Jika yang kalian lakukan itu, tindakan kekejian dan kebiadaban itu, untuk menebar dan mencipta ketakutan, maka sungguh, tanpa kalian melakukan itu semua aku sudah sangat takut.

Aku takut bukan karena kebiadaban yang kalian lakukan itu. Bahkan andai di dunia ini kalian tak ada pun aku tetap takut.

Advertisement

Aku sungguh takut jika kita sudah tidak saling peduli, kehilangan semangat dan esensi silaturahim, masing-masing merasa paling benar sendiri dan begitu enteng menyalah-nyalahkan orang lain, bahkan bangga jika telah menganggap sesat lainnya.

Aku sungguh takut jika kita sudah tidak lagi memiliki kepekaan, hingga pada diri sendiri kita tak kenal lagi. Kita asik dan terbuai dengan propaganda-propaganda duniawi, lalu dunia menjadi tujuan. Materi menjadi tujuan nomor satu, ketenaran menjadi tujuan nomor dua dan Tuhan menjadi sangat tersier. Puasa kita, peci-jubah-surban-gamis-kerudung kita, derma dan amal sedekah kita, acara-acara televisi yang dibungkus kata Islami, semata untuk agar orang menganggap kami soleh. Anggapan itu lebih penting dari apapun.

Aku sungguh takut manakala kita telah kehilangan kedaulatan atas diri kita sendiri. Ketika kita tak lagi punya hak dan kuasa untuk memutuskan segala sesuatu di hidup kami masing-masing. Hidup kita, kehendak kita, pemenuhan kebutuhan kita, disetir oleh 'mereka' sepenuhnya, kita hanya menjadi komoditas industri. Dan kita malah menikmatinya dengan sukacita.

Advertisement

Aku sungguh takut bila kita telah kehilangan tuntunan, maka yang kita tonton setiap hari itulah yang menjadi tuntunan kita. Sementara setiap hari, setiap saat, 'mereka' mempertontonkan kedengkian, sumpah serapah, tudingan kebencian, hura-hura dan kemegahan dunia yang penuh tipu daya, serta gelegak syahwat untuk berkuasa.

Setiap saat itu semua menyusup di rumah dan di kamar kita, melalui 'senjata pemusnah masal' bagi kesadaran dan kewarasan kita yang bernama teknologi-informasi. Ketika kita dan anak-anak generasi penerus kita sudah tak kokoh lagi memegang nilai-nilai, bayangkan apa yang bakal terjadi…

Aku sungguh takut ketika kita sudah tidak mampu lagi membedakan mana yang imitasi dan mana yang sejati. Lantas kita sibuk membangun citra diri, kita sibuk menampilkan sesuatu yang terlihat wah. Apapun akan kita lakukan hanya untuk mendapat "like" sebanyak-banyaknya. Aku takut jika keberhasilan hidup kita bukan lagi diukur dari seberapa besar manfaat hidup kita bagi sesama, tapi lebih ditentukan oleh "trending topic" dan hasil survey.

Aku sungguh takut kita (sering) lupa, bahwa yang esensi, yang sejati, justru tak tampak oleh mata kita. Dan yang tampak oleh mata kita hanyalah kulit, bungkus. Tapi kami menjadi begitu menyukai bungkus katimbang isinya. Yang primer jadi sekunder, yang sekunder kita primer-primerkan dengan alasan, dalil dan cara apapun.

Maka apapun yang tampak bagus, kita sanjung, tanpa reserve! Kita puja-puja ia seolah ia telah menjelma Tuhan dalam hidup kita. Betapa cemburunya Tuhan yang sejati.

Aku sungguh takut melihat perilaku kita yang begitu sibuk melakukan pencitraan: kebohongan yang kita lakukan dengan cara yang santun menurut kita. Kita rajin dan getol menampilkan diri yang bukan diri kita sendiri. Hingga kita semakin jauh dari kesejatian kita dan menjadi begitu dekat-lekat dengan kepalsuan dan kebohongan.

Maka hidup kita penuh kepura-puraan. Senyum kita hanya pura-pura, kebaikan dan kedermawanan kita hanya pura-pura, kecendekiawanan kita hanya pura-pura, kenegarawanan kita hanya pura-pura, kealiman dan kesalihan kita hanya pura-pura, kebahagiaan kita pun hanya pura-pura. Dan kita justru merayakan kepura-puraan itu.

Aku sungguh takut ketika kita sudah lupa (dan melupakan) sejarah asal muasal kita. Ketika kita kehilangan obor masa lalu, kita akan terbata-bata dan gagap membaca masa depan. Kita terperangkap dalam keruh, cetek dan sempitnya akal pikiran dan hati kita, hingga kita menjadi linglung tidak paham apa yang kita lakukan, tidak mengerti apa yang harus kita perbuat, tidak menginsyafi apa dan di mana tujuan sejati dari langkah hidup kita.

Aku sungguh takut jika kita menghadap dan bergerak bukan ke "kiblat" yang sama, kita akan saling berbenturan satu-sama lain, sikut-sikutan, jegal menjegal dan saling injak-injak. Tidak ada lagi kesadaran untuk saling mengingatkan pada kebenaran-kebenaran, tak ada lagi kemauan untuk saling menasihatkan dan menguatkan dalam kesabaran.

Kita tidak memiliki (atau mungkin salah memilih) pandu, penuntun yang paham arah dan tujuan, yang mengerti arti amanah, yang peka terhadap gejala-gejala alam, yang sensitif terhadap derita umatnya.

Aku sungguh takut hatiku tak bergetar, jiwaku tak gemetar, ketika ayat-ayat Tuhan dan kekasih-Nya disebut-sebut. Aku sungguh takut manakala tak mampu mengkonversi setiap rahmatNya menjadi keberkahan bagi sesama. Aku takut tekor, tatkala waktu hidupku minim manfaat dan berlimpah mudarat. Aku takut mati tanpa martabat, dan kematian yang bermartabat adalah mati khusnul khotimah.

Selama setiap yang aku lakukan masih memiliki potensi murkanya Allah, aku sungguh takut…

(Alhabi)

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya