Presiden Jokowi sejak masa kampanye, terpilih, lalu diangkat menjadi presiden selalu menggemborkan Indonesia akan diarahkan sebagai Poros maritim. namun nampaknya itu hanya slogan-slogan belaka. janji Indonesia menjadi poros maritim Dunia tidak didukung dengan adanya kebijakan-kebijakan yang terencana dengan baik. Contohnya mengenai Reklamasi.

Reklamasi pantai utara Jakarta menjadi perhatian besat para pemerhati dan akademisi Perikanan. kami selaku akademisi mengelus dada. Betapa lemahnya presidenku ini. Reklamasi yang jelas-jelas menutup mata pencaharian nelayan tetap di legalkan. ke depan masa depan nelayan-nelayan Muara Angke tinggal menghitung hari. Mereka angkat kaki atau tetap menetap di sana dan dapat dipastikan mereka akan terkapar, terdampar ke tempat yang lebih pinggiran lagi. Karena biadap yang sedang mereklamasi tak akan sampai mata jika terdapat pemandangan pemukiman kumuh nelayan di sana.

Pak Presiden, tolong dengarkan suara hati kami. Kami tidak bukan para pejabat yang rakus akan kekuasaan, kami bukan orang kaya yang rakus akan harta, dan kami bukan mereka yang ingin menguasai Indonesia. kami hanya seonggok daging tua yang ingin hidup sejahtera di Bumi Indonesia ini. Kami hidup di lingkungan kumuh kami tak protes. Karena kami tahu, engkau pasti akan malu padaku, iya kan?

Terakhir, jika berkenan ini ada oleh-oleh dari nelayan-nelayan Indonesia. Sebuah asa untuk jadi nyata.

"Untuk Presiden ku"

Advertisement

Aku tahu, aku adalah nelayan

pekerjaanku melaut, bersahabat dengan ombak, bercumbu dengan dinginnya angin laut

mungkin engkau jarang merasakan hal ini?

Aku nelayan? Lautku mana? Birunya lautku, kini jadi coklat kehitam-hitaman pak

Sahabat kami telah marah pada kami, angin tak segan lagi menghampiri kami

kembalikan lautku pak, kembalikan sahabat kami…

Ini seharusnya menjadi perhatian bagi kita, bahwa orang kecil hanya berfikir bagaimana dia hari ini? Apa makanan hari ini?

Tapi banyak orang yang besar, kaya, pintar berkata "Halahh. Kumuh sekali kampung ini, sulit diatur orang-orangnya, lebih baik saya gusur saya jadikan kota yang Indah untuk dihuni, masa Jakarta kaya gini, Ibu Kota tapi masih banyak tempat kumuh."

Sebenarnya kunci satu Presidenku, "Aku ingin kamu mencerdaskanku, dengan cara yang baik-baik bukan seperti ini adanya. Mereka menghakimiku, mengambil sahabatku"

Tolong Presidenku , berkenan mendengarkan, suara hatiku ini…