutan yang bikin nyesek. Berhari-hari terisolasi tanpa makanan bikin mereka kelaparan ekstrem, dehidrasi, hingga tersiksa ISPA akibat asap pekat.

Tim BKSDA dan relawan bahkan harus menembakkan obat bius demi mengevakuasi orangutan yang sudah kritis ke pusat rehabilitasi. Situasi itu memaksa orangutan dan satwa liar di sana mengambil jalur nekat.

Tanpa sisa makanan di rimba, mereka terpaksa turun ke tanah panas dan masuk ke kebun atau permukiman warga. Bahkan menurut pakar ekologi, sebagian satwa di perbatasan nekat berlari melintasi batas negara demi mencari rimba yang masih utuh.

Advertisements

Bukan cuma rumah yang hangus, nasib satwa karhutla ikut terancam

hipwee-Bukan cuma rumah yang hangus, masa depan populasi satwa ikut terancam

Kerusakan alam akibat karhuttla yang makin meluas | Foto via Antara/Nova Wahyudi

Dampak bencana jelas nggak berhenti ketika api sudah padam. Musnahnya ribuan hektar kekayaan hayati asli Indonesia bawa ancaman yang jauh lebih mengerikan. Realitas pahitnya, banyak spesies penghuni pedalaman rimba yang mungkin bakal punah duluan sebelum sempat kita ketahui keberadaannya.

Padahal, fauna endemik memegang peran vital sebagai pahlawan ekosistem, lho. Tanpa orangutan yang menyebarkan biji buah berkulit tebal atau burung yang menjaga populasi hama, struktur hutan alami nggak akan pernah bisa beregenerasi sendiri.

Saat sarang, telur dan anakan musnah terbakar, rantai generasi satwa endemik terputus seketika. Hilangnya para penjaga rimba jelas memicu bencana ekologis yang berbalik merugikan manusia.

Lahan gambut bakal kehilangan fungsinya sebagai penahan banjir dan penyerap karbon. Akhirnya apa? Kebakaran menahun perlahan mengikis satwa liar di Kalimantan sekaligus mengancam ekosistem tempat kita menumpang hidup. Nggak kepikiran sampai situ kah?

Pembakaran hutan demi bukan lahan tanpa peduli dampaknya

hipwee-Pembakaran hutan demi bukan lahan tanpa peduli dampaknya

Hilangnya ekosistem akibat pembakaran huta | Foto via Antara

Di tengah ancaman krisis ekologis yang begitu besar bagi masa depan kita, fakta bahwa kepolisian menetapkan tersangka kasus pembakaran lahan bikin makin gedeg. Makin jelas kalau musibah tahunan ini ada unsur kesengajaan demi pembukaan lahan secara instan.

Keberadaan para tersangka jadi bukti nyata krisis kepedulian yang sangat serius terhadap keselamatan lingkungan. Demi cara cepat dan murah untuk membuka lahan baru, aturan main dan kelestarian ekosistem ditabrak begitu saja.

Sangat memprihatinkan saat ambisi bisnis jangka pendek dianggap jauh lebih penting daripada ekosistem yang butuh waktu puluhan tahun untuk pulih. Tapi, siapa peduli kan?

Tragis banget melihat nasib satwa karhutla yang jadi korban harus bertaruh nyawa kalah begitu saja oleh kepentingan ekonomi. Saat mereka terancam dan diusir dari rumahnya sendiri, tanah bekas kebakaran justru mendadak siap dialihfungsikan tanpa memikirkan pemulihan ruang hidup penghuni aslinya. Miris!

Terus, apa yang bisa kita lakukan?

Nasib satwa karhutla

Jaga dan lindungi hutan sebagai bentuk kepedulian | Foto via YIARI

Kalau musibah ini memang permainan oknum dan pemilik modal besar, jujur orang kecil kayak kita tentu bingung mau melawan lewat mana. Tapi bukan berarti kita cuma bisa pasrah nonton rumah mereka dihancurkan.

Walau nggak bisa turun langsung memadamkan api di lapangan, ada beberapa aksi nyata yang masih bisa kita lakukan:

  1. Terus kawal isunya
    Jangan biarkan perhatian publik reda begitu aja setelah masa viralnya habis. Bagikan terus informasi dan edukasi soal nasib satwa karhutla yang jadi korban biar topik keselamatan lingkungan ini nggak gampang tenggelam.
  2. Donasi ke NGO atau lembaga lingkungan
    Kalau ada rezeki lebih, salurkan ke organisasi konservasi yang terpercaya. Dana ini kepakai banget buat bantu biaya operasional relawan, tim medis, sampai proses evakuasi satwa di lapangan.
  3. Ikut program adopsi orangutan
    Bukan berarti bawa hewannya pulang ke rumah, ya! Lewat program ini, kita ikut patungan rutin buat membiayai nutrisi, perawatan medis, dan rehabilitasi korban karhutla sampai mereka siap dilepasliarkan lagi.
  4. Dukung gerakan adopsi pohon
    Buat dampak jangka panjang, kita bisa ikut program reboisasi resmi yang fokus mengembalikan fungsi dan ekosistem hutan lindung maupun asli.

Dukungan sekecil apa pun dari kita itu berarti banget buat mereka. Kita nggak mau kan beberapa tahun ke depan sama sekali nggak bisa lihat hewan-hewan itu?

Yah, nggak tau sih kalau memang ada kepentingan yang lebih suka lihat sawit daripada hutan. Bisa jadi buat mereka, hitung-hitungan angka di atas kertas memang jauh lebih menarik dibanding nyawa para satwa.

Padahal kan, di bumi ini kita sama-sama numpang. Kenapa sih nggak saling bantu merawat tempat kita hidup? Lagi pula, apa iya kebakaran hutan di Indonesia cuma karena musim kemarau?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Part time - Content Writer, Copywriter, Editor Buku, dan Penulis. Full time - menghabiskan waktu dengan para kucing, nonton drama maupun film.

Editor

Part time - Content Writer, Copywriter, Editor Buku, dan Penulis. Full time - menghabiskan waktu dengan para kucing, nonton drama maupun film.